Puluhan Guru di Desa Cipetung Dilatih Sekolah Anggaran

Sekolah Anggaran oleh Fitra di Desa Cipetung Kecamatan Paguyangan (Dok SH)


Cipetung (suarapaguyangan.site)-Bertempat di gedung paud Desa Cipetung, Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes diadakan pelatihan penganggaran dan pengalokasian Dana Desa (DD), dengan acuan adalah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Des).

Acara di hadiri Kepala Desa Kusyati, Hery August Distrik Koordinator, Sutarko Ketua PTPD Kecamatan Paguyangan, CO Vera Sinta dan Umroh, Bani selaku Admin, unsur Pemdes, BPD, KPMD, LPM, Bidan Desa, Kader Posyandu, Selapanan, Guru Paud, Tokoh Pemuda dan PKK.

Hery August mengatakan, penganggaran dan pengalokasian dana di desa adalah wewenang Kades, alur penyusunanya adalah dari Musdus (musyawarah dusun) di lanjutkan ke Musdes (musyawarah desa), dan harus melibatkan lintas sektoral.

" Petani, pedagang, difabel, perempuan miskin dan tokoh masyarakat dan tentunya sebagai Tim Penyusun harus di anggarkan di Dana Desa (DD)," katanya, Kamis (19/9/2019) kemarin. 

Tambah Agus, akuntabilitas sosial harus selalu di gerakkan, inklusif yang artinya merangkum atau merangkul seluruh kegiatan, dan responsif gender sama dengan ada keadilan sosial antara laki laki dan perempuan.

Sementara itu, Kepala PTPD Kecamatan Paguyangan Sutarko menegaskan, musdus adalah musyawarah dusun,atau bentuk lainya sesuai kondisi lokal desa, di lakukan secara partisipatif, demokratis, transparansi, akuntabel, responsif gender dan inklusif.

Inklusif di sini terutama merangkul,anak anak,perempuan miskin, difabel dan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). 

Kegiatan ini didukung oleh Seknas Fitra melalui program yang akan merangkul desa lebih dekat lagi, dan lebih transparan.

Kontributor Suharti 

Related Posts:

12 Desa di Kecamatan Paguyangan Gelar Rembug Stunting

Rembug Stunting Desa di Kecamatan Paguyangan (Dok. NK)



Paguyangan (suarapaguyangan.site) - Dulu, kita beranggapan kalau setiap perawakan seseorang itu biasa biasa saja, tidak ada masalah, yang penting sehat. Namun di jaman sekarang, seorang anak yang terlahir dan kemudian tumbuh lebih pendek dibanding usia sebenarnya, ternyata cukup bermasalah, karena dikhawatirkan anak tersebut menderita stunting. 

Anak yang berpredikat stunting maka kemampuan otak dalam berpikir akan berkurang, sehingga nantinya akan tumbuh menjadi anak-anak yang kurang cerdas dan kwalitas sumber daya manusia secara otomatis akan menurun. Dan menurut beberapa Bidan Desa, ternyata di Kecamatan Paguyangan masih banyak anak-anak yang menderita stunting.

Hal tersebut yang kemudian mendorong Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) Kecamatan Paguyangan untuk dapat bergerak cepat, bagaimana cara membantu agar masalah stunting dapat dituntaskan. Maka dibentuklah Rumah Desa Sehat (RDS) yang terbentuk di 12 Desa di Kecamatan Paguyangan, diantaranya Desa Ragatunjung, Taraban, Kretek, Cilibur, Pandan Sari, Wanatirta, Paguyangan, Cipetung, Kedungoleng, Winduaji, Pagojengan, dan Pakujati.

Basudin BA, selaku Ketua TPID mengatakan maksud dan tujuan dikukuhkannya pembentukan RDS di setiap Desa, di Kecamatan Paguyangan.

"Rumah Desa Sehat (RDS), merupakan suatu wadah yang didalamnya terdapat suatu struktur organisasi yang terdiri dari beberapa unsur masyarakat, diantaranya Kader Pembangunan Desa (KPM), Biden Desa, Kader Posyandu, Kader Paud, PKK maupun Selapanan. Kelompok tersebut nantinya akan bekerja, melaporkan setiap permasalahan yang ada di desa, terutama yang berkenaan dengan kesehatan, diantaranya masslah jamban dan stunting, yang nantinya akan menjadi usulan-usulan sebagai solusi dari masalah tersebut, dan usulan usulan tersebut akan di bawa ke Musyawarah Desa (Musdes)," jelas Basudin pada pembentukan salah satu RDS di Desa Paguyangan, Rabu ( 18/9).

Kepala Desa Paguyangan, Faqih Maulana, SH menerima baik adanya program baru dari Dinpermades Kabupaten tersebut.

"Adanya masalah stunting di Kecamatan Paguyangan, adalah suatu keprihatinan bagi kita, namun janganlah itu menjadi suatu aib, jadikan itu sebagai masalah yang harus kita sikapi bersama, bagaimana caranya agar kita bisa menjadi desa yang maju, dan bebas stunting," jelas Faqih.

Dalam rembug stunting tersebut dihadirkan pula Bidan Desa, untuk menjelaskan masalah stunting, mulai dari ciri-ciri, penyebab, sampai penanganan anak Stunting.

"Stunting adalah kondisi dimana tinggi badan anak tidak sesuai dengan tinggi badan anak pada umumnya. Stunting di sebabkan oleh pola asuh, pola makan, dan sanitasi yang kurang memadai. Adapun penanganannya dengan cara memperhatikan pola asuh anak, makan yang bergizi dan seimbang, serta menjaga kebersihan lingkungan terutama jamban.(NK)

Related Posts:

FITRA Latih Sekolah Anggaran Bagi Warga


Sekolah Anggaran doc NK


Kedungoleng (suarapaguyangan.site) - Sebanyak 30 peserta, yang terdiri dari kelompok perempuan Desa Kedungoleng, Kecamatan Paguyangan, Kamis(12/9) lalu mengadakan pertemuan di Aula Balai Desa Kedungoleng. 

Mereka menghadiri undangan yang diselenggarakan oleh Forum Indonesia Untuk Transparasi Anggaran, atau yang disingkat dengan istilah FITRA. Program tersebut merupakan program perdana yang diluncurkan oleh FITRA bekerjasama dengan Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan Kesejahteraan (KOMPAK).

Herry Agus, selaku Koordinator Fitra, beserta rekan-rekan mengutarakan maksud dan tujuan mengadakan pertemuan tersebut diantaranya akan melakukan kegiatan sekolah anggaran desa dan sekaligus melakukan penguatan terhadap lembaga Badan Permusyawaratan Desa (BPD) yang dinilai masih lemah.

"Program perdana yang kami luncurkan ini bertujuan untuk mendorong transparansi, sekaligus peran masyarakat dalam ikut serta mengelola Dana Desa, serta memaksimalkan fungsi BPD dalam bidang perencanaan anggaran, sebagai penampung dan penyalur aspirasi masyarakat," jelas Herry Agus.

Pendamping Lokal Desa Kedungoleng (PLD), Amirudin menambahkan, Sekolah Anggaran Desa dilaksanakan di tiga desa di Kecamatan Paguyangan yang kembali menjadi "piloting project" atau desa percontohan setelah sebelumnya juga menjadi desa percontohan dalam pembentukan kelompok Selapanan tahun lalu, yaitu Cipetung, Wanatirta, dan Kedungoleng.

Amirudin juga menambahkan, sebelum dilaksanakan kegiatan sekolah anggaran desa, kita harus tahu apa perbedaan dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dengan Rencana Kerja Pemerintah (RKP).

"RPJM, dilakukan setiap enam tahun sekali dan dilakukan pada saat pelantikan Kepala Desa baru. Sedangkan RKP dilakukan setiap satu tahun sekali, di mana setiap usulan usulan warga akan ditampung dan digodok oleh tim sebelas yang nantinya apabila disetujui akan menjadi usulan yang terealisasi di tahun berikutnya," jelas Amirudin.

Sumarni (40), salah satu perwakilan Kelompok perempuan merasa senang karena kegiatan dari Sekolah Anggaran Desa tersebut tidak jauh berbeda dengan kegiatan sebelumnya.

"Alhamdulillah, ternyata pemberdayaan masyarakat, terutama yang menyangkut kaum perempuan terus menerus digalakkan, sehingga kami bisa berperan aktif dalam setiap kegiatan di desa," Imbuh Sumarni.(NK).

Related Posts:

Desa Wanatirta siap sukseskan Sekolah Anggaran

Doc. Sekolah Anggaran Desa

Wanatirta (suarapaguyangan.site)- Tim program Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Seknas FITRA) bekerja sama dengan Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan (KOMPAK) yang didukung oleh DFAT Australia di Indonesia melanjutkan kegiatan Sekolah Anggaran (Sekar) desa di balai desa Wanatirta, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, kamis (5/9) kemarin

Koordinator kabupaten Brebes, Herry August menyampaikan bahwa program ini dilaksanakan di tiga desa dampingan, yaitu Deda Cipetung, Wanatirta dan Kedungoleng yang nantinya bisa diimplementasikan ke desa lain di Kabuoaten Brebes sehingga semua akan menjadi desa melek anggaran.

"Pada program ini akan ada penguatan mutu Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sehingga bisa menjadi mitra pemerintahan desa dalam pembuatan anggaran dan program yang bermanfaat untuk kemajuan desa," tegas Agus.

Selanjutnya Kepala Desa Wanatirta, Lukman Hakim sangat mendukung program ini.

"Dengan adanya kegiatan semacam ini kami sangat mendukung  lebih terbuka terkait anggaran dan melek anggaran untuk semua kelembagaan yang ada di desa karena pemerintah desa tidak bisa kerja sendiri, tapi butuh semua elemen bergerak agar target pembangunan sumber daya manusia dan sumber daya alam di desa bisa didayagunakan dan dikembangkan guna menuju Wnatirta lebih maju di masa mendatang" ungkap Lukman.

Pendamping desa Masudin Ibnu Nu'mar mengatakan, kegiatan ini selain memberikan pemahaman tentang rencana anggaran juga diharapkan BPD dan tim yang terkait mengerti langkah pembuatannya sehingga akan tercapai inklusif dan responsif gender didalamnya.

Dari kelompok selapanan Mukmin merasa senang

"Saya senang adanya program ini, karena masyarakat dapat terlibat sehingga bisa ikut menyumbangkan pendapat yang menjadi ganjalan warga selama ini. (VS)

Related Posts: