TAF kunjungi Jurnalis Warga Paguyangan

Foto JW bersama Mochamad Mustafa dari TAF


Wanatirta(suarapaguyangan.com)- Salah satu perwakilan dari The Asia Foundation (TAF) Jakarta kunjungi Desa Wanatirta Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes untuk bertemu dengan Jurnalis Warga di Aula Desa Wanatirta, Kamis (29/3).

Mochamad Mustafa  Program Manager for Democracy and Governance, The Asia Foundation Jakarta saat bertemu Jurnalis Warga (JW) di balaidesa Wanatirta mengatakan, kunjungan kali ini untuk study kasus desa-desa dimana warga mulai berdaya dan terlibat dalam pembangunan desa.

" Saya sedang melakukan studi kasus desa-desa di mana warga mulai berdaya dan terlibat dalam pembangunan desa, khususnya keberadaan Jurnalis Warga (JW) dan kelompok warga yang mempengaruhi kebijakan dan pemerintah Desa untuk lebih memperbaiki layanan dasar warganya," katanya.

Mustafa juga menambahkan, Desa Wanatirta merupakan contoh di mana adanya warga yang berdaya merupakan prasyarat untuk membangun desa.

" Peran mereka sebagai aktor kritis dengan kemampuan untuk memberi solusi konkrit sangat penting dalam memastikan akuntabilitas sosial pemerintah desa. Peran JW misalnya, mereka berkontribusi menemu kenali berbagai permasalah mendasar yang sering kali kurang terperhatikan seperti isu disabilitas dan anak putus sekolah," tambahnya.

Lidia Alfi jurnalis warga wanatirta mengaku senang dengan kedatangan TAF ke Desa Wanatirta.

" Saya senang sekali bisa bertemu dengan salah satu perwakilan dari TAF Jakarta, selain mendapat ilmu juga berbagi cerita  tentang pemberitaan yang selama ini di buat oleh JW termasuk berita- berita yang story of change (SOC)," ungkapnya. (LA/AA)

Related Posts:

Forum Selapanan Datangi Dinkes Dan Dindikpora Kabupaten Brebes

Forum Selapanan saat audiensi dengan Dinkes

Brebes (suarapaguyangan.com) - Forum selapanan dari tiga desa intervensi program Forum Masyarakat Sipil (Formasi) yang bekerjasama dengan The Asia foundation (TAF) dan Kompak mendatangi Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Brebes untuk melakukan audiensi terkait hasil monitoring kolaboratif, Senin (26/3).

Koordinator Formasi Kabupaten Brebes Herry August mengatakan, forum selapanan ini akan melakukan audiensi terkait dengan hasil monitoring kolaboratif agar mendapat jawaban dari dinas terkait.

"Forum selapanan 3 desa intervensi yaitu Desa Cipetung, Wanatirta dan Kedungoleng Kecamatan Paguyangan, telah melakukan monitoring kolaboratif pada tanggal 6 Februari kemarin, dan hasil dari temuan monitoring kolaboratif tersebut disampaikan pada saat audiensi hari ini," katanya.

Salah seorang perwakilan Forum Selapanan Desa Cipetung, Suharti saat audiensi dengan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes, mengatakan hasil monitoring di SMP Negeri 3 Paguyangan, serta minta agar SD Negeri di desanya untuk kelas 1 dan kelas 2 dipisah, dan tidak digabung.

"Saya berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes bisa menambah guru kelas karena masih ada guru yang mengajar lebih dari satu mata pelajaran, serta menambah jamban untuk siswa dan mewujudkan 1 ruang kelas baru agar kelas 1 dan kelas 2 di SD Negeri Cipetung terpisah tidak menjadi satu kelas," ujarnya.

Kepala Dindikpora Dr. Tahroni, M.Pd langsung merespon permintaan mereka. Tahroni mengatakan, Kabupaten Brebes memang kekurangan guru. Hal itu karena banyaknya guru yang sudah pensiun, dan hal tersebut sudah di ajukan ke Kementrian PAN dan RB namun sampai saat ini belum bisa direalisasikan.

“Sedangkan untuk jamban, idealnya 1 jamban itu 40 siswa, jika ada 500 siswa disekolah tersebut maka tinggal dibagi 40. Untuk ruang kelas baru, segera bikin proposalnya akan kita prioritaskan tahun depan," katanya.

Sementara itu, salah seorang perwakilan selapanan, Trismiati saat audiensi di Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes menyampaikan hasil monitoring di Puskesmas Winduaji, tentang kurangnya dokter gigi dan alat USG kehamilan.

"Kami berharap Dinas Kesehatan bisa menambah dokter gigi di puskesmas serta alat untuk USG kehamilan, sehingga untuk ibu hamil bisa USG di Puskesmas Winduaji," katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Brebes dr. Sri Gunadi Parwoko, M.Kes langsung menanggapi pertanyaan yang disampaikan oleh tim selapanan hasil monitoring kolaboratif. Ia mengatakan, Jumlah dokter gigi baru 10 orang dari 38 puskesmas. Pihaknya sudah berupaya untuk menggandeng dokter gigi swasta supaya bisa mengisi di puskesmas.

“Untuk USG memang belum ada, saat ini yang ada baru di Bumiayu, kedepan kita usahakan," pungkasnya. (AA/EF)

Related Posts:

Pembentukan Forum Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP) Desa Kedungoleng

Pembentukan FMPP Desa Kedungoleng- foto Nurkhasanah


Kedungoleng-suarapaguyangan.com-Mengingat masih banyak anak anak usia sekolah yang ternyata tidak bisa meneruskan sekolahnya, dengan mayoritas alasan yang sama, yakni kesulitan biaya.hal itulah yang menngerakkan pemerintah Kabupaten untuk menuntaskan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.Selain itu juga untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Brebes khususnya bidang pendidikan, maka perlu dibentuk Forum Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP).

Bahrul Ulum, S.Msi, selaku ketua FMPP Kabupaten Brebes menerangkan tata cara pembentukan FMPP, baik dari tingkat Kabupaten, Kecamatan, maupun Kelurahan.

"Mengenai target dari kegiatan ini adalah semua desa mempunyai FMPP, outputnya ada di Surat Keputusan (SK) yang ditandatangani oleh Kepala Desa.FMPP untuk desa, maka SK nya dari desa, demikian juga SK Kecamatan, maupun Kabupaten, sesuai dengan tempat FMPP tersebut dibentuk," terang Bahrul.

"Dalam SK tersebut, tercantum tugas tugas dari pengurus maupun anggota.diantaranya ada yang bertugas di bidang verifikasi data, bidang penggalangan dana, bidang pengembalian anak sekolah, maupun bidang pendampingan anak.semuanya bekerja sesuai dengan tupoksi masing masing bidang," terangnya lagi.

Salim, selaku Kepala Desa Kedungoleng berharap dengan adanya pembentukan FMPP akan dapat berperan ikut membantu menuntaskan  wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun dan dapat meningkatkan IPM di kabupaten.

"Saya berharap, dengan adanya pembentukan FMPP ini, akan sangat membantu pemerintah kabupaten dalam rangka menuntaskan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun, sekaligus dapat meningkatkan IPM, khususnya dibidang pendidikan," pungkas Salim.

Acara FMPP dilaksanakan di aula balai desa kedungoleng, dengan dihadiri oleh perangkat desa, BPD, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, dan tokoh pemuda, senin(26/3). ( NK)

Related Posts:

Pembentukan FMPP Desa Pagojengan

Pembentukan FMPP Desa Pagojengan- foto Mardiana

Pagojengan(suarapaguyangan.com) sesuai amanat Peraturan Bupati nomor 115 tahun 2017 Kabupaten Brebes tuntas wajar pendidikan dasar 12 tahun, sehingga pemerintah Desa Pagojengan dan desa yang lain harus gencar menuntaskan program pendidikan dasar 12 tahun.

Disampaikan Warun, S.Pd, M.Pd selaku Kepala Pendidikan dan Pemuda Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Brebes dalam acara Pembentukan Forum Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP) di Balaidesa Pagojengan Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes, Selasa(20/3).

Warun juga menambahkan syarat yang diajukan untuk mencari pekerjaan untuk sekarang ini minimal Sekolah Menengah Atas (SMA) maka desa di bentuk wadah untuk menghindarkan generasi muda yang lemah dan tertinggal supaya kuat dan mampu bersaing melalui Forum Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP) untuk Gerakan Kembali Bersekolah (GKB)," tambahannya.

Sutarko Kepala Desa Pagojengan mengatakan, sudah ada 23 anak yang sudah dikembalikan ke sekolah.

" Untuk Desa  Pagojengan dari 23 ansk yang dikembalikan kesekolah, ada 22 anak masuk di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat ( PKBM) Al Himmah Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes dan 1 anak di SMK Muhammadiyah Paguyangan," katanya.

Nuryati(35) perwakilan  dari PKK Desa Pagojengan mengaku senang  dengan dibentuknya FMPP Desa pagojengan.

"Saya senang dengan terbentuknya FMPP desa Pagojengan, semoga bisa mengentaskan anak putus sekolah yang berjumlah 117 anak dari data Sistem Informasi Pembangunan BerbasisMasyarakat (SIPBM) bisa bersekolah kembali," ungkapnya.

Dalam pembentukkan FMPP Desa Pagojengan,  terpilih sebagai ketua Ari Sulistyaningsih S. Pd, sekretaris Aulia Santi, bendahara Hj. Ulfa, S. Pd. Sedangkan sebagai pelindung adalah Pj kades desa Pagojengan Drs Sutarko, dan untuk pembinaan dari BPD Kasan Khariri S. Pd.(MD)

Related Posts:

Limbah Bungkus Kopi Jadi Primadona

Hasil kreasi dari bungkus kopi- foto Nurkhasanah

Kedungoleng(suarapaguyangan.com)-Bungkus kopi, yang biasanya dibuang ditempat sampah sebagai barang yang tidak berguna, namun sekarang ini, keberadaannya semakin dilirik oleh tangan tangan kreatif, salah satunya Mella(25).kekosongannya belum dikaruniai momongan setelah berumahtangga, membuatnya mempunyai ide kreatif tersebut, disamping juga untuk mengurangi banyaknya sampah sampah plastik yang tentunya lambat laun akan berpengaruh pada kesehatan manusia.

"Setiap hari, selalu ada bungkus kopi yang berserakan di rumah. Berawal dari situlah timbul niat saya, kenapa bungkus bungkus kopi tersebut tidak dimanfaatkan, misal untuk dibuat tas, keranjang, atau dompet. Awalnya memang coba coba, tetapi setelah dilakukan ternyata hasilnya cukup memuaskan, pesanan baik dari teman, tetangga ternyata lumayan banyak," ungkap Mella.

Tentang waktu pembuatan, dari bungkus kopi sampai menjadi barang, mella mengungkapkan tergantung besar kecilnya barang, demikian pula mengenai harga.

"Untuk tas justru 1 hari pun jadi, untuk jenis dompet lebih kecil, tapi lebih rumit, bisa sampai 2 hari.Mengenai harga, untuk tas muatan beras 5 kilogram, harga berkisar Rp 60.000,-/buah, dan untuk dompet harga berkisar Rp 25.000,-/buah," terangnya.

Mengenai darimana bungkus bungkus kopi tersebut di datangkan, karena banyaknya pesanan, Mella menambahkan bungkus bungkus kopi tersebut didatangkan dari warga sekitar.

"Bersyukur, para tetangga maupun saudara rela mengumpulkan bungkus bungkus kopi tersebut, dan alhamdulillah hasil dari bungkus bungkus kopi yang sudah berupa barang tersebut, hasilnya bisa untuk tambahan belanja, disamping saya bisa berbagi dengan orang lain.Selain itu juga saya merasa sudah berbuat kebaikan, paling tidak dapat mengurangi sampah di dusun kami," pungkas Mella, saat Jurnalis Warga (JW) mendatangi rumahnya, Sabtu (10/3).NK

Related Posts:

Berharap Kursi Roda Sebagai Penopang Tubuh

Afifah saat dirumah- foto Nurkhasanah


Kedungoleng-(suarapaguyangan.com)-Afifah, itulah nama panggilan sehari hari yang sering terdengar dari warga sekitar. Nama lengkapnya Afifah khoerunissa, lahir pada tanggal 24 September 2012, adalah pasangan dari Dakam Masturo (54) dan Toyati (45). Keluarga sederhana ini tinggal di Dukuh Cipanas, RT 005/RW 003 Kelurahan Kedungoleng.

Toyati, sebagai seorang ibu, merasa sangat sedih dengan keadaan Afifah yang setiap hari tidak bisa melakukan apa apa selain berbaring dan berbaring. Ayah Afifah, Dakam masturo adalah seorang pekerja perantauan di ibukota, jarang sekali pulang kampung, sehingga sehari hari, Toyati-lah yang mengurus Afifah.

"Semenjak lahir, Afifah terlihat normal layaknya bayi pada umumnya.Kejanggalan mulai kami rasakan pada saat anak anak seumuran dia sudah bisa merangkak, duduk, bahkan berdiri, tapi Afifah kok masih berbaring saja," kenang Toyati.

"Usianya saat ini sudah mau 6 tahun, sudah saatnya harus bersekolah, tapi apakah dia mampu dengan keadaannya yang seperti ini untuk sekolah?karena organ tubuh lain pun ikut terganggu, dia sulit untuk bicara," ungkapnya lagi.

Saat ditemui Jurnalis Warga di kediamannya, Rabu (7/3), Toyati mengatakan saat ini ia sangat membutuhkan kursi roda untuk menopang tubuh Afifah.

"Saya sangat berharap sekali, ada orang yang mau berbelas hati, membantu beban kami memberikan kursi roda untuk Afifah, agar hari harinya tidak selalu diisi dengan berbaring," harap Toyati.

Masih ditambahkan Toyati, bahkan keinginannya yang teramat sangat dalam benaknya untuk membelikan kursi roda untuk Afifah, ia rela kalau harus menjual sepeda motor bututnya, walaupun ia masih dalam kebingungan, karena motor butut tersebut juga sebagai mata pencaharian disaat suaminya di rumah.(NK)

Related Posts:

Kepala Desa Kedungoleng Serahkan 37 Akta Kelahiran Hasil Verifikasi Tim Selapanan

Penyerahan Akta Kelahiran Kepada Tim Selapanan Desa Kedungoleng Kecamatan Paguyangan


Kedungoleng (suarapaguyangan.com) - Kepala Desa Kedungoleng Usman Salim menyerahkan 37 akta kelahiran kepada tim selapanan di aula Balai Desa Kedungoleng, pada acara Musyawarah Desa (Musdes) rabu (28/2).

Ke 37 akta kelahiran tersebut merupakan hasil dari verifikasi data Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat (SIPBM) tahun 2017 yang dilakukan oleh tim selapanan Desa Kedungoleng Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes.

Salim mengatakan, seluruh warga harus berperan aktif dalam pendataan akte kelahiran.

" Segenap warga Kedungoleng , mulai dari kadus 1 sampai kadus 4,  kami harap, mulai saat ini saling membantu baik untuk Rukun Tetangga (RT), maupun Rukun Warga (RW), tokoh masyarakat maupun tim selapanan, dalam memberikan informasi tentang anak anak yang belum memiliki akta kelahiran usia 0 sampai 18 tahun, agar mereka bisa segera memilikinya," tegas Salim.

Suratiningsih (38), merasa pekerjaannya tidak sia sia, terbukti dengan adanya 37 akte kelahiran yang sudah selesai dibuat, ia juga berharap masyarakat semakin sadar pentingnya sebuah akta kelahiran.

" Kami merasa senang akhirnya pekerjaan yang kami lakukan membuahkan hasil, kami memverifikasi data anak yang belum memiliki akta kelahiran, kemudian kami datangi dan kami sosialisasikan tentang syarat pembuatan dan pentingnya akta kelahiran, setelah semua syarat terpenuhi kami hubungi tim kecamatan, dan tim Dindukcapil kemudian membuatkan akta tersebut," ujarnya.

Ningsih juga menambahkan, semua kerja kerasnya karena kerja tim dan pihak lainnya yang telah membantu percepatan kepemilikan akta kelahiran di Desa Kedungoleng.

" Terimakasih kepada Dindukcapil, tim formasi, dan semua pihak yang terkait, mudah mudahan dengan adanya percepatan pemilikan akta kelahiran ini, akan semakin meningkatkan kesadaran warga tentang begitu pentingnya sebuah kebenaran tentang kelahiran seorang anak," pungkasnya. (NK)

Related Posts: