Delegasi Jumbara Rebut Prestasi

Kegiatan Jumbara PMI Kab. Brebes

Jatibarang-(suarapaguyangan.com)- Jumpa Bhakti Gembira, atau yang lebih dikenal dengan kata Jumbara, adalah suatu kegiatan rutin yang dilakukan oleh anggota Palang Merah Remaja (PMR) dari sejumlah daerah di Indonesia. Jumbara, diselenggarakan oleh Palang Merah Indonesia (PMI), dengan tujuan agar para anggota PMR, dari daerah mana saja, bisa saling bertegur sapa, bertukar ilmu, sekaligus bersilaturahmi antar anggota PMR di Indonesia.

Di Kabupaten Brebes tahun ini, jumbara dilaksanakan untuk yang ke 11 kali, bertempat di Desa Kebogadung, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes, dilaksanakan selama 2 hari, mulai dari hari Senin hingga Kamis (12-15/11). Kegiatan ini diikuti oleh 1200 peserta yang terdiri dari 23 kontingen wira (setingkat SLTA) dan 23 kontingen Madya (setingkat SMP), masing-masing kontingen terdiri dari 20 peserta (10 putra dan 10 putri) dan 3 orang pembina. 

Kegiatan ini dipimpin oleh Dharma Suheri, selaku Kepala SMPN 1 Brebes dengan melibatkan panitia yang diambil dari berbagai Korps Sukarela (KSR) unit kampus. KSR adalah kesatuan unit PMI yang menjadi wadah bagi anggota biasa dan perseorangan yang atas kesadaran sendiri menyatakan menjadi anggota KSR. 

Ketua PMI Cabang Brebes, Wahidin Soedja mengatakan,  jumbara ini sebagai ajang untuk mendidik anak-anak pelajar yang tergabung dalam Palang Merah Remaja (PMR) dari Wira, dan Madya untuk menjadi manusia yang tangguh khususnya dalam bidang kemanusiaan. 

"Beda dengan Pramuka, kalau Jumbara lebih spesifik karena didalamnya ada pertolongan  pertama (PP) pada musibah dan bencana alam, ada mitigasi bencana atau kesiapsiagaan menghadapi bencana,  dan di latih supaya hidup mandiri dengan berkemah," tegas Wahidin.

Kepanitiaan melibatkan KSR dari Kabupaten Brebes, Pemalang dan kendal untuk menjaga obyektifitas penilaian.

KSR Unit STIE Widya Manggalia Brebes, Veronika Firgie MK (23) mengatakan, baru pertama kali ikut dan dimintai bantuan sebagai pendamping juri,  sehingga merasakan senang karena bisa saling berbagi cerita, lebih banyak pengalaman dan kenalan dengan KSR dari lain daerah.

"Kegiatan ini menyenangkan sekali,  semangat PMR Widya dan Madya berlomba tidak kenal lelah, mereka juga saling mengenal satu sama lain, bertukar ilmu dan pengalaman, dan mereka belajar hidup secara sederhana dan mandiri," ujar Veronika.

Pimpinan Kontingen dari SMPN 1 Bumiayu, Hanandita Khoirunnisa Ajiputri (14) mengatakan,  jumbara merupakan salah satu penetapan dari Tri Bhakti PMR,
dimana dalam jumbara diajarkan agar setiap anggota harus selalu aktif, baik dalam perlombaan maupun persahabatan, karena dalam kegiatan jumbara,  setiap anggota diwajibkan untuk lebih mengenal antar kontingen, dan dalam perlombangan juga di tuntut lebih kreatif.

"Kita tidak boleh cepat merasa puas karena dapat mengikuti ataupun memenangkan perlombaan, namun lebih dari itu, kita diharapkan agar bisa ikut serta dalam kegiatan Jumbara di tingkat yang lebih tinggi, agar kemampuan dan pengetahuan kita bertambah luas, serta bisa belajar tentang filosofi hidup, bagaimana hakekat hidup yang sebenarnya," terangnya. (VSK)

Related Posts:

PMR SMPN 1 Bumiayu Pertahankan Piala Bergilir Jumbara

Keiatan Jumbara SMPN 1 Bumiayu


Jatibarang-(suarapaguyangan.com)-Teriknya lapangan Desa Kebogadung, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes tidak melelehkan semangat peserta Jumpa Bhakti Gembira (Jumbara) ke XI yang diadakan dari hari Senin hingga Kamis (12-15/11) oleh PMI Cabang Brebes.

Kegiatan ini melibatkan 23 kontingen Wira (setingkat SMA) dan 23 kontingen Madya (setingkat SMP), salah satunya adalah kontingen dari SMPN 1 Bumiayu yang 2 tahun kemarin meraih piala bergilir saat Jumbara ke X di Desa Kaligua, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes.

Salah satu pembina PMR M Izzat Ibrahim menyebutkan tim PMR mereka diberi julukan Emprit Squad, persiapan untuk jumbara dilakukan berbulan-bulan karena banyak lomba yang diadakan seperti Aksi Cepat Tanggap (ACT), kewirausahaan, paduan suara, speech contest, travelling dan banyak lagi, karena butuh usaha keras untuk bisa mempertahankan hasil yang sebelumnya.

"Anak-anak walau terlihat lelah dengan cuaca panas ini tapi mereka semangat karena mengikutinya dengan senang sehingga kami sebagai pembina tak kenal lelah mendampingi mereka," ujar Izzat.

Lingkungan kontingen SMPN 1 Bumiayu terlihat bersih dan rapi dengan menampilkan maket yang bertema pemekaran dan eko wisata, menyandingkan photoboth dan hiasan menarik sebagai penghias halaman kemah.

Ketua Satgas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Brebes, Rudi Setiawan menyampaikan dirinya ikut mendampingi memberikan pelatihan kepada anak-anak Emprit Squad dalam mengkonsep mental, materi terutama pertolongan pertama dan kedisiplinan.

"Pada jumbara sebelumnya SMPN 1 Bumiayu mendapat juara dan memegang piala bergilir, semoga sekarang anak-anak bersemangat agar bisa mempertahankan kemenangannya," ujar Rudi menambahkan.

Dalam upayanya agar bisa mempertahankan piala bergilir kontingen SMPN 1 Bumiayu menerapkan kedisiplinan yang tinggi baik di lingkungan perkemahan hingga urusan asupan demi menjaga kesehatan tubuh.

Salah satu peserta dari SMPN 1 Bumiayu Kelas 9, Khansa Ghaina Ainaya (14) berharap pada Jumbara kali ini bisa juara lagi, sehingga bisa mengikuti Jumbara ke tingkat yang lebih tinggi agar menambah pengalaman.

"Saya berharap Emprit Squad kompak semangatnya dalam setiap perlombaan agar pulang membawa hasil terbaik," tukas Khanza. (VSK)

Related Posts:

Dispermasdes Gelar PID di UMUS


Program Inovasi Desa di UMUS Brebes

Brebes-(suarapaguyangan.com)-Inovasi, merupakan suatu pembaharuan terhadap berbagai sumberdaya yang mempunyai manfaat lebih bagi manusia sehingga  memudahkan dalam memproduksi sesuatu yang berbeda.

Hal tersebut disampaikan oleh KH. Atoillah Syatori, Msi selaku wakil dari Sekretaris Daerah Kabupaten Brebes pada saat membacakan sambutan Bupati Brebes dalam acara Bursa Inovasi Desa, Selasa (13/11) kemarin bertempat di Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) Brebes.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Rofiq Qoidul Adzam, SH,  yang sekaligus membuka acara tersebut menyampaikan, Bursa Inovasi Desa adalah salah satu kegiatan dari Program Inovasi Desa (PID) dengan tujuan sebagai wahana untuk saling bertukar pengetahuan dan inovasi antar desa di Kabupaten Brebes.

"Program Inovasi Desa merupakan upaya pemerintah dengan tujuan untuk membangun Indonesia dari daerah tertinggal, memperkuat daerah dan desa, dalam rangka untuk mempererat persatuan," jelasnya.

"Dalam Bursa inovasi desa ini, masing masing Tim Penyusun Inovasi Desa (TPID) akan menyajikan inovasi inovasi di desanya baik dalam bidang ekonomi, pariwisata, maupun pertanian. Dengan harapan mereka dapat mereplikasi atau meniru apa yang dilihat yang nantinya dapat  diterapkan di desa sesuai dengan kebutuhan desanya," jelasnya lagi.

Acara yang dihadiri sekitar 1000 peserta dari puluhan Kecamatan dan Kelurahan di seluruh Kabupaten Brebes tersebut berlangsung cukup tertib. Peserta bergiliran mendatangi bursa A, bursa B, maupun bursa C, sesuai dengan peraturan yang telah ditentukan. Kecamatan Paguyangan menampilkan kegiatan di Obyek Wisata Tuk Pemali (Pemali Oasis Forest) yang terletak di Desa Winduaji Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes. (NK editor LA)

Related Posts:

Ratusan Siswa SMPN 2 Tonjong Belajar Permainan Tradisonal

Foto saat siswa-siswi bermain 


Tonjong (suarapaguyangan.com) - Suasana ceria dan gembira terlihat jelas pada wajah siswa siswi SMP Negeri 2 Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah saat mereka melakukan kegiatan belajar di luar kelas pada hari ini (1/11). 
Salah satu yang disukai mereka adalah saat mengikuti permainan tradisional seperti main karet, sunda manda/patahan/jangka, congklak dan gobak sodor.

Kegiatan yang dilaksanakan serentak tingkat internasional ini melibatkan seluruh guru, karyawan dan siswa yang ada di sekolah. Membaur menciptakan kebersamaan dan kegembiraan sebagai pembelajaran yang menyenangkan sehingga anak-anak merasa nyaman.

Salah satu guru Sugiarti Farikhatun, S.Pd. merasa ikut senang melihat permainan yang sudah jarang dipermainkan anak-anak jaman sekarang ternyata masih bisa dinikmati dengan kebersamaan hari ini.

"Permainan tradisional ini sangat bagus untuk meningkatkan motorik anak, lebih memotivasi kreatifitas anak jadi makin berkembang dan menjadikan mereka lebih baik lagi," ungkapnya.

salah seorang wali murid Slamet Maufudin(42) mengatakan, melihat anak-anak bermain karet, sunda manda/jangka, goback sodor dan congklak seperti kembali ke jaman dulu saat anak-anak kompak bermain bersama dengan bahagia.

"Kalau kegiatan di luar kelas dengan permainan ini sering dilakukan mungkin, membawa dampak baik pada pembelajaran anak di dalam kelas," tambahnya.

Hal senada juga dirasakan siswa Kelas 8 Cilvina dyah cahyaning ummah (14) mengungkapkan perasaan gembira karena antara siswa dan guru ada komunikasi yang bebas bisa tertawa bersama tidak di dalam kelas dan berharap kegiatan ini bisa dilaksanakan sebulan sekali agar anak-anak bisa sering merasakan kebahagiaan seperti ini. (VSK)

Related Posts:

Berikan Gizi Seimbang dan ASI Ekslusif Untuk Cegah Stunting

Kegiatan pelatihan PMBA


Paguyangan-(suarapaguyangan.com)-Sebagaimana yang kita tahu, stunting adalah kondisi dimana seorang anak memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar usia sebenarnya,  hal ini disebabkan karena kurangnya asupan gizi kronis dalam waktu yang lama, yang terjadi pada janin sejak dalam kandungan dan mulai terlihat pada anak mulai usia dua tahun.

Ahli gizi Puskesmas Paguyangan, Kabupaten Brebes, Rita Khurairah, Amg mengatakan, salah satu rantai lingkaran timbulnya stunting adalah kurangnya asupan gizi pada ibu hamil dan menyusui. Rita Khurairah juga mengatakan bagaimana mencegah timbulnya stunting pada anak balita , salah satunya pemberian Air Susu Ibu (ASI) ekslusif hingga usia  6 bulan.

"Ada beberapa cara yang paling utama, untuk mencegah terjadinya stunting pada anak, salah satunya yaitu pemberian gizi seimbang pada ibu hamil, dan pemberian ASI ekslusif, hanya ASI ekslusif pada bayi usia 0 hingga 6 bulan," tandasnya.

Rita juga menambahkan, pola makan yang tidak sehat juga mempengaruhi gizi buruk.Pola makan yang sehat mengandung unsur 4 bintang, yaitu bintang 1 adalah makanan pokok, meliputi beras dan umbi umbian, bintang 2 yaitu makanan yang mengandung kacang kacangan, bintang 3 terdiri dari buah dan sayur, dan bintang 4 adalah makanan yang mengandung zat Fe dan protein hewani.Demikian dijelaskan Rita pada saat pelatihan Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) di Puskesmas Paguyangan, Rabu (31/10).

Salah satu Kader Posyandu dari desa Taraban, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Dian Mawar Agustina merasa senang, dan berharap bisa membagikan pengetahuannya khususnya kepada masyarakat sekitar.

"Saya sangat gembira dengan adanya pelatihan PMBA ini, dan saya akan membagikan apa yang saya peroleh pada pelatihan ini kepada masyarakat di desa saya,  sehingga masyarakat akan mengetahui apa itu stunting dan cara pencegahannya," ungkap Dian antusias.(MD)

Related Posts:

SMPN 2 Tonjong Kabupaten Brebes Gelar OCD

Sekolah Ramah Anak SMP Negeri 2 Tonjong


Tonjong(suarapaguyangan.com) - SMP Negeri 2 Tonjong, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah mengadakan kegiatan belajar di luar kelas yang dilaksanakan pada hari Kamis ( 1/11/2018) yang dijadwalkan serentak tingkat internasional. Kegiatan ini kerjasama Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) dengan satuan pendidikan, Outdoor Classroom Day (OCD) Global kegiatan yang berpusat di Inggris dan diikuti oleh beberapa negara termasuk Indonesia.

Di Indonesia kegiatan belajar di luar kelas tetap sesuai dengan ranah Sekolah Ramah Anak (SRA) yang mengedepankan Senyum Sapa Salam (3S), agar terbentuk pembelajaran yang aman dan nyaman di sekolah.

Kegiatan diawali dengan menyambut siswa di pintu gerbang dengan 3S, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Maju Tak Gentar, Deklarasi SRA, pelantikan tim SRA, cuci tangan - doa - makan bersama - doa - cuci tangan, baca buku (kegiatan literasi), memeriksa lingkungan, matikan lampu/kran/komputer, simulasi sadar bencana, senam Gerakan Masyarakat Sehat (GERMAS), permainan tradisional, SRA dan testimoni (orang tua dan siswa).

Kepala SMPN 2 Tonjong, Ina Purnamasari, S.Pd., M.Pd. mengatakan para siswa merasa senang dengan kegiatan SRA ini. 

" Kegiatan belajar di luar kelas sangat menyenangkan bagi anak-anak karena SRA itu intinya siswa senang, guru tenang, orangtua bahagia, tidak ada kekerasan fisik, psikis, verbal, seksual. Mengajak anak-anak berpartisipasi dalam kegiatan sekolah," katanya. 

Hal senada juga disampaikan oleh Wakil kepala sekolah urusan kesiswaan, Urip Tanggoro, M.Pd yang berharap agar kegiatan ini dilaksanakan anual (tahunan) rutin setiap 1 november

"Kegiatan ini bisa meningkatkan otak kanan dan kiri, tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan tapi juga seni dan budaya," ujar urip. (VSK)

Related Posts:

Kader Kesehatan 7 Desa Di Kecamatan Paguyangan Ikuti Pelatihan PMBA

Pelatihan PMBA Kec. Paguyangan

Paguyangan (suarapaguyangan.com) - Puskesmas Paguyangan dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes mengadakan Pelatihan Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA). pelatihan PMBA ini adalah strategi pemberian Makanan Bayi dan Anak sesuai standar emas yaitu Inisiasi Menyusu Dini (IMD), ASI Eksklusif, MP-ASI dan ASI sampai dengan 2 tahun. PMBA itu salah satu upaya mendasar untuk menjamin pencapaian kualitas tumbuh kembang sekaligus memenuhi hak. 

Pelatihan ini diikuti oleh 7 desa di Kecamatan Paguyangan, yaitu desa Paguyangan, Taraban, Pagojengan, Kretek, Raga tunjung, Cilibur, dan Cipetung bertempat di Aula Puskesmas Paguyangan, senin, (29/10/2018) kemarin.

Pelatihan ini berjalan selama 3 hari, Hari Pertama diisi dengan teori mengenai ASI dan MP-ASI, acara dimulai dengan perkenalan, mengisi pohon kekhawatiran dan harapan, membuat kesepakatan dalam pelatihan, pretest, membuat anantomi payudara, latihan posisi menyusui yang baik, pentingnya ASI dan berbagai materi lainnya, Hari Kedua diisi dengan materi standar porsi dan tekstur MP ASI bagi bayi usia 6 bulan keatas dan dilanjutkan dengan praktek pembuatan MP ASI, serta latihan memberikan konsultasi kepada warga, Hari Ketiga diisi dengan praktek secara langsung pada warga yang memiliki bayi dan balita.

Kepala Puskesmas Paguyangan, drg. H. Rojikin. SH. MM, mengatakan ada 3 gerakkan hidup sehat yang harus di jalani oleh masyarakat

, yakni hidup sehat harus menjaga pola makan yang sehat, berolahraga sehari selama 30 menit, perbanyak makan sayur dan buah, serta menjaga kebersihan diri.

Selain itu Pemberian ASI Eklusif harus tetap di berikan walaupun ibu kurang gizi, yaitu dengan memberikan makanan tambahan, pemberian vitamin A, tablet tambah darah dan tercukupi gizinya. 

Pangkal kesehatan dari bayi yang sehat adalah ASI Eklusif yang harus di berikan dari bayi usia 0-6 bulan tanpa di beri makanan tambahan apapun. 

Sementara salah satu Kader kesehatan Desa Pagojengan Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes Titi merasa senang mengikuti pelatihan ini, banyak ilmu yang di dapat selama pelatihan, kita bisa belajar langsung dan nantinya akan membantu dalam melakukan sosialisasi pada ibu hamil, ibu menyusui dan perempuan usia subur. (MD Editor BU)

Related Posts:

Integritas Pendataan Modal Utama Mendapatkan Data yang Valid

Kegiatan Bintek Forum Data- di Hotel Anggraeni Bumiayu

Bumiayu-(Suarapaguyangan.com) - Bimbingan teknik pengelolaan data bagi forum data Kabupaten Brebes pada hari kamis (25/10) di Hotel Anggraeni Bumiayu diikuti oleh bebetapa unsur dari 4 desa di Kecamatan Paguyangan. Sekretaris desa, Kaur perencanaan, bidan desa, operator SID, kader posyandu, kader PAUD, selapanan, jurnalis warga, relawan TIK dan beberapa bidang kerja yang ada di tingkat kecamatan. 

Bambang setiawan, Sp. Kasi Penguatan Jaringan Penanggulangan Kemiskinan dari Dinas Pemerintahan Masyarakat Desa mengatakan, seluruh kegiatan di desa harus diawali dengan identifikasi di desa. Desa harus paham akan fungsi desa baik sebagai penyelenggara pemerintahan maupun dalam melaksanakan pembangunan desa.

" Forum data desa perlu di bentuk agar setiap tahun ada pemutakhiran data agar bisa dibuat perencanaan, pengumpulan, pengolahan, analisis, penyajian dan inter prestasi data," katanya.

Bambang juga berharap, peserta paham bentuk riil forum data itu seperti apa, tidak hanya mengetahui sistemnya saja agar bisa menularkan ke desa yang lain.

Arip Juliyanto, S.ST, M.si selaku Kepala Seksi Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Brebes mengatakan, butuh petugas yang punya integritas, karena pendataan sangat penting untuk mendapatkan data yang valid.

"Untuk mendapatkan petugas data yang punya integritas, desa harus segera membentuk forum data desa dengan struktur yang sesuai dan memilih para kader yang bertanggung jawab. Data Desa yang sifatnya individu nantinya bisa didapatkan melalui sensus dari objek data baik dengan wawancara langsung maupun observasi yaitu petugas pendataan turun kelapangan langsung dari rumah ke rumah. Sementara untuk data agregat desa bisa juga didapatkan dari observasi lapangan maupun dokumen resmi atau literatur lainnya. Setelah itu, data yg didapatkan harus segera dilakukan validasi mulai dari tingkat Desa, di sinilah peran forum data desa juga menjadi sangat penting sehingga data yang dihasilkan bisa valid," katanya. (VSK)

Related Posts:

Forum Data Desa, Konsep Menuju Pembangunan Berkelanjutan

Kegiatan Bintek Forum Data Desa- Hotel Anggraeni Bumiayu

Bumiayu-(suarapaguyangan.com)-4 dari 12 desa di Kecamatan Paguyangan mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan bimbingan tekhnis tentang pengelolaan data bagi forum data desa.
Kegiatan yang rencananya diadakan selama dua hari tersebut, bertujuan untuk memberikan pengetahuan sekaligus pelatihan kepada forum data, agar nantinya setiap forum data desa mampu menyediakan data yang mandiri untuk desa masing masing sehingga, ketika menyusun Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDES) sudah berbasis data dan tepat sasaran.

Hal tersebut disampaikan oleh Eko Purwanto, selaku Sekretaris Camat Paguyangan pada saat pembukaan acara Bimbingan Teknis Pengelolaan Data Bagi Forum Data Kabupaten Brebes di Hotel Anggraeni, Kamis (25/10).

Eko Purwanto menambahkan, seluruh kegiatan perencanaan desa tak lepas dari identifikasi masalah yang harus diketahui penyebabnya dan harus ditemukan jalan keluar dari masalah tersebut.

"Pada dasarnya, seluruh kegiatan perencanaan di desa itu selalu diawali dengan identifikasi masalah. Contoh dalam bidang pendidikan, disuatu pedukuhan ternyata ditemukan banyak anak yang tidak sekolah. Setelah ditelusuri, ternyata anak anak tersebut tidak sekolah karena banyak faktor, misalnya akses jalan menuju ke sekolah jauh, ketiadaan biaya, atau mungkin karena penyebab lain,"

Masih menurut Eko, masih banyak warga yang membuang sampah sembarangan, BAB di sungai,.dari situlah kita bisa menemukan penyebabnya, dan harus di temukan solusinya bagaimana, itulah yang nantinya menjadi salah satu tugas forum data.

Eko berharap, kegiatan yang dilakukan oleh 4 desa, diantaranya Paguyangan, Cipetung, Wanatirta, dan Kedungoleng ini akan menghasilkan forum forum data desa yang mampu mengelola data yang mandiri bukan hanya untuk desanya sendiri, tetapi juga untuk desa desa lain di Kecamatan Paguyangan.

"4 desa dikecamatan paguyangan, serta tim selapanan dan Jurnalis Warga yang mengikuti bintek ini diharapkan mampu mengimplementasikan hasil bintek hari ini dan mampu menjadi contoh bagi 8 desa lainnya," pungkasnya.(NK)

Related Posts:

Forum data desa sebagai akurasi SID

Kegiatan Bintek Forum Data Desa di Hotel Anggraeni Bumiayu

Bumiayu-(suarapaguyangan.com)-Bintek forum data desa diadakan oleh KOMPAK selama dua hari pada 25 - 26 Oktober di hotel Anggraeni Bumiayu, bertujuan untuk meningkatkan pendataan desa guna memenuhi kebutuhan sistem informasi desa ( SID ). 

Melanjutkan pertemuan yang kedua ini, Himawan perwakilan dari kompak menjelaskan pentingnya data desa adalah sebagai dasar perencanaan kebutuhan desa dan perencanaan keputusan rencana kegiatan pembangunan desa atau RKPDES.

" data itu sangat penting karena dengan data maka kekurangan kebutuhan desa bisa diketahui sehingga perencanaan dalam RKPDES bisa tepat sasaran, "Kata Himawan. (26/10).

Himawan juga mengatakan, ada dua jenis data yang diperlukan yaitu data kuantitatif dan data kualitatif.
" Ada dua jenis data yaitu data kuantitatif yang berisi angka dan juga ada data kualitatif yang berdasarkan kebutuhan desa seperti data pendidikan, data kesehatan, dan lainnya, "imbuhnya.

Selain itu, disampaikan juga oleh Bayu Setiawan, S.kom perwakilan dari badan pembangunan, penelitian dan pengembangan daerah kabupaten Brebes ( BAPERLITBANGDA ) 
perlu adanya integrasi antara sistem informasi pembangunan berbasis masyarakat ( SIPBM ) dengan sistem perencanaan pembangunan desa ( SPP DES ). 

" Dalam hal ini, integrasi antara SIPBM dengan SPPDES itu membantu pelaksanaan peran dan fungsi kelembagaan desa, "Pungkasnya.(WD)

Related Posts:

Periksa Kehamilan Itu Penting Untuk Kesehatan Bumil dan Jabang Bayi

Kegiatan Posyandu Sari Asih Desa Cipetung Kecamatan Paguyangan

Cipetung(suarapaguyangan.com)-Perempuan yang sedang hamil harus waspada dan harus tahu bagaimana tanda-tanda tentang kehamilan terutama jika terjadi pendarahan, muntah muntah yang berlebihan, atau perempuan yang kekurangan darah. Mereka harus segera berkonsultasi ke bidan terdekat agar bisa terditeksi sedini mungkin demi kesehatan ibu dan jabang bayi.


Disampaikan oleh Petugas Kesehatan Puskesmas Paguyangan Desya Ms pada acara posyandu rutin di Aula Balaidesa Desa Cipetung, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Rabu (10/10) kemarin.

Lanjut Desya, semua Kader posyandu harus memantau sasaran terutama ibu hamil dan baduta, balita untuk memastikan kehadiran 100persen, sehingga bisa memantau kesehatan warganya.

Sementara itu, Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Muamar Husni mengatakan, rugi jika sasaran posyandu tidak datang ke posyandu. 

" Tumbuh kembang anak dan bumil bisa terdeteksi dengan baik lewat KMS, setiap penerima PKH pun wajib datang ke posyandu untuk deteksi tumbuh kembang baik itu psikis maupun motoriknya," katanya.

Salah satu warga Karinah (35) merasa senang ke posyandu.

" Saya senang datang ke posyandu selain bisa bertemu dengan tetangga  juga bisa memeriksakan kehamilan, apalagi kehamilan yang ke tiga yang membuat saya ingin mengetahui perkembangannya tiap bulan , makanya saya rutin datang ke posyandu," tandasnya. (SH editor  LA)

Related Posts:

Jurnalis Warga (JW) Harus Konsisten Dalam Menyampaikan Informasi Desanya

Mentoring Jurnalis Warga di RM Rai Raka Kec. paguyangan bersama KJW Adi Assegaf


Paguyangan (suarapaguyangan.com) - Keadaan suatu desa kadang kadang terhambat oleh kurangnya informasi dari pihak desa kepada warga masyarakatnya, sehingga sering terjadi miss informasi dan salah paham yang berdampak pada ketidakpedulian warga pada pemerintahan desanya. 

Melalui kerjasama kemitraan Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan (KOMPAK) dan The Asia Foundation (TAF) serta Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) yang mulai masuk di Kecamatan Paguyangan pada bulan maret 2017, informasi kepada warga masyarakat mulai terpublikasi ke beberapa media baik media mainstream maupun media sosial oleh peran Jurnalis Warga (JW).

Adi Assegaf, selaku Koordinator Jurnalis Warga selalu menghimbau agar para jurnalis warga selalu giat menulis dan konsisten dalam membuat berita, karena hal tersebut untuk kepentingan orang banyak, 

" Setiap informasi yang di sampaikan oleh Jurnalis Warga bisa membuat perubahan dalam segala bidang, dan masyarakat bisa mengetahui setiap informasi tentang desa atau kecamatan," ungkapnya pada mentoring jurnalis warga, Senin (20/8) di rumah makan Rai Raka, Paguyangan. 

Adi menambahkan, JW harus menyampaikan informasi yang benar dan tidak boleh melanggar kode etik selaku jurnalis.

" Kode etik jurnalis harus dikedepankan sebab dengan era keterbukaan informasi sekarang ini, jangan sampai JW memberitakan atau menyebar berita yang HOAX, serta jangan sampai JW disalah gunakan sebagai alat untuk memeras orang atau lembaga lain," tegasnya.

Wildan, Jurnalis Warga Kedungoleng merasa senang bisa menjadi seorang jurnalis warga, karena dengan menjadi jurnalis warga, Wildan merasa ikut berperan andil untuk mengangkat nama desanya.

" Alhamdulillah, setelah menjadi JW, setiap kegiatan di Desa Kedungoleng bisa di ketahui oleh desa lain, juga oleh kecamatan, bahkan lebih dari itu," ungkapnya (MD/LA)

Related Posts:

Antusiasme Warga Masyarakat Desa Cipetung Sambut HUT RI ke 73.

Karnaval desa Cipetung-Kec.Paguyangan

Cipetung (suarapaguyangan.com)-
Meskipun Desa Cipetung Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes jauh dari hiruk pikuk kota, dan masih susah dalam berkomunikasi karena belum adanya sinyal handphone, namun antusias warga masyarakatnya tidak surut dalam menyambut HUT RI ke 73.

Merdeka bagi mereka adalah bisa saling guyub dan rukun bersama, hal ini terlihat dari banyaknya kegiatan yang dilakukan oleh warga masyarakat dalam mengisi kemerdekaan ini, antara lain kegiatan  lomba gerak jalan, lomba kebersihan, lomba membuat tumpeng, karnaval hingga puncaknya malam resepsi.

Muhammad Muzaqi selaku ketua penyelenggara menyampaikan, kegiatan perlombaan dalam mengisi kemeriahan HUT RI ini memang sudah menjadi agenda tahunan, yang diharapkan mampu untuk mengkompakkan warga.

" Kegiatan ini memang bertujuan agar masyarakat Desa Cipetung semakin guyub dan rukun, serta menumbuhkan rasa kecintaan dan nasionalisme kita kepada bangsa dan negara," kata Muzaqi saat ditemui oleh jurnalis warga Cipetung di balaidesa Cipetung, Sabtu (18/8).

Masih menurut Muzaqi, dari semua rangkaian kegiatan lomba memeriahkan HUT RI ini semua warga masyarakat sangat aktif dan antusias dalam mengikuti semua kegiatan perlombaan hingga malam resepsi malam ini.

Sementara itu Sutrisno Kepala Desa Cipetung menyampaikan rasa terima kasih kepada warga masyarakat Desa Cipetung yang sangat antusias dalam memeriahkan HUT RI ke 73.

"Saya sangat berterimah kasih kepada semua warga Desa Cipetung dan seluruh ormas yang ada, yang telah menjadikan suasana yang guyub dan kondusif selama kegiatan berlangsung," katanya.

Pada malam resepsi yang dimeriahkan orgen tunggal dari luar kota ini juga dibacakan beberapa pemenang lomba gerak jalan, lomba membuat tumpeng, hingga karnaval. (SH/LA)

Related Posts:

Pentingnya Vitamin A Untuk Anak Balita

Sosialisasi pemberian vitamin A oleh Bidan Desa Kedungoleng


Kedungoleng-(suarapaguyangan.com)
-Bulan Februari dan Agustus, adalah bulan ditetapkannya sebagai bulan Vitamin A. Disetiap Posyandu di seluruh Indonesia, pada bulan bulan tersebut menyelenggarakan kegiatan pemberian Vitamin A untuk anak balita, khususnya bayi umur 6 sampai 59 bulan.

Marinah, Amd.Keb selaku bidan desa Kedungoleng mengatakan tentang pentingnya Vitamin A untuk balita.

"Vitamin A, mampu melindungi anak anak dari kekurangan gizi, mampu mencegah bobot tubuh bayi menjadi rendah dan membiru ketika dilahirkan.selain itu, vitamin A juga dapat mencegah ibu terserang penyakit Anemia setelah masa persalinan", jelas Marinah kepada warga pada saat kegiatan posyandu- pemberian vitamin A, di rumah Usman Salim, Kepala Desa Kedungoleng, Rabu lalu (8/8).

Ditambahkan oleh Marinah, yang tak kalah penting dari Vitamin A adalah untuk kesehatan mata dan mencegah kebutaan.Sedangkan kandungan dari Vitamin A banyak terdapat pada minyak ikan, hati, kuning telur, mentega, dan sayur atau buah yang berwarna hijau atau orange, seperti wortel. Karena itu, Marinah berpesan kepada ibu ibu agar selalu nemperhatikan asupan gizi bagi putra putrinya agar jangan sampai terjadi gizi kurang, apalagi sampai gizi buruk.

Antusias warga terlihat dari kehadiran mereka yang meningkat jumlahnya dari bulan sebelumnya, dan warga merasa senang karena pelaksana kesehatan, baik bidan maupun kader sekarang lebih aktif.

"Saya sangat senang, di desa kami sekarang setiap bulan Februari dan Agustus anak anak kami mendapatkan Vitamin A secara gratis, dan saya juga senang, sekarang ini, baik ibu bidan maupun ibu kader mau mendatangi anak anak sekolah terutama anak PAUD untuk mendapatkan Vitamin A tersebut", ungkap Melani (35), salah seorang warga Kedungoleng yang sekaligus Kader posyandu Kedungoleng.

Melani juga berharap, warga aktif untuk datang di posyandu setiap bulan, agar pertumbuhan maupun perkembangan anak anak balita bisa dipantau dari bulan ke bulan.

" jangan malas ya bu, untuk datang di posyandu setiap bulannya, karena dengan hadirnya ibu ibu di posyandu, berarti ibu ibu sudah menyadari pentingnya kesehatan untuk putra putrinya, karena setiap bulan pertumbuhan atau perkembangan anak ibu bisa dipantau terus", pungkasnya. (NH)

Related Posts:

200 Anak Balita di Desa Cipetung Datangi Posyandu Untuk Vitamin A

Pemberian Vitamin A Desa Cipetung


Cipetung-(suara paguyangan.com) - 200 anak balita di Desa Cipetung Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes mendatangi posyandu Sari Asih untuk mendapatkan vitamin A kemarin, Rabu (08/08).

Kegiatan posyandu yang sudah menjadi kegiatan rutin ini agak berbeda seperti bulan kemarin karena dihadiri oleh tim penggerak PKK dan kader posyandu serta pendamping Program Keluarga Harapan (PKH).

Siti Nur Faizah, Bidan Desa Cipetung mengatakan, bulan agustus ini merupakan bulan vitamin A, sehingga banyak warga khususnya ibu-ibu yang mempunyai balita datang ke Posyandu untuk mendapatkan Vitamin A.

" Alhamdulillah masyarakat sudah mulai paham pentingnya pemberian vitamin A, bahwa vitamin A itu tidak bisa diproduksi oleh tubuh anak kita sendiri. Oleh karena itu pemberian vitamin A pada anak-anak kita menjadi penting khususnya yang sudah berusia 6 bulan hingga 5 tahun," kata Nur Faizah.

Nur Faizah menambahkan, untuk pemberian vitamin A pada anak harus disesuaikan dengan usia anak.

" Untuk anak berusia 6 bulan hingga 12 bulan atau 1 tahun kita berikan kapsul vitamin A warna biru, sedangkan untuk anak berusia 1 tahun sampai 5 tahun di berikan kapsul vitamin A warna merah, dengan pemberian vitamin A secara berkala akan menjadikan tubuh anak yang kuat dan mata yang sehat," tambahnya.

Nurwati Sugini (27), warga  Desa Cipetung, yang ikut mengantri di posyandu untuk mendapatkan Vitamin A terlihat riang gembira dan tidak merasa keberatan untuk mengantri.

" Saya dan anak harus mengantri untuk mendapat vitamin A, karena kalo bulan agustus memang banyak sekali ibu-ibu yang hadir agar anaknya mendapatkan vitamin A. Sehingga sedikit mengantri agar kader tidak salah dalam memberikan kapsul vitamin A. Karena kesehatan merupakan modal utama, kalo anak kita sehat dan kuat maka kami orang tua menjadi senang dan gembira," tandasnya.(SH/AA)

Related Posts:

Tahun 2020, Indonesia Bebas Penyakit Kaki Gajah

Foto saat Musdes Desa Kedungoleng


Kedungoleng-(suarapaguyangan.com) Penyakit kaki gajah adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing. Cacing tersebut berkembang biak dalam tubuh, menghasilkan berjuta juta anak cacing.Ciri ciri penyakit kaki gajah yaitu kaki membengkak atau yang disebut Vilariasis sampai ke seluruh tubuh, dan biasanya terjadi pada laki laki. Sedangkan penularan penyakit kaki gajah adalah dari seorang yang dalam tubuhnya terdapat anak cacing, yang ditularkan kepada orang lain melalui gigitan nyamuk.

Demikian disampaikan oleh Dokter Mudrikah, saat Musyawarah Desa (Musdes) di balaidesa Kedungoleng, Selasa(31/7).

Mudrikah menambahkan, pihaknya akan memberikan pencegahan penyakit kaki gajah dengan memberikan obat secara gratis kepada warga, khususnya wilayah Puskesmas Winduaji, termasuk didalamnya kelurahan Kedungoleng, Wanatirta, dan Winduaji.

"Mengawali program Puskesmas Winduaji, maka pada awal Agustus  dan September nanti akan diberikan obat cacing kepada warga untuk mencegah penyakit kaki gajah, karena jika sudah terjadi maka penyakit tersebut tidak bisa diobati.
Apabila terjadi efek samping seperti mual, pusing, bahkan panas, maka itu tandanya obat tersebut sedang bereaksi", tambahnya.

Marina (34) selaku Bidan desa Kedungoleng mengatakan, yang dianjurkan minum obat tersebut adalah usia 2 tahun hingga kurang dari 70 tahun, sedang untuk wanita hamil dan menyusui, tidak dianjurkan minum obat tersebut, termasuk yang mempunyai hipertensi dan penyakit diabetes.

Kasman (50) salah seorang Rukun Tetangga (RT) yang hadir dalam rapat tersebut merasa senang dengan hadirnya seorang dokter di desanya.

" Alhamdulillah, sekarang di desa kami sudah ada dokter juga bidan, sehingga warga sangat terbantu sekali, misalkan ada yang mengeluh tentang kesehatannya, bisa langsung berkomunikasi dan mendapat pelayanan dari dokter atau bidan".

Sementara itu, Salim selaku Kepala Desa Kedungoleng juga mengucapkan terimakasih kepada para praktisi kesehatan, yang telah bekerjasama dengan pemerintah desa, berperan serta mewujudkan di tahun 2020 nanti, indonesia bebas penyakit kaki gajah. (NK)

Related Posts:

Perubahan signifikan di Kab Brebes berkat KOMPAK


Mrs. Fleur Davis, 
Paguyangan (Suara paguyangan. Com)ratusan orang yang terdiri dari Baperlitbangda, Dindikpora, Dinpermades, kepala dinas kesehatan Kab Brebes, DINDUKCAPIL, dan tamu lain memadati aula Kec Paguyangan, guna mengikuti diskusi capaian dan kemajuan program Kolaborasi Masyatakat untuk Pelayanan Kesejahteraan ( KOMPAK) di Kabupaten Brebes (2017 - 2018), selasa(8/5/2018) di aula Kecamatan Paguyangan. 

Program KOMPAK yang meliputi, pendidikan, kesehatan dan adminduk, di nilai sukses membantu pemerintah Kabupaten Brebes, hal ini juga terbukti dengan datangnya wakil dari Kedutaan Besar Australia, Mrs Fleur Davies, ke salah satu desa pilot projek Kompak, yaitu Wanatirta, untuk merayakan hari pendidikan nasional. 

Khaerul Abidin Kepala Bidang Pembangunan Sosial Budaya Baperlitbangdadi Kabupaten Brebes mengatakan, 3 desa pilot projek wanatirta, kedung oleng, dan cipetung berkembang dengan selapanan dan jurnalis warga. 

Khaerul juga menambahkan sejak berjalannya program KOMPAK di 3 desa kepemilikan akta kelahiran mengalami peningkatan yg signifikan,

"cakupan angka akta kelahiran di Kabupaten brebes yang awalnya hanya 43 persen sekarang menjadi 95 persen berarti mengalami penambahan sebesar 52 persen."ujarnya. 

Puspita jurnalis warga dari desa Wanatirta merasa senang dengan di adakannya diskusi capaian dan kemajuan dari KOMPAK ini,

" saya merasa senang dan menjadi mengerti perubahan yang terjadi di Kecamatan kami, sejak adanya program KOMPAK. Saya harap program ini masih bisa terus berlanjut, untuk penataan struktur dan infrastruktur yang lebih baik." ungkapnya. (MD).

Related Posts:

Mahasiswa dan Dosen S2 Komunikasi Unsoed Belajar ke JW Paguyangan

Dosen dan Mahasiswa S2 Unsoed saat bertemu JW Paguyangan

Paguyangan (suara paguyangan.com) Sedikitnya 8 orang yang terdiri dari Mahasiswa dan Dosen Pasca Sarjana Jurusan Komunikasi dari kampus Universitas Jendral Soedirman (Unsoed) Purwokerto belajar tentang Jurnalis Warga (JW) di JW Kecamatan Paguyangan, Sabtu (28/4). 

Bertempat dirumah makan Rai Raka Paguyangan 4 JW dari Kecamatan Paguyangan yang diwakili oleh Lidya Alfi dari Desa Wanatirta, Suharti dari Desa Cipetung, Nurkhasanah dari Desa Kedungoleng dan Mardiyanah dari Desa Pagojengan bertemu langsung dengan ke 8 orang dari Unsoed.

Menurut DR. Edy Santoso selaku dosen pasca sarjana Ilmu Komunikasi Unsoed kedatangannya bersama mahasiswanya ini, ingin bertemu langsung dengan para JW yang aktif menulis di website www.suarapaguyangan.com

" Sebelumnya kami bertemu dengan Bahrul Ulum penggagas JW di Kabupaten Brebes yang kemudian JWnya mendapatkan kepercayaan membantu Program Pengembangan Media Nusantara (PPMN)  untuk membentuk JW di Kecamatan Paguyangan sebagai Kecamatan Intervensi mereka, Kemudian kami juga bertemu dengan para Koordinator JW yang menunjukkan kami website suarapaguyangan.com, kami lihat dan kami tertarik dengan JW ini, makanya kami ingin bertemu langsung," tuturnya.

Masih menurut Edi, pihaknya akan mengadakan literasi media yang salah satunya mengenai jurnalis warga.
" Kami ingin mengenal dan menimba pengalaman dari JW Kecamatan Paguyangan, untuk memperkaya komunikasi dalam kampus serta mengaplikasi JW ke daerah yang lain, karena dalam waktu dekat ini, kami akan mengadakan pelatihan jurnalistik untuk masyarakat di daerah kami," katanya.

Mardianah salah satu perwakilan JW dari Desa Pagojengan Kecamatan Paguyangan merasa senang bisa bertemu dan berbagi ilmu dengan dosen dan mahasiswa dari Unsoed.
" Saya tidak menyangka ikut JW bisa bertemu dengan dosen dan mahasiswa dari Unsoed, dan mereka belajar ke kami tentang JW, padahal saya hanya ibu rumah tangga yang berjualan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, ini sesuatu yang berharga buat saya dan tentunya menambah ilmu serta menambah teman," pungkasnya. (MD/AA)

Related Posts:

Bupati Brebes - Kader Kesehatan Bahas Stunting

Foto Bupati Brebes Idza Priyanti SE, MH saat memberi sambutan - Foto Mardiana
F

Paguyangan(suarapaguyangan.com)- ratusan kader kesehatan kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes menghadiri temu kader bersama Bupati Brebes di gedung Koperasi Pegawai Negeri (KPN) Paguyangan dengan tema " Cegah Stunting itu Penting " selasa (24/4).

IDZA PRIYANTI SE. MH, bupati brebes mengemukakan, stunting atau kekerdilan atau anak yg kurang bagus pertumbuhannya sehingga tumbuh kecil dan kerdil harus di pantau perkembangannya.

"tugas kader kesehatan untuk membantu memantau perkembangan pertumbuhan anak-anak di wilayah masing- masing sangatlah penting," ungkapnya.

Idza juga menambahkan, tugas kader kesehatan untuk memantau keberadaan ibu hamil resiko tinggi dari mulai hamil sampai dengan melahirkan selama 45 hari ke depan dan perlunya pemberian tablet penambah darah, untuk menjaga stamina ibu hamil tersebut dan air susu yg akan di berikan untuk bayinya, "tambahnya".

Suyati(43)kader kesehatan dari Pagojengan merasa senang dengan perhatian dari Bupati Brebes, dengan perhatian ini mudah- mudahan kami selaku kader kesehatan  bisa melaksanakan tugas dengan baik. "ungkapnya. (MD).

Related Posts:

Irigasi Desa Pagojengan Mendapatkan Rp 195 juta Dari BBWS Juana

Acara sosialisasi di Balaidesa Pagojengan

Pagojengan(suarapaguyangan.com) - Dikarenakan banyak desa yg belum memiliki pertanian dengan irigasi yang terjangkau dan masih terisolir, maka Kementerian pekerjaan umum melalui balai wilayah pemali juana, menganggarkan dana 195 juta rupiah untuk irigasi nangka, kepada kelompok petani Dewi Shinta di Dukuh waru timur,Desa Pagojengan kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes. Kamis (12/4/2018).
Kiswo selaku ketua kelompok petani Dewi Shinta mengatakan, program pertanian adalah program yg paling penting untuk kemajuan bangsa dan negara. " mengingat segala hal yg menyangkut aktivitas masyarakat itu tergantung dari asupan yg dimakannya, dengan asupan yg sehat seseorang akan bisa berfikir dengan baik, dan juga untuk kesehatannya, "tandasnya.

Kiswo juga menambahkan, untuk pengajuan proporsal petani, syaratnya kelompok petani tersebut harus mempunyai sertifikat yang berbadan hukum. "kelompok petani "Dewi Shinta" sudah memiliki sertifikat yg berbadan hukum, sehingga mudah untuk direalisasikan pengajuannya, " tambahnya. 

Salista mami, selaku pendamping masyarakat mengatakan dana yg dikucurkan berasal dari APBN tahun 2018. " dana akan langsung di cairkan ke rekening kelompok petani, dengan 2 tahap pencairan, yaitu setelah pengajuan sudah di tanda tangani sebesar 70%, dan setelah pengerjaan fisiknya hanya tinggal separuhnya sebesar 30 %, " ungkapnya.(MD/BU)

Related Posts:

Hari Anak Nasional Kecamatan Paguyangan Hadirkan Abid Salman

Foto apid di HAN Kec. Paguyangan


Pagojengan-(suarapaguyangan.com)-21 lembaga dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kecamatan Paguyangan pada hari Kamis (12/4), menggelar acara perayaan Hari Anak Nasional (HAN) bertempat di Kelompok Bermain Al-Ikhlas Desa Pagojengan.

Sarmian, Kepala UPTD Kecamatan Paguyangan berharap adanya kegiatan HAN yang sudah menjadi program Himpunan Pendidik Anak Usia Dini (HIMPAUDI) setiap tahunnya, akan melahirkan generasi generasi yang kreatif dan  berbakat.

"Tanggung jawab anak adalah tanggung jawab kita semua, para pendidik dan terutama orangtua.dampingilah anak dan dukunglah ia dalam menjalani masa masa emasnya, agar terbentuk pribadi yang ceria, semangat dalam berkarya, dan mampu bersosialisasi dengan lingkungan",  ujarnya.

Endang Herowati, S.Pd selaku Ketua Himpaudi menambahkan, inti dari kegiatan HAN adalah meningkatkan kemandirian anak dengan diikutsertakannya anak anak dalam perlombaan, dari tingkat lembaga sampai tingkat Kabupaten.

Yang menarik dari perayaan HAN kali ini adalah dihadirkannya peserta didik dari Kelurahan Kedungoleng, yakni Abid Salman (5).ia adalah satu satunya peserta didik yang mengalami gangguan pada kedua tangannya, sehingga dalam kegiatannya sehari hari, kedua kakinya yang selalu aktif, termasuk makan dan menulis, karena kedua tangannya tidak bisa berfungsi.namun ia selalu percaya diri, selalu ingin sekolah, bermain dan belajar seperti anak anak lainnya.

Sebagai wujud perhatian sekaligus dukungan atas perjuangan Abid, panitia pelaksana HAN memberikan bantuan alat alat sekolah, seperti tas, buku, dan pensil.Pengunjungpun, baik dari kalangan pendidikan maupun wali murid merasa terharu dan simpatik terhadap Abid.kita pantas bersyukur, sekarang ini keberadaan Abid lebih diperhatikan oleh orang lain.(Nk)

Related Posts:

TAF kunjungi Jurnalis Warga Paguyangan

Foto JW bersama Mochamad Mustafa dari TAF


Wanatirta(suarapaguyangan.com)- Salah satu perwakilan dari The Asia Foundation (TAF) Jakarta kunjungi Desa Wanatirta Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes untuk bertemu dengan Jurnalis Warga di Aula Desa Wanatirta, Kamis (29/3).

Mochamad Mustafa  Program Manager for Democracy and Governance, The Asia Foundation Jakarta saat bertemu Jurnalis Warga (JW) di balaidesa Wanatirta mengatakan, kunjungan kali ini untuk study kasus desa-desa dimana warga mulai berdaya dan terlibat dalam pembangunan desa.

" Saya sedang melakukan studi kasus desa-desa di mana warga mulai berdaya dan terlibat dalam pembangunan desa, khususnya keberadaan Jurnalis Warga (JW) dan kelompok warga yang mempengaruhi kebijakan dan pemerintah Desa untuk lebih memperbaiki layanan dasar warganya," katanya.

Mustafa juga menambahkan, Desa Wanatirta merupakan contoh di mana adanya warga yang berdaya merupakan prasyarat untuk membangun desa.

" Peran mereka sebagai aktor kritis dengan kemampuan untuk memberi solusi konkrit sangat penting dalam memastikan akuntabilitas sosial pemerintah desa. Peran JW misalnya, mereka berkontribusi menemu kenali berbagai permasalah mendasar yang sering kali kurang terperhatikan seperti isu disabilitas dan anak putus sekolah," tambahnya.

Lidia Alfi jurnalis warga wanatirta mengaku senang dengan kedatangan TAF ke Desa Wanatirta.

" Saya senang sekali bisa bertemu dengan salah satu perwakilan dari TAF Jakarta, selain mendapat ilmu juga berbagi cerita  tentang pemberitaan yang selama ini di buat oleh JW termasuk berita- berita yang story of change (SOC)," ungkapnya. (LA/AA)

Related Posts:

Forum Selapanan Datangi Dinkes Dan Dindikpora Kabupaten Brebes

Forum Selapanan saat audiensi dengan Dinkes

Brebes (suarapaguyangan.com) - Forum selapanan dari tiga desa intervensi program Forum Masyarakat Sipil (Formasi) yang bekerjasama dengan The Asia foundation (TAF) dan Kompak mendatangi Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Brebes untuk melakukan audiensi terkait hasil monitoring kolaboratif, Senin (26/3).

Koordinator Formasi Kabupaten Brebes Herry August mengatakan, forum selapanan ini akan melakukan audiensi terkait dengan hasil monitoring kolaboratif agar mendapat jawaban dari dinas terkait.

"Forum selapanan 3 desa intervensi yaitu Desa Cipetung, Wanatirta dan Kedungoleng Kecamatan Paguyangan, telah melakukan monitoring kolaboratif pada tanggal 6 Februari kemarin, dan hasil dari temuan monitoring kolaboratif tersebut disampaikan pada saat audiensi hari ini," katanya.

Salah seorang perwakilan Forum Selapanan Desa Cipetung, Suharti saat audiensi dengan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes, mengatakan hasil monitoring di SMP Negeri 3 Paguyangan, serta minta agar SD Negeri di desanya untuk kelas 1 dan kelas 2 dipisah, dan tidak digabung.

"Saya berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes bisa menambah guru kelas karena masih ada guru yang mengajar lebih dari satu mata pelajaran, serta menambah jamban untuk siswa dan mewujudkan 1 ruang kelas baru agar kelas 1 dan kelas 2 di SD Negeri Cipetung terpisah tidak menjadi satu kelas," ujarnya.

Kepala Dindikpora Dr. Tahroni, M.Pd langsung merespon permintaan mereka. Tahroni mengatakan, Kabupaten Brebes memang kekurangan guru. Hal itu karena banyaknya guru yang sudah pensiun, dan hal tersebut sudah di ajukan ke Kementrian PAN dan RB namun sampai saat ini belum bisa direalisasikan.

“Sedangkan untuk jamban, idealnya 1 jamban itu 40 siswa, jika ada 500 siswa disekolah tersebut maka tinggal dibagi 40. Untuk ruang kelas baru, segera bikin proposalnya akan kita prioritaskan tahun depan," katanya.

Sementara itu, salah seorang perwakilan selapanan, Trismiati saat audiensi di Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes menyampaikan hasil monitoring di Puskesmas Winduaji, tentang kurangnya dokter gigi dan alat USG kehamilan.

"Kami berharap Dinas Kesehatan bisa menambah dokter gigi di puskesmas serta alat untuk USG kehamilan, sehingga untuk ibu hamil bisa USG di Puskesmas Winduaji," katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Brebes dr. Sri Gunadi Parwoko, M.Kes langsung menanggapi pertanyaan yang disampaikan oleh tim selapanan hasil monitoring kolaboratif. Ia mengatakan, Jumlah dokter gigi baru 10 orang dari 38 puskesmas. Pihaknya sudah berupaya untuk menggandeng dokter gigi swasta supaya bisa mengisi di puskesmas.

“Untuk USG memang belum ada, saat ini yang ada baru di Bumiayu, kedepan kita usahakan," pungkasnya. (AA/EF)

Related Posts:

Pembentukan Forum Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP) Desa Kedungoleng

Pembentukan FMPP Desa Kedungoleng- foto Nurkhasanah


Kedungoleng-suarapaguyangan.com-Mengingat masih banyak anak anak usia sekolah yang ternyata tidak bisa meneruskan sekolahnya, dengan mayoritas alasan yang sama, yakni kesulitan biaya.hal itulah yang menngerakkan pemerintah Kabupaten untuk menuntaskan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.Selain itu juga untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Brebes khususnya bidang pendidikan, maka perlu dibentuk Forum Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP).

Bahrul Ulum, S.Msi, selaku ketua FMPP Kabupaten Brebes menerangkan tata cara pembentukan FMPP, baik dari tingkat Kabupaten, Kecamatan, maupun Kelurahan.

"Mengenai target dari kegiatan ini adalah semua desa mempunyai FMPP, outputnya ada di Surat Keputusan (SK) yang ditandatangani oleh Kepala Desa.FMPP untuk desa, maka SK nya dari desa, demikian juga SK Kecamatan, maupun Kabupaten, sesuai dengan tempat FMPP tersebut dibentuk," terang Bahrul.

"Dalam SK tersebut, tercantum tugas tugas dari pengurus maupun anggota.diantaranya ada yang bertugas di bidang verifikasi data, bidang penggalangan dana, bidang pengembalian anak sekolah, maupun bidang pendampingan anak.semuanya bekerja sesuai dengan tupoksi masing masing bidang," terangnya lagi.

Salim, selaku Kepala Desa Kedungoleng berharap dengan adanya pembentukan FMPP akan dapat berperan ikut membantu menuntaskan  wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun dan dapat meningkatkan IPM di kabupaten.

"Saya berharap, dengan adanya pembentukan FMPP ini, akan sangat membantu pemerintah kabupaten dalam rangka menuntaskan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun, sekaligus dapat meningkatkan IPM, khususnya dibidang pendidikan," pungkas Salim.

Acara FMPP dilaksanakan di aula balai desa kedungoleng, dengan dihadiri oleh perangkat desa, BPD, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, dan tokoh pemuda, senin(26/3). ( NK)

Related Posts:

Pembentukan FMPP Desa Pagojengan

Pembentukan FMPP Desa Pagojengan- foto Mardiana

Pagojengan(suarapaguyangan.com) sesuai amanat Peraturan Bupati nomor 115 tahun 2017 Kabupaten Brebes tuntas wajar pendidikan dasar 12 tahun, sehingga pemerintah Desa Pagojengan dan desa yang lain harus gencar menuntaskan program pendidikan dasar 12 tahun.

Disampaikan Warun, S.Pd, M.Pd selaku Kepala Pendidikan dan Pemuda Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Brebes dalam acara Pembentukan Forum Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP) di Balaidesa Pagojengan Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes, Selasa(20/3).

Warun juga menambahkan syarat yang diajukan untuk mencari pekerjaan untuk sekarang ini minimal Sekolah Menengah Atas (SMA) maka desa di bentuk wadah untuk menghindarkan generasi muda yang lemah dan tertinggal supaya kuat dan mampu bersaing melalui Forum Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP) untuk Gerakan Kembali Bersekolah (GKB)," tambahannya.

Sutarko Kepala Desa Pagojengan mengatakan, sudah ada 23 anak yang sudah dikembalikan ke sekolah.

" Untuk Desa  Pagojengan dari 23 ansk yang dikembalikan kesekolah, ada 22 anak masuk di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat ( PKBM) Al Himmah Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes dan 1 anak di SMK Muhammadiyah Paguyangan," katanya.

Nuryati(35) perwakilan  dari PKK Desa Pagojengan mengaku senang  dengan dibentuknya FMPP Desa pagojengan.

"Saya senang dengan terbentuknya FMPP desa Pagojengan, semoga bisa mengentaskan anak putus sekolah yang berjumlah 117 anak dari data Sistem Informasi Pembangunan BerbasisMasyarakat (SIPBM) bisa bersekolah kembali," ungkapnya.

Dalam pembentukkan FMPP Desa Pagojengan,  terpilih sebagai ketua Ari Sulistyaningsih S. Pd, sekretaris Aulia Santi, bendahara Hj. Ulfa, S. Pd. Sedangkan sebagai pelindung adalah Pj kades desa Pagojengan Drs Sutarko, dan untuk pembinaan dari BPD Kasan Khariri S. Pd.(MD)

Related Posts:

Limbah Bungkus Kopi Jadi Primadona

Hasil kreasi dari bungkus kopi- foto Nurkhasanah

Kedungoleng(suarapaguyangan.com)-Bungkus kopi, yang biasanya dibuang ditempat sampah sebagai barang yang tidak berguna, namun sekarang ini, keberadaannya semakin dilirik oleh tangan tangan kreatif, salah satunya Mella(25).kekosongannya belum dikaruniai momongan setelah berumahtangga, membuatnya mempunyai ide kreatif tersebut, disamping juga untuk mengurangi banyaknya sampah sampah plastik yang tentunya lambat laun akan berpengaruh pada kesehatan manusia.

"Setiap hari, selalu ada bungkus kopi yang berserakan di rumah. Berawal dari situlah timbul niat saya, kenapa bungkus bungkus kopi tersebut tidak dimanfaatkan, misal untuk dibuat tas, keranjang, atau dompet. Awalnya memang coba coba, tetapi setelah dilakukan ternyata hasilnya cukup memuaskan, pesanan baik dari teman, tetangga ternyata lumayan banyak," ungkap Mella.

Tentang waktu pembuatan, dari bungkus kopi sampai menjadi barang, mella mengungkapkan tergantung besar kecilnya barang, demikian pula mengenai harga.

"Untuk tas justru 1 hari pun jadi, untuk jenis dompet lebih kecil, tapi lebih rumit, bisa sampai 2 hari.Mengenai harga, untuk tas muatan beras 5 kilogram, harga berkisar Rp 60.000,-/buah, dan untuk dompet harga berkisar Rp 25.000,-/buah," terangnya.

Mengenai darimana bungkus bungkus kopi tersebut di datangkan, karena banyaknya pesanan, Mella menambahkan bungkus bungkus kopi tersebut didatangkan dari warga sekitar.

"Bersyukur, para tetangga maupun saudara rela mengumpulkan bungkus bungkus kopi tersebut, dan alhamdulillah hasil dari bungkus bungkus kopi yang sudah berupa barang tersebut, hasilnya bisa untuk tambahan belanja, disamping saya bisa berbagi dengan orang lain.Selain itu juga saya merasa sudah berbuat kebaikan, paling tidak dapat mengurangi sampah di dusun kami," pungkas Mella, saat Jurnalis Warga (JW) mendatangi rumahnya, Sabtu (10/3).NK

Related Posts:

Berharap Kursi Roda Sebagai Penopang Tubuh

Afifah saat dirumah- foto Nurkhasanah


Kedungoleng-(suarapaguyangan.com)-Afifah, itulah nama panggilan sehari hari yang sering terdengar dari warga sekitar. Nama lengkapnya Afifah khoerunissa, lahir pada tanggal 24 September 2012, adalah pasangan dari Dakam Masturo (54) dan Toyati (45). Keluarga sederhana ini tinggal di Dukuh Cipanas, RT 005/RW 003 Kelurahan Kedungoleng.

Toyati, sebagai seorang ibu, merasa sangat sedih dengan keadaan Afifah yang setiap hari tidak bisa melakukan apa apa selain berbaring dan berbaring. Ayah Afifah, Dakam masturo adalah seorang pekerja perantauan di ibukota, jarang sekali pulang kampung, sehingga sehari hari, Toyati-lah yang mengurus Afifah.

"Semenjak lahir, Afifah terlihat normal layaknya bayi pada umumnya.Kejanggalan mulai kami rasakan pada saat anak anak seumuran dia sudah bisa merangkak, duduk, bahkan berdiri, tapi Afifah kok masih berbaring saja," kenang Toyati.

"Usianya saat ini sudah mau 6 tahun, sudah saatnya harus bersekolah, tapi apakah dia mampu dengan keadaannya yang seperti ini untuk sekolah?karena organ tubuh lain pun ikut terganggu, dia sulit untuk bicara," ungkapnya lagi.

Saat ditemui Jurnalis Warga di kediamannya, Rabu (7/3), Toyati mengatakan saat ini ia sangat membutuhkan kursi roda untuk menopang tubuh Afifah.

"Saya sangat berharap sekali, ada orang yang mau berbelas hati, membantu beban kami memberikan kursi roda untuk Afifah, agar hari harinya tidak selalu diisi dengan berbaring," harap Toyati.

Masih ditambahkan Toyati, bahkan keinginannya yang teramat sangat dalam benaknya untuk membelikan kursi roda untuk Afifah, ia rela kalau harus menjual sepeda motor bututnya, walaupun ia masih dalam kebingungan, karena motor butut tersebut juga sebagai mata pencaharian disaat suaminya di rumah.(NK)

Related Posts:

Kepala Desa Kedungoleng Serahkan 37 Akta Kelahiran Hasil Verifikasi Tim Selapanan

Penyerahan Akta Kelahiran Kepada Tim Selapanan Desa Kedungoleng Kecamatan Paguyangan


Kedungoleng (suarapaguyangan.com) - Kepala Desa Kedungoleng Usman Salim menyerahkan 37 akta kelahiran kepada tim selapanan di aula Balai Desa Kedungoleng, pada acara Musyawarah Desa (Musdes) rabu (28/2).

Ke 37 akta kelahiran tersebut merupakan hasil dari verifikasi data Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat (SIPBM) tahun 2017 yang dilakukan oleh tim selapanan Desa Kedungoleng Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes.

Salim mengatakan, seluruh warga harus berperan aktif dalam pendataan akte kelahiran.

" Segenap warga Kedungoleng , mulai dari kadus 1 sampai kadus 4,  kami harap, mulai saat ini saling membantu baik untuk Rukun Tetangga (RT), maupun Rukun Warga (RW), tokoh masyarakat maupun tim selapanan, dalam memberikan informasi tentang anak anak yang belum memiliki akta kelahiran usia 0 sampai 18 tahun, agar mereka bisa segera memilikinya," tegas Salim.

Suratiningsih (38), merasa pekerjaannya tidak sia sia, terbukti dengan adanya 37 akte kelahiran yang sudah selesai dibuat, ia juga berharap masyarakat semakin sadar pentingnya sebuah akta kelahiran.

" Kami merasa senang akhirnya pekerjaan yang kami lakukan membuahkan hasil, kami memverifikasi data anak yang belum memiliki akta kelahiran, kemudian kami datangi dan kami sosialisasikan tentang syarat pembuatan dan pentingnya akta kelahiran, setelah semua syarat terpenuhi kami hubungi tim kecamatan, dan tim Dindukcapil kemudian membuatkan akta tersebut," ujarnya.

Ningsih juga menambahkan, semua kerja kerasnya karena kerja tim dan pihak lainnya yang telah membantu percepatan kepemilikan akta kelahiran di Desa Kedungoleng.

" Terimakasih kepada Dindukcapil, tim formasi, dan semua pihak yang terkait, mudah mudahan dengan adanya percepatan pemilikan akta kelahiran ini, akan semakin meningkatkan kesadaran warga tentang begitu pentingnya sebuah kebenaran tentang kelahiran seorang anak," pungkasnya. (NK)

Related Posts:

PPKH Paguyangan Galang Dana

Penggalangan dana - foto Lidia

PAGUYANGAN (suarapaguyangan.com)- Pendamping Program Keluarga Harapan (PPKH) Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes melakukan penggalangan dana ke setiap instansi dan masyarakat yang berada di lingkungan Kantor PPKH untuk Korban bencana di Kabupaten Brebes, Jumat (23/2).

Koordinator PPKH Kecamatan Paguyangan Akmari mengatakan, penggalangan dana ini untuk melatih pendamping PKH untuk peduli terhadap musibah yang terjadi. Selain itu untuk mengajak masyarakat berempati kepada saudaranya yang tertimpa musibah. Kepedulian ini sangat dibutuhkan mengingat banyak masyarakat Brebes yang tertimpa musibah.

"Sedikit bantuan untuk mereka yang tertimpa bencana dan untuk meringankan beban penderitaan keluarga minimal tercukupi kebutuhan pokok selama situasi darurat bencana," katanya.

Akmari menambahkan, dana yang terhimpun akan dibelikan paket bahan pangan untuk korban bencana. Dari penggalangan ini terkumpul dana hampir Rp 2 juta. Dana itu akan dibelikan paket bahan pangan yang dibagikan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang terkena dampak bencana banjir dan longsor.

Masih menurut akmari, keberadaan pendamping PKH di tengah masyarakat akan lebih dirasakan jika mampu berkreatif, memiliki rasa empati, kepedulian dan terlibat langsung di masyarakat. Sehingga dalam menjalankan program Kementerian Sosial ini pendamping PKH bisa merasakan kesulitan warga prasejahtera.

Salah seorang pendamping PKH Hikmawati mengatakan, dengan keterlibatannya dalam penggalangan dana untuk korban bencana ini dirinya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Mereka rela meninggalkan rumah untuk mengungsi demi menyelamatkan diri dan tidak memikirkan apa yang telah ditinggalkan di rumahnya.

"Terlibat dalam penggalangan dana ini saya bisa merasakan bagaimana sulitnya keadaan saat ditimpa bencana. Bantuan ini bisa sedikit bermanfaat dan banyak orang tergerak hatinya agar bisa membantu sesama dan terima kasih kepada instasi yang berada di kecamatan yang telah menyumbangkan sedikit rezekinya untuk korban bencana di Kabupaten Brebes," tandasnya.(LA/fid)

Related Posts:

Serah Terima 137 Akte Kelahiran dari Kadindukcapil ke Kecamatan

Penyerahan Akta Kelahiran 3 Desa Di Kecamatan Paguyangan dari Kadisdukcapil ke Camat Paguyangan - Foto Nurkhasanah

Paguyangan-(suarapaguyangan.com)-137 Akte Kelahiran yang sudah selesai diproses, diserahkan oleh Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ka dindukcapil) Kabupaten Brebes , Drs. Asmuni, M.Si kepada Akhmad Hermanto, S.IP Camat Paguyangan di Aula KUA Kecamatan Paguyangan, Rabu (21/2).

Asmuni berharap kepada semua warga, terutama tim selapanan sebagai ujung tombak langsung ke warga, agar setiap warga yang belum memiliki akte kelahiran bisa segera memilikinya, dengan melengkapi persyaratan permohonan Akte kelahiran.

"Sesuai dengan Peraturan Bupati (Perbup) no 116 mengenai pelayanan adminduk, dalam rangka percepatan akte kelahiran, ada beberapa perubahan, diantaranya pembuatan akte kelahiran usia 0-18 tahun tidak dipungut biaya, dipercepat pelayanannya dan dipermudah persyaratannya," terangnya.

"Kami berterimakasih kepada tim forum masyarakat sipil (formasi), juga kompak yang telah mendorong kami untuk melaksanakan percepatan akte kelahiran, karena peningkatan tersebut mencapai 83,39 %, itu sudah luar biasa, dan itu sudah menunjukan komitmen atau bukti dukcapil terhadap pelayanan dasar," imbuhnya.

Nurhakim, fasilitator desa Kedungoleng berharap tim selapanan dapat merevisi kembali data permohonan akte yang terpaksa dikembalikan karena kurang persyaratan.

"137 akte kelahiran yang sudah jadi tersebut mencakup 3 desa percontohan.untuk berkas berkas yang terpaksa dikembalikan  karena kurang persyaratan, tugas tim selapanan yang nantinya merevisi, melengkapi data data yang belum lengkap agar nantinya dapat diajukan kembali," pungkasnya.(NK)

Related Posts:

Musyawarah Dusun Dalam Rangka Percepatan Akta Kelahiran

Acara Musdus Desa Kedungoleng

Kedungoleng-(suarapaguyangan.com)-Sekitar 20 Warga terdiri dari Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) mengadakan acara Musyawarah Dusun (Musdus) di rumah Nurkhasanah (41)di Dukuh Dawuhan, Kelurahan Kedungoleng, Kecamatan Paguyangan, Selasa (20/2). Acara musdus juga dihadiri oleh beberapa perempuan, wakil dari selapanan.

Nurhakim, selaku fasilitator desa Kedungoleng mengatakan, acara ini bertujuan untuk percepatan akte kelahiran untuk anak usia 0-18 tahun.

"Tujuan kegiatan ini agar tokoh masyarakat bersama tim selapanan berkoordinasi dengan warga, mendata anak anak usia 0-18 tahun yang belum mempunyai akte kelahiran, agar segera mempunyai akte kelahiran secara gratis," tegas Nurhakim.

Masih menurut Nurhakim, Data yang sudah terkumpul, nantinya akan di bawa ke desa dalam Musyawarah Desa (Musdes), dan akan segera ditindaklanjuti oleh tim selapanan guna melengkapi persyaratan lainnya, diantaranya pengisian formulir permohonan akte, menyertakan fotokopi KTP 2 orang saksi, dan mengisi Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM), baik untuk perkawinan maupun kelahiran," tuturnya.

Mustaim (47), ketua RT 03 RW 04 Dukuh Cilancing-Kedungoleng merasa senang karena dilibatkan dalam kegiatan musdus.

"Kami sangat senang dengan adanya musdus ini, karena merasa dilibatkan dalam kegiatan desa.Mengenai data anak anak yang belum mempunyai akte kelahiran, kami siap membantu selapanan, mudah mudahan, anak anak desa Kedungoleng nantinya bisa mempunyai akte semua," harap Musta'im.(NK)

Related Posts: