Kompak Fasilitasi Ujicoba Mekanisme Koordinasi Kecamatan Untuk Memperkuat Peran Kecamatan

Suasana Kegiatan Ujicoba Mekanisme Koordinasi Kecamatan di Aula Kecamatan Paguyangan


Paguyangan (suarapaguyangn.com) - Kabupaten Brebes telah menerbitkan Peraturan Bupati Nomor 082 Tahun 2017 tentang Tata Cara Pelaksanaan sebagian Kewenangan Bupati  yang dilimpahkan kepada Camat dan Surat Keputusan Bupati Brebes  Nomor 138/483 Tahun 2017 tentang perlimpahan sebagian kewenangan Bupatu kepada Camat. Guna memperkuat peran kecamatan sebagai Lini Terdepan pelayanan serta mengimplementasikan kewenangan yang dilimpahkan kepada camat, diperlukan suatu mekanisme koordinasi di tingkat kecamatan. Selama ini telah terlaksana rapat koordinasi rutin di tingkat kecamatan, namun sebagian besar kalangan menganggap perlunya perbaikan mekanisme koordinasi tersebut menjadi lebih efektif, efisien dan berkualitas. 

Disampaikan Mohamad Bisri selaku Frontline Service Coordinator dari Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan Untuk Kesejahteraan (KOMPAK) Provinsi Jawa Tengah dalam acara Uji Coba Mekanisme Koordinasi Kecamatan Dalam Rangka Memperkuat peran Kecamatan sebagai Lini terdepan Pelayanan di Aula Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Selasa (19/12)

" Selama ini Rapat Koordinasi tingkat kecamatan hanya berlangsung satu arah dari kecamatan saja sementara peserta hanya menjadi pendengar. Kita ingin rapat koordinasi berlangsung semua arah dari orang dan pihak terkait yang di undang dalam rapat koordinasi terlibat dalam proses diskusi perumusan sesuatu yang menjadi PR bersama atau komitmen bersama, sehingga persoalan persoalan yang ada di Kecamatan Paguyangan bisa di diskusikan dan bisa dicarikan solusi." tambahanya.

Masih menurut Bisri, Kita buat rakor hari ini dengan model uji coba diskusi yang harapanya agar semua peserta mempunyai peran yang sama dalam menentukan masalah utama ,alternatif pemecahan masalah, prioritas  pemecahan masalah, kegiatan rinci, aktor atau pelaku dan waktu yang disepakati dalam tiga bulan kedepan. Nantinya Camat memonitoring dan mengevaluasi sejauh mana langkah langkah yang dilakukan rapat apakah ada progres dalam implementasi apa yang disepakati hari ini dalam rapat bulanan."

Adhitya Trihatmoko, S.STP
Kasubbag Pemerintahan Umum Bagian Tapem Setda Kabupaten Brebes mengatakan Kegiatan Uji coba ini bisa dilanjutkan dan di adopsi untuk kecamatan lainnya.

" Kegiatan ini dalam rangka untuk memperoleh informasi sekaligus sebagai tindak lanjut bagaimana kita mengatisipasi untuk kegiatan dalam pelaksanaan pelayanan di kecamatan seperti Pendidikan, Kesehatan, Adminduk dan Tata Kelola . Hasil pendampingan ini bisa melaksanakan identifikasi terkait pelimpahan wewenang  yang ada di Kabupaten Brebes. Harapannya kegiatan ini bisa dilanjutkan dengan suport dari teman teman kecamatan karena kedepan hasilnya akan di adopsi untuk kecamatan - kecamatan lainnya. Hasil yang baik akan di terapkan baik pula di kecamatan. 

Hermanto selaku Camat Kecamatan Paguyangan mengaku Rakor kali ini berbeda dari biasanya 

" Rakor kali ini berlangsung berbeda dari biasanya yang kita laksanakan karena model rakor adalah diskusi untuk menggali permasalahan dan mempertajam solusi tentang permasalahan khususnya Layanan dasar Pendidikan , Kesehatan, Adminduk dan Tata Kelola. Semua peserta mendapat kesempatan yang sama untuk menyampaikan masalah.

Dr. Mudrikah salah satu peserta Rakor dari Kesehatan sangat mengapresiasi.

" Kegiatan rakor seperti ini sangat menarik sekali, kita bisa duduk bersama dan tidak ada sekat atau pemisah dan permasalahan menjadi milik bersama dan kita mencari solusi bersama. (LA)

Related Posts:

Rakor Forum Kesehatan Desa Wanatirta

Suasana Rapat Koordinasi FKD Desa Wanatirta Kecamatan Paguyangan


Wanatirta (suarapagutangan.com) - Forum Kesehatan Desa (FKD)  merupakan wadah partisipasi bagi masyarakat dalam mengembangkan pembangunan kesehatan di tingkat desa, dengan adanya FKD ini bisa meningkatkan kesehatan warga masyarakat, tujuan FKD untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. 

Demikian disampaikan Masdar Helmi, S.Kep selaku bagian Promosi Kesehatan (Promkes) Puskesmas Paguyangan dalam acara Rapat Koordinasi FKD di Balaidesa Wanatirta, Senin (18/12).

Menurut Helmi, FKD juga mempunyai fungsi untuk mengembangkan  sistem kesehatan desa yang meliputi  kegiatan gotong royong masyarakat, upaya kesehatan, pengamatan dan pemantauan kesehatan (surveling), dan pembiayan kesehatan. Selain itu, FKD juga sebagai wadah untuk merumuskan dan memecahkan masalah kesehatan di desa.

" Dengan Adanya FKD diharapkan Desa Wanatirta turut aktif membangun kesehatan di desa dalam menghadapi desa siaga mandiri karena Desa Wanatirta masih madya, dengan adanya FKD bisa sewaktu waktu berkembang," tuturnya.

Salah satu peserta dari Kepala RW 04 Topik, menginginkan adanya sosialisasi ke sekolah agar anak anak sekolah tidak membuang sampah di sungai.

" Dilingkungan RW 04 ada sekolah SD yang deket sungai, saya menginginkan pihak puskesmas agar mensosialisasikan kepada anak-anak sekolah dan pedagang agar tidak membuang sampah di sungai karena sampah itu akan mengalir kesawah sawah yang akibatnya sawah menjadi tercemar," ungkapnya.

Sementara bidan desa Rihastuti, Amd, Keb sudah semaksimal mungkin melaksanakan kegiatan FKD dalam pelayanan Posyandu

" Saya beserta kader Posyandu sudah melaksanakan kegiatan FKD seperti sosialisasi tentang penyakit difteri yang sedang booming saat ini, kepada semua masyarakat Desa Wanatirta melalui pos posyandu yang ada, serts Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kesehatan anak dan  ibu hamil. (LA)

Related Posts:

Seleksi BUMDes Desa Wanatirta Didominasi Kaum Perempuan

Peserta seleksi BUMDes Desa Wanatirta rata-rata perempuan


Wanatirta - Calon peserta tes pembentukan pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Wanatirta 75 persen didominasi kaum perempuan dari 25 peserta. Tes ini terdiri dari dua sesi yaitu sesi pertama tes tertulis dan sesi kedua tes wawancara dengan tim penilai dari Pendamping Desa (PD) Kecamatan Paguyangan dan Perwakilan dari PMD Kecamatan Paguyangan yang hasilnya di umumkan secara langsung agar transparansi dan tidak ada pikiran bahwa hasilnya ada campur tangan dari pihak lain.

Hal tersebut disampaikan Mohammad Ari (40) selaku ketua panitia penyelenggara seleksi Pengurus BUMDes Desa Wanatirta Di Balaidesa Wanatirta, Senin (18/12)

Ari menambahkan, siapapun nanti yang terpilih diharapkan mampu untuk mengelola BUMDes sehingga bisa mensejahrterakan masyarakat.

"Tes ini bertujuan untuk mencari bibit unggul yang berkualitas agar dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, mampu mensejahterakan masyarakat lewat pengelolaan BUMDes yang baik dan dapat menjalankan otonomi desa," tambahnya.

Niswatun Azizah (23) salah satu peserta dari RT 5 RW 1 mengatakan, ikut seleksi pengurus BUMDes ingin memajukan desa

" Saya mengikuti seleksi Pengurus BUMDes ini ingin memajukan desa lewat kegiatan yang ada di BUMDes dan juga ingin membuka lowongan pekerjaan bagi masyarakat khususnya Desa Wanatirta agar bisa membantu perekonomian keluarga," katanya.

Hal senada juga disampaikan oleh Suryaningsih (38), selain untuk memajukan desanya dia mengikuti seleksi BUMDes juga ingin mencari pengalaman.

" Kalo saya mengikuti seleksi ini untuk mencari pengalaman, bagaimana mengelola usaha -usaha yang ada di desa agar bermanfaat, pastinya kalau sudah berpengalaman dan bisa menjalankan BUMDes tersebut bisa mensejahterakan masyarakat," ungkapnya .(LA)

Related Posts:

Berita Jurnalis Warga Harus Mengedukasi Masyarakat

Suasana mentoring reguler dirumah jurnalis warga Desa Paguyangan Kecamatan Paguyangan


Paguyangan (suarapaguyangan.com) - Jurnalis Warga (JW) menjadi model untuk jembatan informasi dan keterbukaan informasi dari pemerintah desa ke masyarakat dan dari masyarakat ke pemerintah. JW juga bisa memberikan edukasi kepada masyarakat tentang apa yang ada di lingkungan kita. 

Hal tersebut dikatakan Adi Assegaf selaku Koordinator Jurnalis Warga (KJW) dalam Monitoring Reguler di rumah Vera Shinta, Minggu (17/12)

Menurut Adi, sudah saatnya JW Paguyangan untuk naik kelas, naik kelas yang dimaksud adalah tulisan dari berita JW harus sudah mulai terstruktur dan rapi.
" JW sudah mendapatkan materi tentang bagaimana teknik membuat reportase, bagaimana berita yang baik dan pemilihan penulisan kata yang baik, serta berita tersebut setidaknya harus bisa mengedukasi masyarakat, bukan berita yang hoax. Untuk itu JW sudah saatnya menulis dengan terstruktur supaya editor tidak terlalu banyak mengedit berita yang dibuat oleh JW, dan berita tersebut jangan lupakan unsur 5w + 1h," tuturnya.

Masih menurut Adi, berita seperti sosialisasi, kunjungan atau berita yang sifatnya ceremonial itu harus langsung di buat karena kalo menulisnya lebih dari 2 hari berita tersebut sudah basi. Jadi harus dibiasakan menulis berita pada saat selesai kegiatan, atau menulis berita setelah melihat langsung peristiwa dan mencari narasumber untuk diwawancarai.

Riska (25) salah satu JW dari Desa Pagojengan sudah mulai mengerti cara membuat berita yang baik.

" Pendalaman materi hari ini membuat saya lebih paham lagi bagaimana membuat berita yang baik dan seimbang dengan pemerintah desa atau pihak terkait,  kesalahan berita yang saya buat saya sudah mulai mengerti. (LA)

Related Posts:

Disdukcapil Serahkan 100 Akta Kelahiran Program Jempol Kalih

Penyerahan Akta Kelahiran Program Jempol Kalih kepada UPT Dindikpora Kecamatan Paguyangan.


Paguyangan (suarapaguyangan.com) -Akta kelahiran adalah bukti otentik yang sah, mengenai status dan peristiwa kelahiran seseorang yang dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Untuk melakukan percepatan kepemilikan akte kelahiran di Kabupaten Brebes Disdukcapil sudah bekerjasama dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga melalui program Jemput Bola Akta Kelahiran dan KTP di Sekolah (Jempol Kalih). Dari program itulah sebanyak 100 akta kelahiran yang sudah jadi kami serahkan untuk Kecamatan Paguyangan melalui UPTDikpora.

Demikian disampaikan Eko Setiawan selaku perwakilan dari Disdukcapil di Aula Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes Jawa Tengah, Jumat kemarin (16/12).

Armas Penilik Pendidikan non formal dan informal(PNFI) Dari UPTDikpora berharap semoga program Jempol Kalih berkelanjutan.

" Saya mengucapkan terima kasih kepada disdukcapil karena Akta kelahiran ini membantu anak anak dari keluarga tidak mampu yang berada di sekolah khususnya tingkat SD-SMP yang memang sangat membutuhkan akta ini. Saya berharap program Jempol Kalih terus berkelanjutan karena masih banyak anak anak sekolah yang belum memiliki akta kelahiran," ungkapnya.

Sekretaris Camat Paguyangan Darto, berharap tidak ada lagi anak yang tidak punya akta kelahiran.

" Saya berharap masyarakat di Kecamatan Paguyangan kesadaran untuk membuat akta kelahiran semakin meningkat, karena dari Disdukcapil sudah memberikan kemudahan, dan saya berharap semua anak di Kecamatan Paguyangan 100% sudah punya akta kelahiran," tandasnya. (LA)

Related Posts:

KOMINFO Survei 2 Kecamatan Blank Spot di Brebes

Kunjungan Kementerian Kominfo dan Dinkominfotik Brebes ke Desa Kedungoleng Kecamatan Paguyangan


Paguyangan (cbmnews.net) -  Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Dinas Komunikasi informatika dan Statistik (Dinkominfotik) Kabupaten Brebes melakukan survei Base Transceiver Station (BTS) ke dua desa yaitu Desa Cipetung dan Desa Kedungoleng Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes Jawa Tengah.

Kepala Dinkominfotik Kabupaten Brebes Johari Mengatakan, di Kabupaten Brebes masih ada 25 area blank spot atau wilayah yang tidak ada sinyal, hari ini dari Kominfo mensurvei 2 Kecamatan yaitu di Kecamatan Salem dan Kecamatan Paguyangan.

" Survei ini merupakan tindaklanjut dari pertemuan di Jakarta pada tanggal 12 desember kemarin di Jakarta, Insya Allah  Kabupaten Brebes akan mendapat 3 BTS yaitu di Kecamatan Salem dan Kecamatan Paguyangan. Untuk Kecamatan Paguyangan ada 2 Desa yaitu Desa Cipetung, yang sejak ada handphone sampai sekarang masih belum ada sinyal, dan satunya Desa Kedungoleng dimana di desa tersebut ada lokasi wisata, yang setiap hari libur banyak dikunjungi warga dari kecamatan lain, namun sinyal handphone masih susah," ungkap Johari.

Kementrian Komunikasi dan Informatika yang diwakili Drs. Dadang Irwanto S, M.Si saat berkunjung ke Pemandian Air Panas Tirta Husada Desa KedungOleng Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes, Rabu 14/12.

" Kami memfasilitasi masyarakat untuk kemudahan internet, tinggal kemauan masyarakatnya, jika masyarakat mau, kita bangun tower pemancar dan kita buatkan titik pancar, serta BTS untuk desa yang benar-benar tidak ada sinyal handpone untuk memudahkan komunikasi masyarakat di desa tersebut," katanya.

Kepala Desa Kedungoleng Salim Usman menanggapi positif tawaran dari Dinkominfotik Kabupaten Brebes

" Saya sangat berterimakasih sekali  kalau Desa Kedungoleng akan dibangun tower, tower ini akan dibangun di tanah bengkok desa karena nantinya bisa menjadi pemasukan untuk desa. Tower jaringan internet ini diharapkan dapat  mempermudah masyarakat dalam berkomunikasi, bisa juga untuk menambah daya tarik para wisatawan agar mau berkunjung ke desa Kedungoleng," Tandasnya. (WD)

Related Posts:

Masyarakat Harus Aktif Dalam Kontrol Kinerja Layanan Dasar

Suasana FGD Pemetaan Kualitas Layanan Kesehatan dan Catatan Sipil 


Paguyangan (suarapaguyangan.com) - Kunci efektifitas pelaksanaan kebijakan publik adalah keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan proses pengambilan kebijakan publik mulai dari tingkat desa sampai kabupaten.

Demikian dikatakan Yusuf Murtiono, selaku Direktur Formasi dalam acara Focus Group Discussion, Pemetaan Kualitas Layanan Kesehatan dan Catatan Sipil serta Mekanisme Penanganan Pengaduan Masyarakat, di 3 Kecamatan: Paguyangan - Belik - Petung Kriyono, Jum'at (8/12), di Aula Kecamatan.

Menurut Yusuf, apapun dan bagaimanapun bentuknya, masyarakat adalah pemegang manfaat utama, sehingga sangat dibenarkan apabila masyarakat mempunyai keberanian ataupun nalar kritis untuk secara aktif terlibat  dalam melakukan kontrol kinerja penyelenggaraan 3 layanan dasar.

" Tujuan diskusi ini adalah untuk menemukan permasalan kualitas layanan kesehatan, catatan sipil dan sistem pengaduan yang selama ini telah dibangun oleh unit layanan di 3 kecamatan, secara umum, dan tujuan secara  khusus diantaranya untuk melakukan pemetaan permasalahan layanan kesehatan di puskesmas dan layanan catatan sipil di kecamatan serta sistem penanganan pengaduan yang ada," ungkapnya.

Salah satu kader posyandu Kedungoleng, Melani (35) mengeluhkan sistem 5 meja yang masih kurang lengkap.

" Posyandu Kedungoleng masih kurang lengkap dalam menerapkan sistem 5 meja, sehingga peserta posyandu yang jumlahnya cukup banyak tersebut masih duduk lesehan di lantai," jelas Melani.

Acara yang dihadiri sekitar 25 peserta tersebut berlangsung lebih hidup dan cooperatif, karena masing masing peserta perwakilan dari masing masing desa aktif dalam menyampaikan keluhan maupun usulan dengan disertai rekomendasi dari usulan usulan tersebut. (NK)

Related Posts:

Yusuf Murtino : Masyarakat Bisa Mengadu Jika Hak Terabaikan


Suasana Kegiatan FGD Pemetaan Kualitas Layanan Kesehatan dan Adminduk di Aula Paguyangan 

Paguyangan (suarapaguyangan.com) - Yusuf Murtiono sebagai Direktur Forum Masyarakat Sipil (Formasi) menyampaikan dihadapan peserta Focus Group Discusion (FGD) Pemtaaan Kualitas Layanan Kesehatan dan Adminduk, apabila masyarakat merasa tidak puas mereka harus tahu kemana mengadu, karena masyarakat punya hak untuk mendapat pelayanan terbaik.

" Diskusi ini diharapkan akan diketahui masalah pelayanan yang ada dan bagaimana bentuk pelayanan pengaduan yang tepat untuk memperbaiki pelayanan terhadap masyarakat, Kualitas kebijakan dan pelayanan publik tidak hanya ditentukan oleh kualitas dokumen regulasi yang baik, tetapi keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan proses pengambilan kebijakan publik mulai dari tingkat desa sampai kabupaten. Secara umum fokus grup diskusi ini bertujuan menemukan permasalahan kualitas layanan kesehatan, catatan sipil dan sistem pengaduan yang selama ini telah di bangun oleh unit layanan kecamatan," Imbuhnya. 

Camat Paguyangan Hermanto menyampaikan bahwa peserta di minta aktif dalam menyampaikan informasi atau saran dan pengalaman ketika mendapatkan pelayanan yang tidak baik pada unit pelayanan kesehatan dan Adminduk.

"Pengalaman permasalahan itu harus disampaikan untuk evaluasi kita bersama dan mudah-mudahan hasil dari diskusi ini sebagai acuan kita dalam merespon penanganan pengaduan dari masyarakat mengenai pelayanan di Kecamatan Paguyangan,"  kata Hermanto. Jum'at (8/12) Kemarin.

Sementara itu, salah satu anggota selapanan dari Kedungoleng, Melani mengungkapkan mungkin selama ini agak risik menyampaikan keluhan antara selapanan dengan Pemerintah desa, namun dengan adanya FGD jadi lebih terbuka dengan permasalahan yang ada dan diharapkan kerjasama lebih kompak.

Rihastuti bidan Desa Wanatirta juga mengatakan dengan mengikuti FGD bisa menyampaikan permasalahan yang ada di pelayanan kesehatan untuk kebaikan kedepannya. Suasana yang kekeluargaan dan terbuka menjadi jembatan untuk pengaduan. 

Kegiatan FGD dihadiri beberapa perwakilan dari desa di Kecamatan Paguyangan yang berhubungan dengan layanan kesehatan dan adminduk,. (VS)

Related Posts:

Perempuan Lansia Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes mengikuti senam PROLANIS


Senam Prolanis Kecamatan Paguyangan - Foto VS JW Paguyangan

Paguyangan (suarapaguyangan.com) - Senam PROLANIS adalah senam kesehatan keluarga yang mengikuti program BPJS dan ini diikuti warga Kecamatan Paguyangan, kegiatan ini dilaksanakan di halaman rumah dr. Mudrikah. Senam PROLANIS lebih ditujukan bagi para Lanjut usia (Lansia) , sebagai upaya untuk meningkatkan pemeliharaan kesehatan dan meningkatkan aktifitas fisik.

Mudrikah, sebagai dokter yang menyediakan tempat dan menggiatkan warga untuk mengikuti senam PROLANIS ini mengatakan, dengan mengikuti senam otomatis kita akan mau bergerak dan keluar keringat sehingga akan menyehatkan badan. 

"Kesehatan itu sangat penting bagi kita, lebih baik menjaga kesehatan daripada kita harus keluar uang untuk berobat", ujarnya. Minggu (10/12)

Senam ini gratis bagi semua orang, di pandu oleh pelatih senam dan peserta tinggal mengikuti gerakannya. Kegiatan ini lebih banyak diikuti perempuan, baik yang sudah Lansia ataupun masih muda. Ada beberapa lelaki yang ikut senam sekalian mengantar istrinya.

Siti Ratna Yulianti (58) salah satu peserta senam dari Desa Paguyangan mengatakan, setelah beberapa kali ikut senam Prolanis merasakan badan tidak mudah capek dan jadi segar.

Senam PROLANIS diikuti warga sekitar Kecamatan Paguyangan, setiap peserta yang datang diharapkan pada Minggu berikutnya mengajak warga lain sehingga bisa menularkan semangat sehat, terutama para Lansia. (VS)

Related Posts:

Nidah Wanatirta Berdagang Kelontong Untuk Mencukupi Kebutuhan Keluarganya

Nidah Warga Wanatirta Paguyangan Berharap Modal Usaha - Foto HP JW Wanatirta

Wanatirta ( suarapaguyangan.com) - Hidup dengan keluarga utuh menjadi dambaan setiap keluarga, namun tidak semua yang hidup di desa, keluarganya bisa lengkap baik itu ada Suami, Ibu, Anak, seperti halnya Nidah (48) seorang janda yang tinggal suaminya karena sudah meninggal 20 tahun yang lalu. Warga Dukuh Kedawung RT 001/003 Desa Wanatirta Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes harus rela bekerja membanting tulang demi menafkahi hidupnya dengan berdagang kelontong. 

" Setelah 20 tahun ditinggal suami untuk mencukupi kebutuhan hidup saya berdagang kecil kecilan. Karena tidak ada lagi yang mencari nafkah, kedua anak saya sudah menikah mereka tidak lagi membantu saya karena mereka harus mencukupi kebutuhan mereka sendiri. Walaupun modal dari meminjam uang di bank keliling yang penting saya mencari rezeki dengan halal dan tidak meminta-minta,"  ungkapnya. Rabu (13/12/2017).

Tetangganya bernama Rasih (50), ia merasa iba melihat kehidupan Nidah, namun dirinya sebenarnya ingin membantunya, namun karena dirinya juga bukan dari golongan keluarga yang mampu, sehingga hanya bisa mendoakan, dan berharap semoga ada pihak dermawan yang memberikan bantuan modal untuk janda ini. 

Sementara itu, Ketua RT 001/003 Mustolih (45) mengiyakan bahwa warganya yang  bernama Nidah memang orang miskin yang perlu dibantu.

" Nidah salah satu warga saya yang miskin yang memang perlu di bantu modal usaha, supaya nasibnya sedikit terangkat, " harapnya. ( HP JW Wanatirta Editor AA )

Related Posts:

JW Dalam Menulis Berita Harus Berimbang

Mentoring Reguler JW Kecamatan Paguyangan

Paguyangan (suarapaguyangan.com) - Jurnalis Warga (JW) merupakan jurnalis yang baik, karena meliput berita langsung pada narasumber dan melihat langsung kejadian sesuai kenyataannya.

Demikian disampaikan oleh Koordinator Jurnalis Warga (KJW) Adi Assegaf, saat melakukan mentoring reguler di Rumah Makan Rai Raka, yang dihadiri oleh JW di 5 desa di Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes Jawa Tengah, Senin (4/12).

Adi menambahkan, setiap peliputan berita minimal ada dua narasumber, baik dari orang diliput maupun orang luar yang yang mengetahui pokok bahasan atau tema yang sedang diliput.

" JW diharapkan sampai dengan desember akhir ini, terus menulis berita tentang layanan dasar yaitu kesehatan, pendidikan dan adminduk," tambahnya.

Mentoring reguler diikuti oleh Desa Wanatirta, Desa Cipetung, Desa Kedungoleng, Desa Paguyangan dan Desa Pagojengan sebanyak 11 orang JW dimana mentoring ini bertujuan untuk memperdalam materi, agar dapat meliput berita dengan kualitas yang baik dari segi penulisan maupun kata-kata yang di gunakan.

Selain itu, dalam penulisan berita harus menggunakan etika dalam penulisan berita, dan berita itu harus berimbang. 

Lidia Alfi (28) salah satu jurnalis warga dari Desa Wanatirta merasa senang, karena mentoring kali ini yang datang lebih banyak daei biasanya. 

" Mentoring kemarin buat saya sangat bermanfaat, Karena KJW mengulang materi yg telah lalu dan membuat saya ingat kembali, selain itu mentoring kemaren 85% JW Paguyangan sudah hadir jadi makin rame," tandasnya. (HP)

Related Posts:

Kanipah Wanatirta Tulang Punggung Keluarga Rela Jual Kupat Tahu Keliling

Kanipah Tulang Punggung Keluarga, Jual Kupat Tahu Keliling

Wanatirta (suarapaguyangan.com) - Cahaya rembulan malam hari, bagi Kanipah (47 th ) seorang penjual kupat tahu keliling Desa Wanatirta, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes menjadi awal bekerja, walaupun udara cukup dingin menusuk dibadannya, dan saat orang lain telah lelap tidur, namun dirinya Kanipah (47) membuat kupat untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. 

Status janda karena ditinggal suami 2 tahun yang lalu, harus memenuhi kebutuhan tiga anaknya dan dirinya. Usaha ini dimulai sejak 2016, dan dengan kerja keras dan rasa tanggungjawabnya untuk menekuni pekerjaan ini, dan sekarang menjadi tulang punggung keluarga. 

" Sebelum suami meninggal, pekerjaannya hanya sebagai ibu rumah tangga yang ikut dengan suami merantau di Jakarta. Setelah suami meninggal, kembali ke kampung halamannya, karena suami meninggal setelah saya melahirkan anak ketiga, sebagai ibu yang baru lahiran saya tidak mungkin bisa mengurus semuanya dan akhirnya saya pulang ke kampung. Pekerjaan apapun mulai dari buruh cuci gosok, jualan mangkal sudah saya lakukan untuk menyambung hidup tetapi semua tidak mencukupi malah saya banyak hutang ,akhirnya saya putuskan untuk jualan Kupat Tahu keliling," tutur Kanipah. Rabu (13/12/2017).

Wanita paruh baya  ini adalah seorang yang hebat. Walaupun dalam kondisi kekurangan tapi tidak ingin meminta belas kasihan orang, mau berusaha walaupun harus lelah karena keliling dengan berjalan kaki. Walau berdagang tetapi dia selalu mengerjakan pekerjaannya seorang diri. Mulai dari berbelanja bahan bahan untuk Kupat tahu, merebus kupat, menggoreng mie kuning, menggoreng bawang, menguleg bumbu, membuat adonan gorengan sampai siap di jajakan ia kerjakan sendiri. Biasanya ia berangkat untuk berdagang pukul 6 pagi sampai dengan pukul 12 siang.  Setelah itu, ia kembali ke rumah untuk mengurus rumah dan  anak  yang masih kecil. Begitulah rutinitasnya sehari-hari.

Semangat yang dimilikinya perlu dijadikan contoh. Rezeki bisa di dapat jika kita mau berusaha dan tidak malu. “Aku bukan orang yang senang berdiam diri, aku harus berjuang untuk ketiga anakku, aku ingin mereka bisa jajan seperti anak yang lain. Bukankah kalau kita mental akan prosesnya, itu lebih nikmat saat kita menuai hasil.” Tutur wanita berusia 47 tahun itu.

Selama menjalankan profesinya, Kanipah juga sering mengalami pasang surut. Banyak suka duka yang telah dialami. “ Suka dukanya kalo berdagang laris manis, terus ga di utang. Dukanya kalo dagangan tidak habis dan orang banyak yang utang. Untuk makan esok saja masih bingung apalagi belanja untuk modal daganganya besok ujarnya saat ditemui. (LA-JW Wanatirta Editor AA)

Related Posts:

Abid Salman Difabel Kedungoleng Berharap Sekolahnya Sampai Sarjana


Cita-Cita Abid Salman (4 th) Ingin Sekolah Tinggi 

Paguyangan (suarapaguyangan.com) - Mentari pagi bersinar cerah, secerah wajah mungil yang terpancar dari seorang anak kecil bernama Abid Salman (4), salah satu anak difabel yang tinggal di Desa Kedungoleng, Kecamatan Paguyangan. Biasanya penyandang disabilitas merasa rendah diri, atau minder dan kadang terisolasi dengan teman sebayanya, namun bagi Abid malahan mudah bergaul dengan siapa saja, baik di rumah maupun disekolah.

Ibu Abid bernama Astuti (35), dirinya merasa sangat bangga,  dan sangat mendukung segala kemauan Abid, selagi kemauannya tersebut mendukung demi perkembangan ke arah yang baik. " Sebagai orangtua, bagaimanapun keadaan anak saya, dia seorang anak yang butuh perhatian dan kasih sayang orangtuanya, berhak mendapat pendidikan sebagaimana anak anak normal lainnya",ungkap Astuti saat ditemui disekolah Abid, KB Puspajati, Desa Pakujati (8/12).

Lanjut Astuti, anaknya ini menderita kelainan bawaan sejak lahir. Hasil pemeriksaan dokter yang menangani kelahiran Abid saat itu, ternyata tidak mempunyai tulang belakang di kedua lengannya, sehingga membuat kedua tangannya, tidak mampu untuk memegang suatu benda, ataupun menangkap suatu benda, misalnya untuk makan, menulis, dan kegiatan lainnya, sekarang saat belajar atau beraktivitas kegiatan tersebut, Abid melakukannya dengan menggunakan kaki.

Walaupun begitu, Astuti mengakui kemauan Abid untuk belajar dan belajar seakan tidak pernah henti, termasuk keinginannya untuk sekolah di usia dini.  " Sejak umur 2,5 tahun anaknya selalu tak henti-hentinya untuk sekolah. Setiap teman-temannya yang lewat setiap pagi berangkat sekolah, Abid selalu minta dianter sekolah, karena itulah, walaupun usia masih 3 tahun, akhirnya saya masukkan ke Kelompok Bermain, dan saya merasa senang, ternyata Abid bisa berbaur dengan teman teman lainnya," ungkap puji Astuti.

Sementara itu, salah satu pendidik Kelompok Bermain Puspajati Suryani (45) mengatakan, kemampuan Abid terbilang luar biasa, terutama dalam bergaul dengan teman sebaya.

"Setiap hari Abid selalu bercerita di hadapan teman temannya,.kalau Abid ingin sekolah setinggi tingginya biar nanti jadi anak yang pintar," pungkasnya. NK-JW Kedungoleng Editor AA

Related Posts:

Yayasan MAI Bantu Rehab Rumah Yani Cipetung.

Perwakilan Yayasan Mandiri Amal Insani Memberikan Bantuan Rehab Rumah Keluarga Yani Desa Cipetung


Cipetung (suarapaguyangan.com) - Senyum manis terlihat dari wajah Yani dan keluarganya, saat rombongan dari Bank Mandiri mendatangi rumah Yani. Kedatangan dari Bank Mandiri adalah selaku perwakilan dari Yayasan Mandiri Amal Insani (MAI), yang akan memberikan bantuan bedah rumah untuk keluarga Yani, Desa Cipetung Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes Jawa Tengah, Selasa (5/12).

Branch Manager Bank Mandiri Cabang Brebes Nur Alfiyah atau biasa disapa Nunung mengatakan, bantuan tersebut dari Yayasan Mandiri Amal Insani (MAI) yang sebelumnya dilakukan survei.

" Yayasan MAI mendapatkan informasi dari berita yang ditulis di www.suarapaguyangan.com, tentang Yani yang butuh alat bantu jalan, namun katanya sudah dibantu oleh lainnya, akhirnya MAI membantu untuk rehab rumah keluarga Yani," kata Nunung.

Nunung menambahkan, setelah bantuan untuk rehab rumah ini diberikan, kami berharap segera untuk dibelanjakan dan dilakukan perehaban rumah agar menjadi rumah yang layak dan sehat.

Hal senada juga disampaikan Edy Junaedi, selaku Branch Operations Manager Bank Mandiri Cabang Brebes, Yayasan MAI memberikan bantuan rehab rumah untuk yani ini setelah sebelumnya disurvei oleh tim.

" Setelah disurvei oleh tim dari Yayasan MAI, akhirnya MAI sepakat membantu merehab rumah keluarga Yani sebesar Rp. 7 juta , namun tidak hanya itu MAI juga memberikan bantuan untuk permodalan usaha untuk pemberdayaan ekonomi keluarga Yani sebesar Rp.5 juta 500 ribu," ujar Edy.

Masih menurut Edy, permodalan untuk pemberdayaan ekonomi keluarga awalnya mau dibelikan kambing, namun karena beberapa pertimbangan salah satunya tidak ada tempat untuk kandang kambingnya. Maka keluarga Yani sepakat untuk membuat toko sembako dan alat-alat keperluan sekolah, karena dekat dengan sekolah dasar.

Karno dan Mursilah orang tua Yani mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Yayasan MAI yang sudah membantu rehab rumahnya.

" Kami sangat berteima kasih sebanyak-banyaknya kepada Bu Nunung dan Pak Edy perwakilan dari Yayasan MAI, yang telah membantu keluarga kami untuk merehab rumah dan memberikan permodalan untuk membantu perekonomian kami, sangat bermanfaat sekali," ujar mereka.

Kepala Desa Cipetung Sutrisno mengatakan, pihaknya sangat berterima kasih atas bantuan yang diberikan Yayasan MAI untuk warganya.

" Kami atas nama Pemerintah Desa Cipetung menyampaikan terima kasih kepada Yayasan MAI, yang telah membantu warga masyarakat Desa Cipetung," tandasnya. (IB)

Related Posts:

Ratusan Perempuan Wanatirta Padati Acara Maulid Nabi.

Ratusan Perempuan Antusias Hadiri Maulid Nabi di Desa Wanatirta Kec. Paguyangan


Wanatirta (suarapaguyangan.com) - Ratusan perempuan memadati halaman Masjid Nurul Amin Dukuh Kedawung Desa Wanatirta Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes dalam acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar oleh Wahana Aspirasi Pemuda Islam Kedawung (WAPIKA), Jum'at (1/12).

Abdurrohman selaku Ketua WAPIKA mengatakan, kegiatan ini memang kegiatan tahunan, khususnya untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus sebagai ajang silaturahmi warga dukuh kedawung.

" Inti acara ini adalah untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rosul yang menerangi dunia ini, dan juga sebagai ajang silaturahmi antar warga dukuh kedawung, karena tidak setiap hari bertemu. Selain itu dapat menambah keimanan dan ketaqwaan kita kepada Alloh SWT," katanya.

Abdurrahman juga menyampaikan, rasa terima kasih kepada warga yang telah hadir untuk mengikuti acara maulid nabi tersebut.

" Saya berterimakasih sekali karena antusias pengunjung untuk meramaikan acara ini, apalagi ibu ibu yang mau duduk di luar masjid sampai ke rumah-rumah warga karena tidak kebagian tempat duduk di dalam masjid," ujarnya.

Suyem (50), salah satu pedagang makanan ringan yang berjualan di sekitar komplek masjid mengaku sangat senang.

" Saya sangat senang sekali ada acara seperti ini, selain mendengarkan tausiah saya juga bisa sambil berjualan disini, apalagi banyak anak kecil yang jajan, tambahan rezeki buat saya," ungkapnya. (LA)

Related Posts:

Percepatan Kepemilikan Adminduk Bagi Masyarakat Melalui Media Kampanye.

Diskusi terarah untuk percepatan kepemilikan Adminduk melalui media kampanye


Brebes (suarapaguyangan.com) - Prosentase kepemilikan Administrasi Kependudukan ( Adminduk) di Kabupaten Brebes khususnya akta kelahiran data per 31 Oktober 2017 mencapai 66,09 persen, jadi masih sekitar 20 persen lagi yang harus di capai akhir tahun ini. Walaupun sangat berat tetapi kami optimis akhir tahun ini mencapai 80 persen pencapaian kepemilikan akte kelahiran untuk masyarakat Brebes.

Hal tersebut disampaikan Nunung Widyastuti perwakilan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Brebes, dalam acara Diskusi Terarah Uji Coba Media Kampanye Percepatan Kepemilikan Identitas Hukum Kabupaten Brebes Bersama KOMPAK dan PUSKAPA di Hotel Grand Dian Brebes, Rabu (29/11).

Menurut Nunung, untuk Disdukcapil Kabupaten Brebes sendiri sudah melakukan usaha-usaha agar pencapaian kepemilikan akte di Kabupaten Brebes tercapai.

"Disdukcapil sudah melakukan sosialisasi dan beberapa macam inovasi seperti Bangkit yang bekerjasama dengan fasilitas kesehatan, Jempol Kalih yang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga serta Saba Desa yang bekerjasama dengan desa-desa tapi ternyata tingkat pencapaianya belum maksimal," ujarnya.

Masih menurut Nunung, Semoga dengan media yang akan dibuat ini nantinya dapat membuka kesadaran masyarakat agar mau mengurus Adminduk khususnya akta kelahiran dan akta kematian dan membuka pikiran mereka bahwa Adminduk bukan dokumen yang hanya disimpan dan tidak ada fungsinya akan tetapi dokumen ini bisa bermanfaat untuk masa depan.

Rama dari Pusat Kajian dan Advokasi Perlindungan dan Kualitas Hidup Anak Universitas Indonesia( PUSKAPA UI) mengatakan Sekarang sosialisasi sudah dua arah

" Hal yang baru di lakukan rekan rekan pemerintah melibatkan organisasi masyarakat dan masyarakat untuk membuat satu pendekatan sosialisasi yang tadinya hanya satu arah sekarang dua arah karena target kita adalah masyarakat. Bagaimana perwakilan masyarakat punya andil untuk menentukan informasi seperti apa yang di butuhkan dan harus difasilitasi oleh pemerintah," ujar Rama.

Rama juga menambahkan, satu media yang di berikan ke masyarakat melalui dua pendekatan, yang pertama poster untuk akta kematian dan buku panduan akta kelahiran untuk agen sosialisasi.

" Kami berharap media ini dapat membantu dan mendorong masyarakat agar mereka terpengaruh, untuk secepatnya mengurusi kepemilikan adminduk seperti akta kelahiran dan kematian," tambahnya.

Lidia alfi salah satu perwakilan dari JW Paguyangan sangat antusias sekali mengikuti diskusi ini.

" Saya sangat antusias sekali mengikuti acara ini karena banyak sekali ilmu yang saya dapat, Bagaimana cara mensosialisasikan kepemilikan Adminduk khususnya akte kelahiran, karena di desa saya banyak sekali anak- anak usia 0-18 yang belum punya akte, karena salah satunya tidak ada buku nikah. Setelah mendapat ilmu seperti ini saya akan mensosialisasikan kepada masyarakat khususnya lingkungan tempat tinggal saya," tandasnya. (LA)

Related Posts:

Perwakilan Selapanan Dimintai Masukan Tentang Poster Akta Kematian.

Perwakilan selapanan dan disabilitas dari 3 desa di Kecamatan Paguyangan

Brebes (suarapaguyangan.com) - Masih banyak masyarakat khususnya di Kabupaten Brebes, yang masih awam atau belum tahu tentang apa itu akta kematian, dan apa manfaatnya bila mengurus akta kematian. Padahal ada beberapa manfaat yang dapat gunakan dari pengurusan akta kematian tersebut, diantaranya adalah untuk penutupan rekening bank, untuk menghapus iuran BPJS, untuk mengubah status kependudukan, untuk pembagian hak ahli waris, dan untuk tunjangan, juga hak pensiun.

Demikian disampaikan Rama, salah satu narasumber dari Pusat Kajian dan Advokasi Perlindungan dan Kualitas Hidup Anak Universitas Indonesia (PUSKAPA) UI, yang hadir pada saat acara Diskusi Terarah Uji Coba Media Kampanye Percepatan Kepemilikan Identitas Hukum Kabupaten Brebes, di Hotel Grand Dian, Rabu (29/11).

Menurut Rama, untuk mendapatkan akta kematian, jangan lupa untuk menyiapkan dokumen persyaratan, yaitu surat kematian dari desa atau rumah sakit, Kartu Keluarga (KK), dan KTP orang yang sudah meninggal, dan semua dokumen tersebut harus asli.

" Dokumen persyaratan yang dibawa harus asli, sebab KTP orang yang meninggal akan ditarik oleh petugas dari dinas, begitu juga dengan KK, karena KK akan diganti dengan KK yang baru yang sudah tidak ada nama orang yang sudah meninggal," ungkap Rama.

Dalam kegiatan diskusi media kampanye tersebut, PUSKAPA UI meminta masukan dari unsur masyarakat yang diwakili oleh perempuan yang tergabung dalam selapanan dan perwakilan dari disabilitas, untuk memberikan masukan terkait dengan media kampanye yaitu poster yang berisi tentang akta kematian.

Rama mengatakan, poster tersebut nantinya akan dibuat lebih besar ukurannya dan akan dipasang di tempat-tempat yang strategis.

" Poster ini nantinya akan diperbesar oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dindukcapil), namun sebelum dicetak dan diperbanyak, kita ingin ada masukan dari perwakilan masyarakat, mengenai warna, kata-kata, gambar dan manfaatnya," ujar Rama.

Suharti salah satu perwakilan dari anggota selapanan Desa Cipetung Kecamatan Paguyangan, menyampaikan, untuk warna sudah bagus, hanya warna dibawahnya yang berisi persyaratan agar warnanya lebih cerah sehingga masyarakat tertarik melihat dan membacanya.

" Untuk warna sudah, tinggal gambarnya bisa diganti dengan contoh gambar akta kematian yang asli, sehingga orang juga tahu bentuknya, kemudian untuk manfaatnya bisa diganti dengan kata-kata yang lebih mudah dimengerti oleh masyarakat di tingkat desa," ungkapnya.

Kasminah, perwakilan orangtua diffable dari Desa Kedungoleng Kecamatan Paguyangan juga menyampaiakan, intinya bagi masyarakat itu mudah dalam pembuatan dan pelayanan.

" Bagi masyarakat yang penting pembuatannya itu mudah, dan pelayanannya juga bagus tidak berbelit-belit, misalnya dalam pengurusannya bisa sehari jadi sehingga yang rumahnya jauh, pulangnya bisa membawa apa yang dimaksud," tandasnya. (NK)

Related Posts:

SMAN 1 Paguyangan Lestarikan Kesenian Daerah Melalui Pensi.

Para siswa sedang latihan untuk pensi


Paguyangan (suarapaguyangan.com) - Sebagai upaya untuk mengekspresikan bakat siswa - siswinya, SMA Negeri 1 Paguyangan Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes Jawa Tengah, gelar kegiatan kesenian daerah melalui Pentas Seni (Pensi) untuk menghidupkan kembali budaya daerah.

Haris Agep Zulfikar selaku guru kesenian disekolah tersebut mengatakan, kegiatan Pensi tersebut memang sudah masuk dalam kurikulum sekolah. 

" Kegiatan tersebut memang sudah menjadi agenda setiap tahunnya dan sudah masuk dalam kurikulum sekolah. Kegiatan Pensi ini ditujukan agar siswa dapat mengekspresikan bakat mereka dan mereka mampu tampil didepan umum," katanya. 

Haris menambahkan, kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh siswa kelas XII dengan tema yang berbeda-beda. Diantaranya, Ciung Wanara, Keong Emas, Hanoman, Jakatarub, Roro Jonggrang, dan Malin Kundang.

" Tema yang dibawa oleh siswa-siswi berbeda-beda, namun tetap menceritakan cerita yang menjadi budaya bangsa kita, karena siapa lagi yang akan melestarikan budaya bangsa kita selanjutnya, kalo bukan anak-anak muda kita," tuturnya.

Salah satu siswa Saofa Andani, sekaligus ketua Pensi kelas XII MIPA 1 mengatakan, dirinya sangat berantusias dengan kegiatan ini. 

" Saya dan teman-teman sangat senang karena kegiatan ini, bagi kami kegiatan Pensi ini bisa kami jadikan sebagai salah satu kesempatan untuk mengekspresikan bakat kami dalam bidang kesenian. Selain itu saya sendiri sangat berterimakasih kepada guru pembimbing dan sekolah yang telah memberikan kesempatan bagi semua siswa-siswi khususnya kelas XII untuk menampilkan bakat kami," ungkapnya. 

Hal senada juga disampaikan Kiki (18), salah satu penari lengger dalam drama Ciung Wanara. Ia mengatakan sengaja membawakan budaya lokal agar generasi penerus kita lebih mencintai lagi budaya sendiri. 

" Untuk tahun ini seluruh kelas XII sengaja mengambil tema yang berkaitan dengan kebudayaan sendiri. Selain untuk teman-teman, saya juga ingin lebih tau dan lebih mencintai budaya sendiri, kebetulan kelas kamipun membawakan
drama yang berjudul Ciung Wanara," jelas Kiki. (DE)

Related Posts: