Peran Perempuan Dalam Penyelenggaraan PILGUB 2018.

5 perempuan yang telah dilantik menjadi PPS


Paguyangan (suarapaguyangan.com) - Perempuan itu sama derajatnya di bidang hukum dan sebagainya, sehingga dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah juga perempuan diberdayakan ikut berpartisipasi. Dalam penyelenggaraan Pilgub 2018 ini semestinya peran perempuan 30%, tetapi untuk saat ini keterlibatan perempuan di Kecamatan Paguyangan baru 13,8 %, namun ini lebih baik dan meningkat dibandingkan saat penyelenggaraan Pemilihan Bupati (Pilbup) kemarin.

Hal tersebut dikatakan Khamim, Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah disela-sela pelantikan Panitia Pemungutan Suara (PPS) diaula Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Sabtu (25/11).

Menurut Khamim, Anggota PPS Pilgub Jateng 2018 ini berjumlah 36 orang, yang terdiri dari 31 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. 

" Peran perempuan dalam penyelenggaraan pemilihan umum sebagai bukti bahwa perempuan punya hak dan derajat yang sama dengan laki-laki, keterlibatan perempuan diharapkan semakin besar untuk pemilihan umum selanjutnya. Minimal ada 1 orang perempuan dari tiap desa yang ikut berperan aktif," ujarnya.

Masih menurut Khamim, jumlah pendaftar Panitia Pemungutan Suara PILGUB berjumlah 115 orang, terdiri dari 35 orang perempuan dan 80 orang laki-laki. Setelah melalui seleksi administrasi, tes tertulis, komputer dan wawancara akhirnya terpilih 5 orang perempuan.

"Jumlah perempuan yang mendaftar lebih banyak di banding saat Pemilihan Bupati Brebes 2017, dari 53 pendaftar PPS hanya ada 4 perempuan yang mendaftar dan 3 orang perempuan yang terpilih," tambahnya.

Pelantikan dan pembekalan anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) Kecamatan Paguyangan dihadiri oleh 36 anggota PPS terpilih dari 12 desa di Kecamatan Paguyangan, PPK, KPUD Brebes, Camat dan beberapa tamu undangan. 

Evi Putu Tama salah satu PPS dari Desa Winduaji merasa senang setelah di lantik dan bisa ikut berperan dalam Pilgub.
" Alhamdulillah saya bisa lolos menjadi anggota PPS, setelah kemarin mengikuti serangkaian tes yang harus saya jalani, sekarang merasa punya tanggung jawab baru yang harus dilaksanakan sebagai penyelenggaran pemilihan umum," tandasnya. (VS)

Related Posts:

Kopi Jagung Khas Cipetung Terkendala Pemasaran

Jurnalis warga sedang interview dengan mahasiswa sambil menikmati minuman kopi jagung


Cipetung (suarapaguyangan.com) - Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilakukan oleh Mahasiswa dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan di Desa Cipetung, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes Jawa Tengah, memberikan sebuah solusi untuk mengembangkan perekonomian masyarakat. 

Salah satu terobosan baru yang mereka lakukan yaitu membuat jagung yang merupakan komoditas utama di desa tersebut menjadi produk kopi jagung yang diberi nama J.Ci Corn Coffe . Menurut Dewi Ayu Oktafiani salah satu koordinator KKN mengatakan, dibuatnya kopi jagung ini selain menjadi salah satu komoditas utama di Desa Cipetung, karena diwilayah sini termasuk dataran tinggi jadi sangat cocok untuk dibuat kopi jagung.

" Tujuan kami ingin meningkatkan perekonomian masyarakat khususnya kaum perempuan. Disini memiliki banyak potensi alam yang bagus yang bisa di manfaatkan, salah satunya adalah tanaman jagung, kenapa kami memilih jagung, karena mayoritas masyarakat di Desa Cipetung bekerja sebagai petani. Dan jagung adalah sumber penghasilan ekonomi mereka sehingga kami ingin agar jagung dapat dimanfaatkan secara maksimal," kata Ayu.

Ayu menambahkan, untuk pembuatan kopi jagung ini tidaklah semudah yang dibayangkan, sebab selain modal, tempat dan alat yang masih kurang, pemasaran juga merupakan salah satu kendala.

" Sebenarnya kopi jagung ini sudah mendapatkan respon positif dari masyarakat, akan tetapi kami masih bingung untuk memasarkannya, karena kami tidak begitu tahu tempat-tempat yang ramai disini, untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Sejauh ini baru beberapa wilayah yang dapat kita manfaatkan untuk memasarkan kopi jagung, dan kabar baiknya banyak masyarakat di daerah sekitar yang merespon positif kegiatan ini," tambahnya saat diwawancarai di posko KKN Desa Cipetung, Sabtu (25/11).

Nadhiroh Prawida, salah satu tim KKN juga mengatakan, pelatihan produksi sudah dilakukan lima kali, kami melakukan pelatihan (sample) pembuatan kopi jagung bersama masyarakat tiga kali dan dua kali untuk pemasaran. Dan hasilnya cukup memuaskan.

" Harapan kami, program ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Cipetung, untuk menjadi sebuah ladang usaha agar dapat meningkatkan perekonomian mereka, khususnya kaum perempuan," imbuhnya. (TAS)

Related Posts:

Rakor Karang Taruna Provinsi, Peran Perempuan Dibutuhkan Sebagai Pelaku Pembangunan

Rapat Koordinasi Karang Taruna Provinsi

Semarang (suarapaguyangan.com) - Wanita mempunyai peran ganda sebagai pembina keluarga dan pelaku pembangunan. Organisasi  Karang Taruna memberikan ruang bagi kaum wanita untuk aktif berpartisipasi dalam pembangunan di berbagai sektor dan organisasi. Karang taruna juga memberikan kesempatan bagi wanita untuk menunjukkan peran dan kedudukannya dalam upaya penanganan dan peningkatan   kesejahteraan sosial melalui potensi dan  kreatifitas yang dimilikinya

Demikian disampaikan Endah Dwi Setiorini, SH. MH selaku Kepala seksi Pemberdayaan Potensi, dan Sumber Kesejahteraan Sosial, Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah, saat sambutan Rapat Koordinasi Karang Taruna 2017, di Wisma P4G Universitas PGRI Semarang dari tanggal 23-24 November 2017 kemarin.

Endah juga menambahkan, saya berharap karang taruna mampu membangun komitmen,  koordinasi dan kerjasama untuk bersatupadu serta mampu  mengoptimalisasi peran karang taruna di dalam  penyelenggaraan kesejakteraan sosial di Jawa Tengah.

" Rakor Karang Taruna bertujuan untuk meningkatkan kordinasi dan kerjasama Karang Taruna guna meningkatkan peran, tugas, fungsi karang taruna dalam mendukung keberhasilan penyelenggaraan kesejahteraan sosial dan dapat meningkatkan pengetahuan pengelolaan kelembagaan organisasi karang taruna, meningkatkan kemampuan karang taruna dalam pengelolaan  penyelenggaraan usaha ekonomi produktif, kesejahteraan sosial dan berkembangnya jaringan kerja karang taruna," tambahnya.

Rossi Ardiyanti, ST. M.Kes Ketua Karang Taruna Kabupaten Pekalongan dan DPRD Dapil 2 Kecamatan Kajen Kadangserang Paninggaran salah satu peserta Rakor mengatakan ke ikut sertaan di Karang Taruna karena Panggilan Hati

"Saya bergabung di karang taruna sejak 2004 sebelum menjabat sebagai DPRD, dan saya tetap mengikuti kegiatan karang taruna  karena panggilan hati, panggilan untuk mengabdikan diri kepada masyarakat khususnya masyarakat miskin. Saya tahu bahwa peranan perempuan itu sangat penting termasuk untuk karang taruna,  cuma masih banyak PR untuk kita, untuk melibatkan perempuan supaya mau berperan aktif di organisasi," katanya

Hal senada juga dikatakan oleh  Wiwit (29) peserta dari Kabupaten Magelang sangat senang mengikuti Rakor.

"Saya senang sekali mengikuti rakor karang taruna. Saya mendapatkan ilmu dari narasumber yang hebat, bertemu ketua dan anggota karang taruna provinsi, mendapatkan teman baru dari karang taruna kabupaten lain dan tahu kegiatan karang taruna provinsi tahun depan.(LA)

Related Posts:

Yayasan Mandiri Amal Insani Survei Rumah Yani.

Perwakilan Yayasan MAI (jaket biru) sedang mensurvei rumah pak karno


Cipetung - (suarapaguyanan.com) -  Masih ingatkah dengan Yani (17), seorang gadis penyandang disabilitas dari Desa Cipetung, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes Jawa Tengah yang membutuhkan alat bantu kursi roda untuk berjalan.

Setelah mendapatkan bantuan kursi roda dari Aliansi Masyarakat Peduli Bencana Indonesia (AMPIBI), kini Yani (17) dan keluarganya dapat kembali bernafas lega, pasalnya selain AMPIBI ternyata respon positif juga datang dari Yayasan Mandiri Amalan Insani (MAI). Ini dibuktikan dengan kedatangan Bapak Fauzi selaku perwakilan dari Yayasan MAI yang turun secara langsung untuk mensurvei keadaan rumah Yani (17), Rabu, (23/11).

Seperti kita ketahui bersama Yani (17) dan adiknya Ari (15) adalah dua bersaudara dari pasangan Karno (50) dan Mursilah (46) adalah disabilitas yang membutuhkan alat bantu untuk berjalan mereka, namun tidak hanya itu, rumah yang mereka tempati pun juga termasuk Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) itulah alasan Yayasan MAI mengutus perwakilannya untuk datang secara langsung agar bisa melihat keadaan rumah tersebut.

Fauzi perwakilan dari MAI mengatakan, berusaha dan berdo'a saja pak mudah-mudahan kami bisa membantu.

" Karena saya hanya sebatas perantara, mengenai bantuan yang akan diberikan itu semua kehendak Allah SWT, kalaupun ini rezeki anda dan keluarga pasti bantuan akan segera datang dan Insya Allah akan saya usahakan ke pusat," kata Fauzi.

Masih menurut Fauzi, bantuan yang diberikan oleh Yayasan MAI itu berasal dari zakat para karyawan Bank Mandiri yang dikelola oleh Yayasan MAI untuk kepentingan masyarakat penerima zakat.

" Intinya pak Karno dan keluarga sabar, bantuan yang diproses ini nanti juga butuh waktu tidak bisa serta merta dicairkan. Namun dengan kedatangan saya kesini memastikan bahwa keluarga pak karno layak mendapat bantuan, dan Insya Allah awal desember bantuan segera di realisasikan," tandasnya.

Karno sangat senang dengan kehadiran perwakilan yayasan MAI.

" Saya mengucapkan rasa terima kasih atas kedatangan perwakilan MAI, kami tidak bisa membalas kebaikan ini, hanya mampu berdo'a semoga bapak dan keluarga sehat dan banyak rezeki," ucap Karno. (TAS)

Related Posts:

Kopi Jagung Khas Cipetung, Inovasi Mahasiswa Dalam Pemberdayaan Ekonomi Keluarga

Kopi Jagung Khas Cipetung


Mahasiswa KKN Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan mengolah jagung Cipetung menjadi J.Ci Corn Coffe dalam meningkatkan perekonomian rumah tangga Desa Cipetung  Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes Jawa Tengah.

Kegiatan KKN Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan yang bertema Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Pengembangan Rumah Tangga dilaksanakan di 9 Desa Kecamatan Paguyangan, salah satunya di Desa Cipetung yang berlangsung selama 45 hari.

Mahasiswa KKN IAIN Pekalongan memprogramkan pengembangan ekonomi rumah tangga dengan menciptakan inovasi baru dalam pengolahan jagung, hingga menghasilkan sebuah produk J.Ci Corn Coffe, yaitu kopi jagung khas Cipetung.

Koordinator KKN Dewi Ayu Oktafiani mengatakan, program ini dipilih karena dilihat dari kondisi perekonomian warga Desa Cipetung yang sebagian besar warganya sebagai buruh tani, belum bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari dan di tinjau dari potensi alam yang ada di Desa Cipetung, yaitu jagung yang menjadi tanaman dominan di setiap lahan perkebunan.

“Ditinjau dari potensi alam yang ada di Desa Cipetung yang banyak ditumbuhi tanaman jagung, kami memilih J.Ci Corn Coffe sebagai produk unggulan untuk meningkatkan perekonomian rumah tangga desa ini dengan menciptakan industri perumahan. Kami mengajak ibu rumah tangga yang kesehariaannya membantu suami di ladang dan PKK untuk menciptakan lapangan pekerjaan," tutur Dewi pada suarapaguyangan.com, Selasa (21/11).

Dewi menambahkan, untuk pembuatan kopi jagung ini sebenarnya cukup mudah, pertama ambil jagung pilihan kemudian di sangrai lalu di tumbuk hingga halus dan di saring. Saat ini baru ada dua rasa yaitu rasa original dan rasa jahe.

Mahasiswa KKN IAIN Pekalongan mengadakan pelatihan pengolahan jagung dengan memberdayakan Masyarakat khususnya ibu rumah tangga agar nantinya program ini akan tetap berjalan sehingga dapat meningkatkan perekonomian rumah tangga dan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, mereka menggandeng Komunitas Kerja Desa Cipetung dalam pemasaran Produk. Hal itu dilakukan untuk membantu mempermudah masyarakat dalam mencari jaringan pemasaran produk.

Wida salah satu mahasiswa mengatakan, pemasaran yang menjadi salah satu permasalahan di desa ini disebabkan oleh jarak yang jauh dari pusat kota dan tidak adanya jaringan via seluler, sehingga peran Mahasiswa KKN IAIN Pekalongan sangat dibutuhkan.

“Harapan dari kami nantinya program ini masih terus berjalan dan berkembang walaupun pengabdian kami disini sudah selesai. Maka dari itu, kami membentuk komunitas kopi jagung dan rumah produksi untuk pembuatan kopi jagung. Rumah produksi kopi jagung kami bagi di 2 tempat yaitu di rumah bu tinem dan bu istianah," kata Wida.

Dari pihak Pemerintah Desa Cipetung sangat mendukung program yang dijalankan Mahasiswa KKN. Tarsini selaku ketua PKK Desa Cipetung berharap agar program pemberdayaan ini tetap berjalan terus.

“ Kami sangat mendukung dan siap membantu dalam kegiatan ini, karena nantinya jika program ini berjalan terus bisa meningkatkan perekonomian warga Desa Cipetung,” tutur Tarsini. (Bai)

Related Posts:

Jurnalis Warga Bisa Live Streaming di 3 Radio Pemerintah

Salah satu JW sedang mencoba ruang siaran di Radio TOP FM


Paguyangan (suarapaguyangan.com) - Seorang penyiar itu harus punya wawasan yang luas, selera humor dan tutur bahasa yang baik. Itu semua adalah skill yang harus di punyai seorang penyiar. Pembahasan atau penyampaian kegiatan siaran tidak asal –asalan melainkan harus dengan standar operasional prosedur (SOP) yang sudah ditentukan masing – masing stasiun radio.

Demikian dikatakan oleh Bayu Ahmad salah satu narasumber dari radio TOP FM Paguyangan dalam kegiatan mentoring plus Jurnalis Warga (JW) di rumah Vera Shinta salah satu JW Desa Paguyangan, Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes Jawa Tengah, Selasa (21/11).

Bayu juga mengatakan,  JW sudah terlatih dalam mengumpulkan informasi dan menuangkannya dalam bentuk tulisan pastinya akan mampu menyiarkannya melalui radio.

“ Jurnalis Warga itu kan sudah lihai dalam mengumpulkan informasi dan pastinya bisa menyampaikannya kepada masyarakat lewat siaran radio," katanya.

Bayu juga menambahkan, syarat yang harus dikuasai oleh jurnalis warga sebagai penyiar adalah dapat menyampaikan informasi secara lugas dan mudah dipahami oleh warga masyarakat. Selain itu juga menguasai intonasi, aksentuasi, dan artikulasi.

Tri Adie JW dari Desa Cipetung merasa senang dan bersemangat lagi dalam menulis berita, karena medianya bertambah lagi yang awalnya hanya website sekarang bisa lewat radio.

" Sekarang tambah bersemangat dengan adanya kerjasama antara Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kabupaten Brebes dengan JW yang akan dimasukkan dalam KIM serta JW boleh melakukan siaran radio," ungkapnya. (WD)

Related Posts:

Jurnalis Warga Bertandang ke Radio TOP FM

Salah satu jurnalis mencoba masuk ruang siaran radio TOP FM


Paguyangan (suarapaguyangan.com) Kegiatan mentoring plus yang dilakukan kali ini agak berbeda, pasalnya Koordinator Jurnalis Warga (KJW) Adi Assegaf mengundang narasumber dari penyiar radio dari Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik.

Mentoring yang dilakukan dirumah Vera Sinta salah satu Jurnalis Warga (JW) dari Desa Paguyangan, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes Jawa Tengah, menghadirkan Yunar Rahmawan penyiar radio Singosari FM dan Bayu Ahmad penyiar radio TOP FM Paguyangan.

Menurut KJW Adi Assegaf, radio mempunyai peran yang sangat penting juga dalam menyampaikan informasi khususnya bagi masyarakat yang tidak punya akses ke media online.

" Walaupun jumlah pendengar radio mungkin sekarang bergeser jumlahnya, karena munculnya teknologi baru, namun radio tetap mempunyai peran yang penting, khususnya mereka yang suka mendengarkan radio, dan ini bisa menjadi alat untuk menyebarluaskan tulisan JW selain website," tuturnya.

Bayu Ahmad salah satu narasumber mengatakan, dalam membuat berita JW jangan lupa 5 W + 1 H.

" 5 W + 1 H adalah rumus ketika kita akan menulis sebuah berita, yang akan mewakili isi berita. JW dalam menulis berita harus sesuai dengan keadaan yang ada, dan harus berimbang dalam pemberitaannya," kata Bayu.

Bayu menambahkan, berita yang ditulis oleh JW bisa dikirim ke saya melalui WA nanti berita tersebut saya bacakan pada saat jam berita. Antara jam 7 pagi sampai jam 9 pagi.

" JW bisa mengirimkan berita yang ditulis ke WA saya, atau JW bisa menjadi kontributor dengan melakukan siaran live di desa masing-masing mengenai isu-isu yang berkembang di nasyarakat," tandasnya.

Salah satu JW Mardianah,  senang karena bisa menikmati pengalaman masuk ke dalam ruang siaran radio TOP FM.
" Saya senang sekali, ini pertama kalinya saya masuk kedalam ruang siaran di TOP FM, semoga ini menjadi pengalaman yg baik buat saya dan bisa siaran nantinya," ungkap Mardianah. (MD)

Related Posts:

Jurnalis Warga Dilatih Tentang Siaran Radio

Radit sedang memberikan materi tentang siaran radio saat mentoring plus


Paguyangan (suarapaguyangan.com) - 9 Jurnalis Warga (JW) dari lima desa di Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes Jawa Tengah, mendapatkan mentoring tentang bagaimana menjadi seorang penyiar radio yang baik, di kediaman salahsatu JW Desa Paguyangan, Selasa (21/11).

Kelima desa tersebut adalah Desa Wanatirta, Desa Kedungoleng, Desa Pagojengan, Desa Pagutangan dan Desa Cipetung Kecamatan Paguyangan, sementara itu hadir sebagai mentor atau narasumber dalam acara tersebut yakni Yunar Rahmawan (Radit), penyiar radio Singosari Brebes dan Bayu Akhmad, penyiar radio Top FM Paguyangan.

Radit mengatakan, merasa bangga dengan adanya JW, dan pihaknya memberikan kesempatan kepada JW untuk menyiarkan tulisan JW di radio.

"JW lebih hebat dengan wartawan lain yang selama ini saya kenal, karena JW dalam menulis berita langsung terjun ke lapangan, langsung bersentuhan dengan masyarakat sehingga beritanya akurat. Saya berharap untuk yang akan datang JW dapat bergabung dengan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), dimana di setiap desa nantinya harus ada 1 KIM," ungkap Radith.

Sementara itu Bayu menyampaikan, dalam menyampaikan siaran, seorang JW menyiarkan apa yang diperolehnya sebagai berita lewat suaranya.
" Seorang penyiar harus bisa menyampaikan informasi secara baik dan mudah dipahami oleh pendengar, karena berita di radio berbeda dengan berita di surat kabar atau media online yang bisa dibaca berulangkali, tapi diradio hanya satu kali tayang," jelas Bayu.

Dalam acara tersebut, JW juga diperkenalkan dan diberikan kesempatan untuk melihat sekaligus mempraktekkan bagaimana menjadi seorang penyiar radio.
Salah satu JW Mardianah (40), merasa senang dengan diperkenalkannya duduk di tempat siaran, layaknya seorang penyiar.
"Saya merasa benar benar seperti seorang penyiar, yang lancar menggunakan bahasa pada saat siaran," tandasnya. (NK)

Related Posts:

Jurnalis Warga Dijadikan Koordinator KIM Tiap Desa

Suasana mentoring oleh penyiar radio di salahsatu rumah JW

Paguyangan (suarapaguyangan.com) -  Sumber informasi dari JW untuk membuat berita di media elektronik (Radio) Sangat penting, karena dapat memberikan informasi secara langsung namun harus tetap berimbang.

Hal tersebut dikatakan oleh Yunar Rahmawan (Radit) selaku narasumber pada saat kegiatan mentoring plus yang dilaksanakan dirumah Vera Shinta, Desa Paguyangan Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Selasa (21/11).

Menurut Radit, jika siaran berita dilakukan secara langsung maka ini akan mendapatkan hasil yang lebih maksimal.

" Berita yang ditulis JW bisa kami siarkan diradio, begitu juga bila JW ingin melakukan pemberitaan secara live by phone juga bisa, tentunya harus dipersiapkan semua sebelum melakukan siaran live tersebut," tuturnya.

Radit menambahkan, JW bisa melakukan interview / wawancara dialog interaktif diradio milik pemerintah, bahkan JW bisa saja membuat acara yang kontinue diradio.

" Sebuah terobosan yang sangat bagus, namun hal ini memerlukan proses melalui Talk show dialog dengan bimbingan penyiar radio, dan saya berharap setiap minggu sekali JW dapat menyampaikan berita baik di medsos, media cetak maupun media elektronik. Dan kami berharap ini tidak hanya sebatas ceremonial saja, karena JW memiliki dampak yang besar baik untuk masyarakat sekitar maupun pemerintah kabupaten," tambahnya.

Wildan salahsatu JW dari Desa Kedungoleng terlihat antusias dan senang dengan pemaparan yang disampaikan oleh narasumber.

" Saya pribadi merasa bangga sekaligus senang bisa bergabung di JW, apalagi sekarang JW semakin dikenal oleh pemerintah dan diperbolehkan untuk melakukan talk show serta siaran sendiri nantinya. Saya sungguh tidak menyangka, apalagi disampaikan oleh narasumber bahwa berita diradio saat ini masih seputar Brebes wilayah utara, saatnya kita wilayah selatan untuk memberitakan potensi dan pembangunan diwilayah Brebes selatan," tandasnya.

Diakhir kegiatan radit menegaskan agar JW yang sudah ada ini nantinya masuk kedalam Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) dan menjadi koordinator tiap desanya. (TAS)

Related Posts:

Mentoring Jurnalis Warga Hadirkan Narasumber Penyiar Radio Pemerintah

Narasumber dari Radio Singosari sedang memberikan materi kepada Jurnalis Warga

Paguyangan (suarapaguyangan.com) - Penyiar radio adalah petugas penyiaran radio yang menyiarkan suaranya melalui transmisi radio. Kegiatan penyiarannya adalah membahas berbagai hal baik musik, dialog interaktif maupun penyampaian berita. Kegiatan siaran tidak boleh asal- asalan melainkan harus dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang sudah di tentukan masing - masing stasiun radio. 

Disampaikan oleh Bayu Akhmad selaku Penyiar Radio TOP FM Paguyangan dalam acara Monitoring Plus Jurnalis Warga (JW), Selasa (21/11) di rumah Shinta Vera Desa Paguyangan Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes

"Saya berharap JW juga bisa belajar menjadi penyiar karena berita-berita yang di buat bisa disampaikan melalui radio selain di cetak di koran, karena selama ini di TOP FM hanya mengadopsi berita dari Warta Singosari, yaitu berita yang di siarkan dari brebes utara sedang brebes selatan tidak ada, setelah ada JW kita bisa menyiarkan berita 
Khusus brebes selatan biar terdengar sampai ke utara,"  tambahnya.

Adi Assegaf selaku Kordinator JW menginginkan JW punya acara sendiri di Radio. Saya menginginkan setelah ada Mentoring Plus dengan narasumber penyiar radio, JW bisa membuat acara sendiri di radio agar berita-berita yang dibuat bisa langsung terdengar banyak orang selain di media cetak.

Khikmah(20) JW dari wanatirta mengatakan banyak sekali ilmu yang saya dapat pada Mentoring plus hari ini.

"Saya mendapat banyak ilmu pada Mentoring plus hari ini, saya bisa belajar tentang bagaimana menjadi penyiar radio yang baik,apa saja yang dibutuhkan seorang penyiar dan apa saja kualifikasi seorang penyiar yang profesional, selain itu saya bisa masuk dan duduk seperti penyiar sungguhan di Radio TOP FM. (LA)

Related Posts:

Formasi Gelar Kegiatan Monitoring Kolaboratif untuk Posyandu

Koordinator Formasi Brebes Sedang Menyampaikan Materi tentang monitoring kolaboratif untuk Posyandu
Tim Forum Masyarakat Sipil (Formasi) Kabupaten Brebes Jawa gelar kegiatan monitoring kolaboratif bersama dengan anggota selapanan dan ibu-ibu peserta Posyandu Desa Kedungoleng Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes, diaula Desa Kedungoleng, Sabtu (18/11).

Koordinator Formasi Kabupaten Brebes Herry August mengatakan, monitoring kolaboratif ini adalah untuk meningkatkan kualitas layanan masyarakat dibidang kesehatan. Sesuai dengan amanat UU pelayanan publik, pasal 18 UU No 25 tahun 2009, diantaranya ada hak hak masyarakat untuk mendapatkan pelayananan yang berkualitas sesuai dengan asas dan tujuan pelayanan.

" Salah satu manfaat monitoring kolaboratif adalah membangun nilai kolaboratif di dalam relasi antara pengguna layanan, petugas penyedia layanan, dan pemerintah. Hubungan yang cair antara warga, penyedia layanan, dan pemerintah harus terus terbangun dan terus ditingkatkan kualitasnya, sehingga perbaikan demi perbaikan untuk desa akan terlaksana," kata Agus.

Co Kordinator Formasi Aslaa Ahimah yang juga ikut hadir menambahkan, ada 3 fase dalam monitoring kolaboratif, diantaranya warga siap terlibat secara produktif dan aktif dengan pemerintah dan penyedia layanan, nilai nilai kolaboratif dalam dialog terwujud antara warga dan pemerintah, serta penyedia layanan menjalankan rencana tindak lanjut.

"Disediakan papan informasi tentang kinerja layanan, rekomendasi perbaikan layanan, dan rencana tindak lanjut, sehingga petugas petugas penyedia layanan berpartisipasi," tambahnya.

Tim Formasi dalam acara tersebut mempraktekkan bagaimana caranya warga, khususnya peserta posyandu untuk mengisi lembar kartu penilaian dan monitoring standar yang berisi tentang tanggapan tanggapan peserta posyandu terhadap pelayanan posyandu.

Salah satu peserta monitoring kolaboratif Sumarni(40), merasa senang dengan adanya kegiatan ini, karena ia mengaku lebih bersemangat untuk datang di Posyandu.

" Mulanya saya malas ke Posyandu karena Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang ada itu itu saja, tidak ganti ganti, tapi setelah adanya monitoring kolaboratif ini saya mengusulkan agar PMT nya bervariatif, dan usulan saya diterima, sehingga pelayanan posyandu yang akan datang diusahakan pemberian PMT yang bergizi dan bervariatif," tandasnya.(NK)

Related Posts:

Dinkominfotik, Kedepan Jurnalis Warga Harus Ada di Tiap KIM

Launching Jurnalis Warga di Aula Baperlitbangda
Brebes (suarapaguyangan.com) - Keberadaan Jurnalis Warga (JW) dapat dimanfaatkan oleh desa dengan tujuan untuk memberitakan segala kegiatan yang ada didesanya, sehingga setiap warga akan termotivasi untuk selalu berkarya, memberikan yang terbaik demi kemajuan desanya.

Hal tersebut dikatakan oleh Khaerul Abidin. MM, dalam sambutannya mewakili Kepala Badan Perencanaan Penelitian Pengembangan Daerah ( Baperlitbangda) Kabupaten Brebes Jawa Tengah, pada acara Launching Jurnalis Warga Brebes di aula Baperlitbangda, Jum'at (17/11).

Khaerul menambahkan, JW yang dibentuk oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) ini adalah mitra pemerintah desa, dan kehadirannya sangat membantu peran pemerintah desa utamanya terkait dengan layanan dasar, yaitu kesehatan, pendidikan, dan Adminduk karena mereka semua sudah dilatih tentang jurnalistik.

" Jurnalis warga adalah warga yang dilatih untuk menulis, berbeda dengan dunia facebook yang umumnya memberikan berita-berita yang cukup "liar", jurnalis warga dalam menulis berita sudah sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik, dimana selain teknis, jurnalis warga mampu untuk lebih meningkatkan kontent dari berita tersebut," tambahnya.

Adi Assegaf selaku Koordinator Jurnalis Warga (KJW) Brebes menyampaikan, JW yang dibentuk oleh PPMN tidak hanya di Kabupaten Brebes saja. Dan semua JW mempunyai surat tugas dari PPMN.

" Program JW yang dilakukan PPMN dilaksanakan di 12 kabupaten di 5 provinsi, yaitu Provinsi Aceh di Kabupaten Bireun, Aceh Barat, Bener Meriah, Provinsi Sulawesi Selatan di Kabupaten Pangkajene dan Kabupaten Bantaeng, Provinsi Jawa Tengah di Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Pemalang dan Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Timur Kabupaten Pacitan dan Kabupaten Trenggalek dan di Provinsi Nusa Tenggara Barat di Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Utara. Dimana semua JW yang tergabung dalam PPMN mendapat surat tugas dari PPMN sampai dengan desember 2017," jelas Adi.

Sementara itu Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kabupaten Brebes berharap agar jurnalis warga mampu menjadi koordinator Kelompok Informasi Masyarakat (KIM)di desanya.

" Kami berharap agar JW di Kabupaten Brebes terus berkembang bekerjasama dengan Dinkominfotik Kabupaten Brebes, melalui 3 radio maupun website www.Brebeskab.go.id, kemudian JW terus meningkatkan kemampuan jurnalistiknya agar beritanya berimbang. Kami juga ingin setiap JW ada dalam tiap KIM, sehingga sebaran informasi menjadi lebih luas, serta JW bisa menjadi Filter berkembangnya berita-berita yang menyesatkan/berita hoax," tandasnya.

Kegiatan launching jurnalis warga yang dilakukan oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN), dihadiri oleh Satuan Kerja Perangkat Dinas (SKPD) yang terkait dengan layanan dasar serta dihadiri oleh Kepala Desa dan Sekretaris Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes. (NK)

Related Posts:

Jurnalis Warga Mitra Pemerintah dan Kontrol Sosial

Launching Jurnalis Warga di Aula Baperlitbangda Kabupaten Brebes

Brebes (suarapaguyangan.com) -Jurnalis Warga (JW) adalah mitra Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik karena tugasnya sama dengan program yang ada di Dinkominfotik yaitu Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) yang tugasnya memberi informasi masyarakat ke dinas dan menyampaikan informasi dari dinas kepada masyarakat.

Demikian disampaikan oleh Johari Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kabupaten Brebes Jawa Tengah, saat kegiatan Launching Jurnalis Warga Desa Wanatirta, Kedungoleng dan Cipetung di Aula Baperlitbangda Kabupaten Brebes, Jum'at (17/11).

Menurutnya, antara JW dan KIM itu seperti gayung bersambut karena sama-sama saling melengkapi. Kami menginginkan dari lima desa yang sudah ada JW ini bisa masuk dan bergabung di KIM.

" JW harus jadi pelopor untuk KIM ditiap desa, selain itu kami berharap kepada JW karena akhir-akhir ini banyak berita hoax, JW harus bisa memberikan pencerahan dan pengertian kepada masyarakat supaya bisa membedakan antar berita yang benar dan berita hoak," tambahnya.

Kepala Bidang Pemerintahan, Sosial dan Budaya Baperlitbangda Khaerul Abidin. MM,  mengatakan, Jurnalis Warga itu adalah mitra pemerintah desa dalam menginformasikan pembangunan di desanya.

"Jurnalis Warga harus dijadikan mitra oleh pemerintah desa, karena dari tulisan JW itu lah pemerintah desa dapat menginformasikan tiap item yang ada di Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) caranya dengan di buatkan berita oleh JW, sehingga masyarakat mengetahui.
Apalagi nantinya pemerintah desa menggunakan Sistem Informasi Desa (SID) JW itulah yang nantinya mengisi di dalam SID dengan berita - berita tentang desa dan anggaran yang di kelola," katanya.

Salah satu JW dari Desa Kedung Oleng merasa senang dan bangga karena baru pertama mengikuti acara seperti ini.

" Saya sangat bangga bisa mengikuti acara seperti ini, selain banyak pengalaman nama saya bisa di kenal oleh dinas-dinas yang hadir, semua ini tidak lain karena bergabung dengan JW dan bimbingan dari para mentor serta dukungan dari teman JW lainnya. (LA)

Related Posts:

AMPiBI Belikan Kursi Roda untuk Yani

Tim AMPiBI saat menyerahkan Kursi Roda Pada Yani


Cipetung (suarapaguyangan.com) - Berawal dari tulisan Jurnalis Warga (JW) di website www.suarapaguyangan.com tentang Yani seorang anak disabilitas, yang butuh kursi roda di Desa Cipetung Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes Jawa Tengah, Aliansi Masyarakat Peduli Bencana Indonesia (AMPiBI) merespon dengan membelikan kursi roda untuk Yani.

Ketua AMPiBI Agung Widodo mengatakan, pihaknya sangat terketuk hatinya begitu mendengar berita tersebut, dan bersama tim langsung bergerak membelikan kursi roda.

" Begitu kami mendengar berita tersebut, kami langsung pergi ke Purwokerto untuk membeli kursi roda yang dibutuhkan oleh Yani. Kebetulan saat itu kami sedang ada rezeki sehingga bisa langsung patungan untuk membeli kursi roda tersebut," kata Agung saat dihubungi via telpon, Rabu (14/11).

Agung menambahkan, setelah membeli kursi roda tersebut, saat itu juga kami langsung menuju kediaman Yani di Desa Cipetung, dibantu oleh warga untuk menunjukkan rumah keluarga Yani.

" Pihak keluarga Yani awalnya sempat bingung, karena kedatangan kami dengan tim menjelang maghrib secara tiba-tiba dengan membawa kursi roda, tapi kemudian kami menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan kami, dengan didampingi oleh JW yang menulis berita tentang Yani tersebut, akhirnya keluarga Yani menyambut baik kedatangan kami dan mereka sangat senang serta mengucapkan rasa terima kasih," tambahnya.

Orangtua Yani, Karno dan Mursilah mengaku sangat senang dengan kedatangan AMPiBI ke rumahnya sambil membawa kursi roda untuk Yani, meskipun awalnya sempat kaget dan bingung karena datangnya dengan tiba-tiba.

" Awalnya kami kaget sekali tiba tiba ada tamu,setelah mendapat penjelasan kami sangat senang dan berterima kasih sekali kepada AMPiBI yang telah membantu membelikan kursi roda untuk Yani, sekarang Yani bisa menggunakan itu untuk aktifitasnya," ungkap Karno.

Kepala Desa Cipetung, Sutrisno mengatakan, pihaknya berterima kasih kepada siapapun yang sudah membantu untuk masyarakat di desanya.

" Pada prinsipnya kami berterima kasih kepada siapapun yang sudah membantu masyarakat Desa Cipetung, karena kita hidup itu ya untuk saling tolong menolong. Kami dari Pemerintah Desa Cipetung juga sudah menganggarkan untuk tahun 2018 mendatang, di Rencana Kerja Pemerintahan Desa (RKPDes) untuk membelikan bantuan kursi roda bagi kaum disabilitas," tandasnya. (LA)

Related Posts:

Melalui DD, Desa Wanatirta Anggarkan Rp. 15,4 Juta Untuk Kaum Disabilitas


Salah satu kerajinan yang dibuat oleh penyandang disabilitas dari Desa Wanatirta

Wanatirta (suarapaguyangan.com) - Pemerintah Desa Wanatirta Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes Jawa Tengah, mengalokasikan Dana Desa (DD) sebesar 15,4 juta dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) tahun 2018 untuk kaum disabilitas.

Hal tersebut dikatakan oleh Maskur (58), selaku Kepala Desa Wanatirta saat di temui di Kantor Kepala Desa Wanatirta, disela-sela tugasnya, Senin (13/11).

Menurutnya, tahun sebelumnya memang pihak Pemerintah Desa Wanatirta belum pernah menganggarkan untuk kaum disabilitas, namun setelah ada pendampingan dari Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan (KOMPAK) dan Forum Masyarakat Sipil (Formasi) melalui tim penyusun tahun 2018 baru dianggarkan.

" Melalui tim penyusun RKPDes di tahun 2018, Desa Wanatirta melalui DD menganggarkan sebesar Rp. 15,4 juta untuk kaum disabilitas, yang penggunaannya antara lain untuk bantuan kursi roda, dan alat bantu jalan serta untuk menambah modal usaha bagi kaum disabilitas yang produktif," katanya.

Salah satu penyandang disabilitas Tohid Prastyadi (39), dari Rt 5/01 Desa Wanatirta, yang bekerja sebagai pembuat bahan dasar drumband (Kluwung drumband), adalah salah satu calon penerima bantuan modal tahun 2018 mendatang, mendengar berita tersebut Tohid merasa senang, karena adanya perhatian yang lebih dari Pemerintah Desa Wanatirta.

" Perasaan saya sangat senang, ketika saya mendengar bahwa tahun 2018 nanti, Pemerintah Desa Wanatirta menganggarkan DD untuk kaum Disabilitas diantaranya adalah bantuan untuk permodalan usaha," kata Tohid.

Tohid menambahkan, dia dan teman-temannya bersyukur dan berterima kasih atas perhatian yang diberikan untuk penyandang disabilitas, meskipun begitu dia dan teman lainnya tetap semangat bekerja walaupun dengan keterbatasan yang dimilikinya, dan ingin menunjukkan kepada masyarakat, bahwa keterbatasan bukan alasan untuk orang tidak bekerja dan berkreatifitas.

" Saya tidak mau memanfaatkan keterbatasan saya dengan meminta belas kasihan orang,  saya lebih bangga bisa  berkreatifitas seperti ini, dan saya ingin sekali mengembangkan usaha saya kalau ada bantuan modal tersebut," tambahnya.

Hal senada juga dikatakan oleh Kalimah (35) Rt 9/03 Desa Wanatirta, salah satu penyandang disabilitas yang juga berdagang, mengaku senang mendapat informasi tentang bantuan modal untuk kaum disabilitas.

"Saya senang sekali mendapat bantuan modal untuk tahun depan, hal ini sebenarnya saya sudah tahu dari acara Musyawarah Desa (Musdes) di Balai Desa Wanatirta kebetulan saya di undang, dan modal itu nanti akan saya pergunakan untuk memperbanyak dagangan saya," Tandasnya. (LA/Aa)

Related Posts:

Ratusan Perempuan ikut Tes SDM PKH

Suasana Tes SDM PKH di Hotel Tegal Bahari

Tegal - Sebanyak 263.643 peserta yang melamar di Kementerian Sosial melalui aplikasi yang telah disediakan oleh Kementerian Sosial hanya 34.140 peserta yang lolos administrasi.

Hal tersebut dikatakan oleh Syamsu dari Kementrian Sosial dalam sambutanya di sela- sela tes Sumberdaya Manusia (SDM) Program Keluarga Harapan (PKH) di Hotel Bahari In Tegal, Minggu (12/11).

Menurut Syamsu, Seleksi hari ini berbeda dengan seleksi biasanya, karena hari ini tidak hanya seleksi SDM PKH saja.
" Seleksi ini berbeda dari tes sebelumnya, karena tes seleksi hari ini ada dua program, yaitu PKH dan Bantuan Pangan Non Tunai. Sebanyak 526 peserta se karisidenan mengikuti Tes pada hari ini, semoga peserta dapat mengerjakan dengan lancar," tambahnya.

Tes yang dimulai pukul 07.00 WIB hingga selesai ini, kebanyakan di dominasi oleh kaum perempuan, mungkin karena program PKH sendiri sasarannya adalah kebanyakan dari kalangan perempuan.

Salah satu peserta tes dari Kecamatan Bulakamba Noviana Prasetya (27), mengatakan,  motivasi ikut melamar di SDM PKH Biar bisa membantu menuntaskan kemiskinan dan membuat masyarakat miskin hidupnya menjadi lebih layak.

" Motivasi saya melamar PKH ingin membantu program pemerintah dalam menuntaskan kemiskinan dan membuat masyarakat miskin hidupnya lebih layak, karena di desa Bulakamba banyak masyarakat miskin yang belum menerima manfaat program dari pemerintah ini," kata Novi.

Hal senada juga disampaikan oleh peserta dari Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Siti Afuah (27), mengatakan, ikut PKH sebagai ikhtiar.

"Mendaftar di PKH saya jadikan sebagai ikhtiar, dalam rangka ingin ikut serta bersama pemerintah dalam memberikan perlindungan sosial kepada masyarakat, agar mereka bisa hidup lebih sejahtera.
Menjadi pekerja sosial merupakan sebuah pekerjaan yang tepat untuk aktifis seperti kita, karena di dalam diri kita sudah tertanam jiwa sosial, dimana kita akan merasa puas dan bahagia ketika bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat, menjalankan tugas dalam sebuah organisasi yang tidak di bayar saja kita ikhlas, apalagi ketika bekerja secara profesional, pasti kita akan bekerja lebih baik dan sepenuh hati," tandasnya. (LA)

Related Posts:

Tirta Husada Andalan Anak-Anak Berenang dan Berendam

Suasana Obyek Wisata Tirta Husada Desa Kedungoleng Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes

Kedungoleng (suarapaguyangan.com) - Obyek wisata air panas Tirta Husada yang berlokasi di Dukuh Cingebul, Desa Kedungoleng Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes setiap hari libur ramai dikunjungi puluhan wisatawan lokal terutama anak-anak dan ibu-ibu.

Obyek Wisata yang menjadi andalan Desa Kedungoleng ini, menawarkan pemandian air panas alami yang mengandung belerang , dan pemandangan yang dapat memanjakan para wisatawan yang datang. Sangat pas dan cocok untuk melepas penat dengan kegiatan para ibu-ibu setelah  sepekan mengurus kehidupan rumah tangga.

Untuk menikmati pemandian air panas alami ini, wisatawan yang datang cukup membayar tiket masuk seharga Rp.5 ribu.

Selain sebagai pelepas stres, dilansir dari penelitian New England Journal of Medicine menyimpulkan, dengan berendam di Air belerang dapat membantu menurunkan kadar gula dalam darah, serta memperbaiki kesehatan jantung,meringankan sakit kepala, dan melancarkan peredaran darah yang dapat menjaga kulit agar tetap kencang. Namun meski begitu tidak di anjurkan berendam lebih dari 15 menit.

Pengelola Objek Wisata air panas Tirta Husada Nanang Kosim (45), mengatakan, setiap hari libur pengunjung di obyek wisata meningkat, terutama di dominasi oleh anak-anak dan orang tuanya, biasanya ibu mereka. Serta pihaknya terus melakukan renovasi demi kenyamanan para pengunjung 

" Kami terus melakukan renovasi, agar kenyamanan pengunjung terjamin, karena kebanyakan adalah anak-anak dan ibu-ibu, dan kami juga tengah merencanakan pembangunan taman di bukit obyek wisata ini."

Salah seorang pengunjung Saefulloh (40) mengatakan, dirinya sering mengajak istri dan anak anaknya berkunjung setiap akhir pekan.

" Saya sering kesini dengan istri dan anak anak saya setiap akhir pekan, selain untuk berendam juga untuk refresing beserta keluarga setelah lelah melakukan kegiatan selama satu pekan," tandasnya. (WD/Aa)

Related Posts:

3 Kabupaten Persiapkan 3 Layanan Dasar

Suasana pelatihan RAPBDes 2018 di Banjarnegara

Banjarnegara (suarapaguyangan.com) - Hasil analisis sementara yang dilakukan oleh tim Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan (KOMPAK) berkenaan dokumen Rencana Kerja Pemerintahan Desa (RKPDes) dari 8 desa di 3 kabupaten, menunjukkan bahwa masing masing desa masih fluktuatif. Artinya ada kenaikan di satu bidang, dan mengalami penurunan di bidang lainnnya, namun pada bidang layanan dasar (yandas), 3 desa di Kecamatan Paguyangan prosentasinya sudah naik cukup tinggi, demikian pula dengan kabupaten yang lain, seperti Pekalongan dan Pemalang.

Hal tersebut dikatakan Samuri, salah satu tim Forum Masyarakat Sipil (Formasi) pada Pelatihan Penyusunan APBDes 2018 dan Infografis untuk 8 desa dan 3 Kecamatan di Banjarnegara, selama 2 hari (7-9/11) kemarin.

Yusuf Murtiono, selaku direktur dari tim Formasi juga mengatakan, analisis sementara yang dilakukan oleh tim formasi, maupun KOMPAK tersebut bertujuan untuk melihat seberapa besar alokasi yang sudah dianggarkan untuk pelayanan dasar di masing masing desa di 3 kabupaten tersebut.

" Hasil dari penyusunan RKPDes yang sudah dilakukan selama kurang lebih 9 bulan dengan didampingi tim KOMPAK di masing masing kabupaten tersebut nantinya akan diekspos di kabupaten, jika tidak ada perubahan jadwal, maka untuk tanggal 14 di Kabupaten Pemalang dan tanggal 15 di Kabupaten Brebes," kata Yusuf.

Yusuf juga menambahkan, ke 8 desa akan diundang di kabupaten, yang pidatonya akan dijadikan narasumber, contoh baik bagi desanya untuk paparan  tingkat kabupaten soal perencanaan berbasis pada layanan dasar.

" ke 8 desa ini akan diundangsebagai contoh misalnya Kedungoleng, yang pada awalnya infrastruktur nya sekian puluh persen, kemudian menjadi turun berapa persen, turunnya kemana,? Ya untuk layanan dasar",tuturnya lagi.

Sementara itu, ditemui di tempat terpisah, Wahyu (35) anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) Kabupaten Pemalang merasa sangat senang dengan adanya paparan dari masing-masing desa nanti, sehingga itu akan menambah timnya dalam bekerja agar lebih teliti dan lebih semangat.(NK).

Related Posts:

Stik Singkong Buatan Kelompok Ibu Desa Kedungoleng

Ibu rumah tangga di Desa Kedungoleng sedang mengolah stik singkong


Kedungoleng (suarapaguyangan.com) - Para ibu rumah tangga di Dukuh Karang Asem Desa Kedungoleng, Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes, membuat kreasi dari olahan singkong menjadi stik yang enak dan lezat.

Ide tersebut berawal dari mahasiswa yang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan, para ibu rumah tangga ini diajari untuk mengkreasikan hasil perkebunan di desanya agar mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.

Produk olahan stik singkong tersebut diberi nama "Kisafa Berkah" yang dibandrol dengan harga Rp. 2.500/bungkusnya. Salah satu ibu rumah tangga yang memproduksi stik singkong adalah Khasanah (40), ia bersama anggotanya yang terdiri dari 6 orang mengkreasikan stik singkong ini menjadi beberapa varian rasa.

Menurut Khasanah, varian rasa yang dibuat oleh kelompoknya baru 3 rasa yang dikembangkan saat ini, yang nantinya akan dipasarkan ke warung-warung.

" Varian rasa stik singkong yang dibuat ada 3 yaitu rasa original, coklat, dan stroberi. Produk stik ini nantinya akan kami pasarkan ke warung sekitar Desa Kedungoleng dan toko-toko terdekat, harapan kami bisa laku dan terjual banyak, sehingga bisa buat tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga," kata Khasanah saat ditemui jurnalis warga dikediamannya, Minggu (12/11).

Salah seorang mahasiswa KKN dari IAIN Pekalongan Ridho (18), berharap, produksi olahan stik singkong ini bisa diterima oleh masyarakat Desa Kedungoleng dan bisa berkembang.

" Kami berharap makanan stik singkong ini bisa menjadi makanan khas dari Desa Kedungoleng, kemudian setelah KKN kami selesai, produk ini bisa semakin berkembang," ujarnya.

Devi izzatunisa selaku anggota dari Ikatan Mahasiswa Kedungoleng (IMK) yang ikut dalam kegiatan produksi juga mengatakan, dari IMK kedepannya siap untuk membantu keberlangsungan kegiatan produksi olahan singkong ini baik dari moril dan juga materiil 
" Apabila ibu - ibu memerlukan bantuan tambahan modal kami dari IMK siap membantu mencarikan tambahan modal," tandasnya. (WD/Aa)

Related Posts:

Masyarakat Wanatirta Lega, Jalan Desanya Diperbaiki

Perbaikan Jalan Desa Wanatirta

Wanatirta (suarapaguyangan.com) - Rasa was-was masyarakat khususnya ibu-ibu yang hendak pergi ke pasar untuk berbelanja, karena jalan licin dan berbatu di lingkungan RT 6,7,8 dan jalan makam Adipati RW 3 Dukuh Kedawung Desa Wanatirta Kabupaten Brebes sudah tidak ada lagi.

Pasalnya Pemerintah Desa Wanatirta melalui Dana Desa (DD) telah mengalokasikan dan melakukan peningkatan jalan di wilayah tersebut dengan menggelontorkan anggaran sebesar Rp. 128 juta.

Sekretaris Desa Wanatirta Katub (45) mengatakan, Pemerintah Desa sudah menggelontorkan anggaran untuk peningkatan jalan di RT. 6,7,8 dan makam Adipati RW. 03 sebesar Rp. 128 juta.

" Wilayah tersebut saat ini sedang dalan pengerjaan selama 10 hari dari tanggal 24 oktober sampai 3 November 2017, untuk pengecoran jalan dengan melibatkan pekerja masyarakat sekitar.setelah pengecoran selesai semua dari dua titik itu maka finishingnya dilakukan pengaspalan," kata Katub saat di temui di kediamanya oleh Jurnalis Warga, Kamis (9/11).

Katub menambahkan, anggaran Rp.128 juta di bagi dua titik yaitu Jalan Desa dan jalan menuju Makam Adipati. saat ini pengerjaanya baru pengecoran jalan di RT 6,7,8 RW 3 sedangkan untuk jalan makam Adipati setelah material terkumpul langsung di kerjakan.

Salah seorang pekerja Amad (50) mengatakan, sebenarnya pengerjaan bisa selesai kurang dari 10 hari, 

" Pengecoran jalan sebenarnya bisa di selesaikan kurang dari 10 hari jika kondisi cuaca tidak hujan dan pasokan material tidak terlambat.

Sementara itu Isyanti (37) seorang pedagang mengatakan, ia tidak lagi was was melewati jalan yang biasa dilalui karena sudah diperbaiki.

" Saya sekarang lega sekali setelah jalan diperbaiki, biasanya saya berangkat kepasar jam 5 pagi merasa was was takut sepeda motornya tergelincir, dan ketika pulang membawa belanjaan dari pasar juga tidak takut lagi belanjaan akan jatuh karena jalannya sudah diperbaiki," tandasnya. (LA)

Related Posts:

Tim Selapanan dan Mahasiswa Bantu Pendataan Akte Kelahiran Anak

Tim Selapanan Sedang Mengecek Administrasi Pemuatan Akte Kelahiran


Cipetung (suarapaguyangan.com) - Masih banyak anak berusia 0 hingga 18 tahun di Desa Cipetung Kecamatan Paguyangan belum memiliki akte kelahiran, menurut data Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat (SIPBM) tahun 2017, jumlahnya mencapai 149 Anak.

Tim selapanan Desa Cipetung bekerjasama dengan Mahasiswa dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Cipetung melakukan kunjungan ke rumah-rumah untuk mendata anak yang belum mempunyai akte kelahiran.

Perwakilan dari tim selapanan Desa Cipetung Suharti mengatakan, tim selapanan bekerjasama dengan mahasiswa untuk melakukan pendataan supaya datanya cepat terkumpul.

" Kebetulan di desa kami ada mahasiswa yang KKN, akhirnya kami bekerjasama dengan mereka, dan menyampaikan kepada mahasiswa tersebut tentang persyaratan yang harus dilengkapi oleh keluarga yang anaknya belum memiliki akte kelahiran, dengan kerjasama ini harapannya data yang belum mempunyai akte kelahiran bisa cepat terkumpul," kata Suharti kepada jurnalis warga www.suarapaguyangan.com, jum'at 10 november 2017 dirumahnya.

Kepala Desa Cipetung Sutrisno ikut menjelaskan kepada mahasiswa tentang persyaratan yang harus dilengkapi warganya untuk memperoleh akte kelahiran.

" Bagi anak yang berumur 0 hingga 18 tahun persyaratannya adalah fotocopy KTP Elektronik kedua orangtua, fotocopy Kartu Keluarga, fotocopy surat nikah, surat keterangan lahir dan fotocopy KTP Elektronik bagi yang sudah berusia 17 tahun, sedangkan bagi yang orang tuanya nikah sebelum tahun 1974 dan tidak memiliki surat nikah, harus minta persyaratan di Kantor Urusan Agama (KUA)," ungkapnya.

Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Paguyangan Sutarko mengatakan, tim selapanan dari Forum Masyarakat Sipil (Formasi) mendata dan setelah data lengkap bisa koordinasi dengan desa. 

" Tim selapanan cukup mendata anak-anak yang belum mempunyai akte kelahiran, setelah datanya lengkap harus diserahkan ke pemerintah desa untuk dibawa ke kecamatan, untuk anak berusia 0 hingga 18 tahun Gratis, sedangkan bagi yang berusia 19 tahun ke atas dikenakan denda Rp. 25 ribu," tandasnya. (SH)

Related Posts:

25 Perempuan Ikuti Tes Tertulis PPS

Peserta perempuan sedang mengikuti tes terlulis PPS

Paguyangan (suarapaguyangan.com) - sedikitnya 25 perempuan berhasil mengikuti tes tertulis sebagai calon Panitia Pemungutan Suara (PPS) di tingkat desa untuk pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah tahun 2018 setelah dinyatakan lolos administrasi oleh Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Paguyangan, Rabu kemarin (8/11).

Ketua PPK Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes Khamim, M.Pd mengatakan, tes ini dilakukan berdasarkan surat dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Tengah nomor : 707/PP.05.3-SD/33/Prov/XI/2007 bahwa penyeleksian calon anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) tingkat desa harus ada tes tertulis.

" Tujuan tes ini untuk menjaring enam besar, untuk desa - desa yang peserta calon anggota PPS lebih dari enam peserta, dan hasil tes tertulis ini akan di umumkan melalui SMS ke handphone masing-masing peserta, calon anggota yang dinyatakan lulus tes tertulis, akan mengikuti tes wawancara besok,"  katanya.

Khamim menambahkan, untuk komposisi PPS harusnya ada perwakilan dari perempuan, namun hasilnya nanti tergantung dari tes tertulis serta wawancara yang dilakukan oleh masing-masing peserta.

Eli Ulis salah satu peserta Tes tertulis calon anggota PPS Desa Wanatirta mengatakan, motivasi ikut PPS ini ingin menambah ilmu dan pengalaman.

" Saya mendaftar menjadi anggota PPS ini ingin menambah ilmu dan pengalaman tentang pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah, walaupun saya baru pertama mendaftar,sudah cukup senang, masalah hasilnya nanti bagaimana ya saya serahkan kepada keputusan panitia," ujarnya.

Sementara itu, Rohadi selaku Ketua Pengawas Kecamatan berharap bahwa PPS ini nantinya akan menjadi PPS yang berkualitas.

" Saya berharap bahwa penyeleksian calon PPS ini harus jauh dari Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN), dan PPS yang lolos nanti harus  bagus IT karena nanti data- data yang diberikan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) lewat email, sehingga minimal bisa mengirim data lewat email dan mempunyai HP Android. Biasanya informasi yang di berikan lewat grup Whatsapps biar langsung tersampaikan," tandasnya. (LA)

Related Posts:

11 Jurnalis Ikuti Workshop JW Kedua

Hari pertama workshop Jurnalis Warga di Aula Kecamatan Paguyangan

Paguyangan (suarapaguyangan.com) - Sebelas Jurnalis Warga (JW) dari lima desa yaitu Desa Wanatirta, Paguyangan, Pagojengan, Kedungoleng, dan Cipetung mengikuti Kegiatan Workshop Jurnalis Warga 2 yang dilaksanakan oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) di aula Kecamatan Paguyangan dari tanggal 4-5 November 2017 kemarin.

Kegiatan Workshop Jurnalis Warga 2 dengan tema Setiap Warga Adalah Pewarta tersebut diselenggarakan agar memberikan pemahaman tentang ilmu jurnalistik kepada para jurnalis warga yang baru.

Koordinator Jurnalis Warga (KJW) Brebes Adi Assegaf mengatakan, kegiatan selama dua hari ini untuk memperkenalkan jurnalistik kepada jurnalis warga.

" Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari ini, dari tanggal 4-5 November 2017 bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang ilmu jurnalistik, sehingga jurnalis warga baru dapat membuat berita yang baik dan benar, sehingga dari tulisan yang telah dibuat oleh para jurnalis warga tersebut diharapkan ada Story Of Change (SOC) atau perubahan," katanya.

Adapun materi yang disampaikan dalam kegiatan workshop jurnalis warga 2 yaitu tentang dasar-dasar jurnalistik, teknik reportase, dan dan foto jurnalistik.
Materi tersebut disampaikan oleh Ismail Fuad dari Redaktur Harian Radar Tegal.

Salahsatu peserta dari Desa Paguyangan Vera Shinta mengatakan, saya sebagai peserta baru merasa senang bisa mengikuti kegiatan workshop.
" Kegiatan workshop ini sangat positif, selain saya dapat belajar nulis berita, saya juga dapat memiliki pengalaman yang tidak semua orang dapatkan melalui workshop ini," ungkapnya. (MN)

Related Posts:

Jurnalis Warga Paguyangan Diajarkan Teknik Wawancara

Salah satu jurnalis sedang melakukan wawancara dengan narasumber

Paguyangan (suarapaguyangan.com)- Tanya jawab dengan seseorang untuk mendapatkan keterangan tentang suatu hal atau masalah, itu dinamakan wawancara, dimana wawancara sering dihubungkan dengan pekerjaan jurnalistik untuk dapat menulis berita yang kemudian disiarkan ke media massa.

Demikian dikatakan oleh Ismail Fuad selaku narasumber dari Redaktur Harian Radar Tegal saat kegiatan Workshop Jurnalis Warga 2 di aula Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Minggu (5/11).

Ismail juga menambahkan, dalam pelaksanaan wawancara, hindari perasaan jengkel, marah-marah, memojokkan narasumber, tapi harus bersikap bersikap wajar, namun juga tidak perlu rendah diri.

" Salah satu persiapan dalam wawancara adalah JW harus menguasai persoalan yang akan ditanyakan atau diajukan sebagai bahan wawancara, siapkan mental untuk mengadakan wawancara karena masing-masing pribadi punya karakter yang berbeda, dan jangan lupa siapkan peralatan yang diperlukan seperti ballpoint, bloknote, kamera atau alat perekam," tambahnya.

Dalam kegiatan workshop tersebut juga dipraktekkan bagaimana 11 peserta jurnalis melakukan wawancara dengan narasumber.

Salah satu peserta JW Wildan Hafidz (21), merasa sangat bangga bisa mengikuti kegiatan tersebut.

" Saya sangat senang bisa melakukan latihan untuk wawancara dengan narasumber, karena dengan begitu saya jadi tahu bagaimana saya harus bersikap pada saat wawancara dengan narasumber, dan persiapan persiapan yang harus dilakukan untuk memulai wawancara," tandasnya. (NK)

Related Posts:

Balai Desa Kedungoleng Ramah Anak

Suasana balaidesa Kedungoleng untuk bermain anak-anak
Kedungoleng (suarapaguyangan.com) - Bagi sebagian orang memang ada yang tidak suka dengan celoteh anak anak disekitar kita, apalagi cuaca cukup panas, mendengar suara anak anak yang sedang bergurau mungkin akan menambah suasana tambah panas.

Namun tidak demikian dengan Seger, SE, Sekretaris Desa Kedungoleng Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes, pemandangan tersebut sehari-harinya sudah biasa terjadi, di Balai Desa Kedungoleng, tempat Seger bekerja.

Seger mengatakan, Balai Desa Kedungoleng ini memang letaknya berseberangan dengan madrasah diniyah, dan anak-anak senang bermain di Balai Desa.

" Madrasah diniyah tersebut belum mempunyai halaman, sementara siswa dari madrasah tersebut cukup banyak, sekitar 200 anak, maka dari pada anak anak bermain dijalan yang tentu banyak resiko yang terjadi, lebih baik agar anak anak tersebut bermain di halaman balai desa pada saat jam istirahat," kata Seger saat ditemui diruang kerjanya, Jum'at (3/11)

Seger menambahkan, kalau tidak ada rapat atau acara lain di balai desa, kami biarkan anak anak bermain di aula balai desa ini, sejauh mereka tidak mengganggu kami, dan tidak membuat kerusakan, justru kami merasa senang dengan adanya pemandangan seperti ini, mereka bebas berceloteh, bersendau gurau, tanpa adanya suatu beban, itulah dunia anak anak.

" Disamping mereka bermain, mereka juga belajar.belajar menghargai teman, belajar menghormati orang yang lebih tua, dan belajar memecahkan masalah.lihat saja, kursi kursi yang ada di halaman tersebut, mereka tata membentuk lingkaran, mereka duduk berhadap hadapan, sambil bercerita, secara tidak langsung kan mereka belajar berdiskusi, mereka ada yang bertanya, ada yang mengemukakan pendapat, akhirnya mereka menemukan jalan keluar, bukankah itu sudah menggambarkan layaknya orang dewasa yang sedang musyawarah," tandasnya.(NK)

Related Posts:

Warga Paguyangan Kesulitan Registrasi Kartu SIM

Beberapa kartu Simcard dari berbagai operator
Paguyangan (suarapaguyangan.com)- Semenjak Kementrian Komunikasi dan Informatika (KEMENKOMINFO) membuat peraturan Per 31 Okt 2017, pelanggan wajib registrasi ulang nomor prabayar dengan validasi Nomor Induk Kependudukan dan No. Kartu Keluarga, ternyata sejumlah warga di Desa Paguyangan, Kecamatan Paguyangan mengalami kesulitan untuk registrasi. 

Salah satu warga yang kesulitan Lukman (23) menuturkan, bahwa pihaknya masih belum mendapatkan konfirmasi SMS dari operator. “Sudah saya coba registrasi via SMS mas, namun sampai sekarang saya tidak juga mendapatkan verifikasi dari operator tersebut,  pihaknya juga sudah registrasi via Web-online namun hasilnya tetap nihil. Kamis (22/10).

Hal senada juga diutarakan oleh Rochim (45) warga Dukuh Kembang Desa Paguyangan,  yang menemui masalah pada saat registrasi SIM tersebut, agak susah mas caranya, selain harus memasukkan nomor NIK (Nomor Induk Kependudukan) saya juga harus memasukkan NK (Nomor Kartu Keluarga), setelah registrasi dapet SMS yang bunyinya format registrasinya salah. 

Ditempat terpisah, Ruri (32) pemilik outlet “Ruri Cell” dan “Assayfa Cell” yang sedang harap-harap cemas dengan nasib beberapa kartu perdana internet yang dijualnya. 

“Satu orang kebagian 3 kali jatah registrasi untuk setiap operator, coba bayangin bagaimana nantinya perdana kuota internet yang notabene saat ini jadi ujung tombak kami untuk berjualan, kita banyak dirugikan atas kebijakan ini," terangnya. 

Lanjut Ruri, registrasi SIM bagi sebagian besar warga, memang masih banyak menimbulkan polemik, masih buruknya layanan dan minimnya sosialisasi dari pihak pemerintah konon menjadi penyebab utamanya, ditambah dengan beredarnya isu-isu yang tidak sedap terkait registrasi SIM ini semakin membuat warga bingung dengan kebijakan baru ini. Semoga pemerintah dan khususnya KEMENKOMINFO cepat tanggap dalam menangani hal ini.(Ari)

Related Posts:

Jurnalis Warga Harus Punya SOC Dalam Pemberitaan

Jurnalis Warga Paguyangan Mengkuti Workshop

Paguyangan (suarapaguyangan.com) - Seorang Jurnalis Warga (JW) tidak saja harus memahami dasar-dasar jurnalistik, memahami etika jurnalis, menulis sesuai Kaidah jurnalistik, tetapi juga harus mampu menjadi agen perubahan di desanya, ia juga di tuntut membuat berita yang menjadi perubahan atau Story Of Change (SOC).

Ungkap Koordinator Jurnalis Warga (KJW)  Brebes Adi Assegaf di sela-sela kegiatan Workshop Jurnalis Warga di Aula Kecamatan Paguyangan, Minggu (5/11/2017). 

Adi menjelaskan, maksud dari berita perubahan itu adalah berita yang ditulis oleh jurnalis warga dan mampu memberikan perubahan dari tulisan tersebut.

"JW diharapkan tulisannya bisa menjadi  Story Of Change (SOC) atau cerita perubahan bagi lingkungannya, misalnya JW mempublikasikan tentang akte untuk anak dari keluarga miskin, yang tadinya anak keluarga miskin itu tidak punya akta setelah JW mempublikasikan, akhirnya ada keberpihakan dari masyarakat untuk membantu anak tersebut dalam kepemilikan  dokumen tersebut," jelas Adi

Adi menambahkan, contoh lain SOC yakni JW mengembalikan  anak ke sekolah, dari anak yang tadinya tidak bisa bersekolah sekarang bisa bersekolah dengan di bantu JW. Berita itu tidak saja mengangkat subjek yang diberitakan, kepala desa, camat juga ikut terangkat.

Sementara itu, salah satu jurnalis warga dari Desa Pagojengan Ziadatul Ilmiah merasa bangga bisa bergabung dengan JW. 

" Saya bangga sekali bisa bergabung dengan JW , disamping tetap menulis juga bisa bantu sesama melalui pemberitaan yang berimbang, kedepan dirinya ingin membuat berita yang bisa menjadi SOC agar warga di desa tempat tinggalnya bisa terbantu dengan pemberitaan yang disampaikan," pungkasnya. (LA)

Related Posts:

JW Ikuti Workshop, Setiap Warga Adalah Pewarta.

Suasana Workshop Jurnalis Warga Kedua


Paguyangan (suarapaguyangan) - Semua warga bisa membuat berita atau dengan istilah lain setiap warga adalah pewarta.

Ungkap Bahrul Ulum, salah satu narasumber dalam acara Workshop Jurnalis Warga 2 yang dilakukan di Aula Kecamatan Paguyangan pada hari sabtu dan minggu, 4 hingga 5 november 2017.

Kegiatan ini dihadiri oleh 11 Jurnalis Warga (JW) dari 5 desa yang ada di Kecamatan Paguyangan, yaitu dari Desa Paguyangan, Wanatirta, Kedungoleng, Pagojengan, dan Cipetung.

Workshop JW ini menjadi kesempatan emas bagi para JW untuk mendapatkan berbagai ilmu menulis yang sesuai dengan kode etik jurnalis. JW bisa menggali berita dari warga sekitar yang menceritakan masalahnya ataupun melihat keadaan yang ada dilingkungannya.

Narasumber lainnya Ismail Fuad, Redaktur Harian Radar Tegal mengatakan, salah satu kegiatan jurnalis adalah melakukan reportase. 

" Reportase adalah proses peliputan peristiwa dengan mengumpulkan data dan fakta melalui sejumlah metode, dalam rangka menyusun (membuat) laporan, atau berita untuk memberi informasi kepada khalayak tentang lokasi, kejadian, situasi atau kegiatan sehingga mereka bisa mengetahui secara lengkap," katanya.

Selain menyampaikan tentang reportase, Ismail fuad juga memaparkan materi yang lain seperti dasar-dasar jurnalistik, foto jurnalistik dan kode etik jurnalistik.

Menurut Suharti salah satu JW dari Cipetung, kegiatan ini sangat mengesankan selain untuk pengalaman juga untuk belajar. (VS)

Related Posts:

Asistensi RKPDes Desa Wanatirta oleh Formasi

Tim Sebelas dan Formasi saat Asistensi RKPDes

Wanatirta- Asistensi ini bertujuan untuk memfinalisasi Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) Desa Wanatirta agar sesuai yang diharapkan dan nantinya menjadi percontohan untuk desa lain, isi RKPDes sudah bagus, namun disini saya memperbaiki sistematika penulisan agar berurutan, rapih dan menarik, karena jika tulisan rapi pembaca pun senang membacanya.

Demikian yg disampaikan Yusuf Murtiyono Direktur Forum Masyarakat Sipil (Formasi) saat pertemuan dengan Tim Sebelas, Selasa (31/11), di aula Balaidesa Wanatirta Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes.

Katub selaku Sekretaris Desa Wanatirta mengatakan, adanya asistensi RKPDes Desa Wanatirta dari formasi sangat membantu Pemerintah Desa Wanatirta.

" Terima kasih kepada Formasi karena bisa datang bertemu kita tim sebelas, untuk memberikan ilmunya tentang bagaimana cara menyusun RKPDes yang baik, dan bagaimana cara penulisan RKPDes yang menarik pembaca tentunya. Saya juga sangat senang sekali karena sekarang RKPDes Desa Wanatirta sudah sesuai yang di harapkan dan tim sebelas jauh lebih paham dari sebelumnya," katanya.

Acara asistensi RKPDes malam ini di hadiri oleh Tim Sebelas Desa Wanatirta, Co Formasi Asla Ahimah, S.Pd , Finance Program Eti Rohanah, S.Pd , dan Direktur Formasi Yusuf Murtiyono.

Trismiyati mengatakan, sebagai bagian dari tim sebelas dari kelompok selapanan saya sangat senang

" Kegiatan ini membuat saya mendapat banyak ilmu, yang tadinya saya kurang tentang sistematika penulisan RKPDes sekarang saya sudah paham, RKPdes Desa Wanatirta sekarang lebih menarik dan tertata dgn baik. (LA)

Related Posts: