SPTJM Sebagai Pengganti Akta Nikah Untuk Persyaratan Pembuatan Akta Kelahiran

Paguyangan (SuaraWargaPaguyangan.com) - Sebagian besar masyarakat Kabupaten Brebes belum mengetahui Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM). Surat keterangan ini sudah berjalan awal 2016 oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil), adalah surat pernyataan yang berfungsi sebagai pengganti akta nikah orang tua dalam pengurusan akta kelahiran.

Pemberlakuan SPTJM bagi WNI atau penduduk yang tidak dapat memenuhi persyaratan berupa, Surat keterangan lahir penolong kelahiran , akta nikah / kutipan akta perkawinan , Berita Acara (BAP) dari Kepolisian bagi anak tidak diketahui asal usul keberadaan orang tuanya dan dihapusnya  tanda tangan saksi kelahiran .

Hal ini dikatakan Slamet Sunarto , dari Disdukcapil dalam Forum Discussion Group  (FGD) Pengolahan Data BDT Fokus Pada Sasaran Indikator Penduduk Miskin dan PMKS yang Belum Memiliki Data Kependudukan (Akta Kelahiran ) Kabupaten Brebes di aula Kecamatan Paguyangan (29/08).

Dia menambahkan Capaian Akta Kelahiran dari keseluruhan penduduk Kabupaten Brebes yang baru mencapai 42,32% dan 64,46% untuk akta kelahiran 0 -18 tahun. Salah satu kendala pencapaian adalah belum dimiliki akta nikah oleh orang tua mereka.

"SPTJM salah satu solusi untuk meningkatkan cakupan akta kelahiran. Persyaratannya surat keterangan domisili dari desa dan surat pernyataan hubungan suami istri yang diketahui pihak desa," katanya.

Tetapi perlu diketahui juga oleh masyarakat bahwa akta kelahiran yang menggunakan SPTJM ada frasa yang mengatakan anak tersebut adalah anak hasil perkawinan yang belum disyahkan secara hukum negara.

"Untuk pasangan nikah siri yang mendapatkan akta kelahiran anaknya menggunakan SPTJM , nantinya akan didata dan diikutkan program isbath nikah," tambahnya.

Data yang digunakan untuk meningkatkan cakupan akta kelahiran dan kematian  menggunakan acuan data dari berbagai sumber yang valid. Data tersebut diambil dari Basic Data Terpadu (BDT), SIPBM, Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), Program Keluarga Harapan (PKH), Jaminan Kesehatan (Jamkes) dan Data Desa.

Menurut Hanung Basworo dari Lembaga Pengkajian & Pengembangan Sumberdaya Pembangunan (LP2S) Semarang,  melalui penggunaan data terpadu mekanisme penjaringan data dan penggunaan data lebih merata dan tepat sasaran.

"Kita sedang menjaring dari rata-rata dari Dinas Sosial, Dinas Kesehatan , Desa dan Kecamatan agar semua mendorong percepatan cakupan akta kelahiran ," katanya.

Beberapa contoh model dilakukan untuk meningkatkan cakupan akta kelahiran dan kematian seperti percepatan, penjangkauan dan pencegahan.   Disamping itu juga dilaksanakan melalui 4 pendekatan seperti model percepatan untuk yang belum punya dokumen kependudukan , model penjangkauan untuk masyarakat berkebutuhan khusus, model pencegahan pencatatan sipil dan pendaftaran penduduk sedini mungkin serta model universal semua penduduk terlayani adminduk.

"Dengan model percepatan dan pendekatan seperti diatas , juga percepatan lewat jalur pendidikan , kesehatan dan masyarakat,  cakupan akta kelahiran dan kematian akan mudah dicapai," pungkasnya. (BAS)

Related Posts:

Desa Cipetung mengalokasikan Anggaran Pendidikan Untuk Warganya

Cipetung (suarapaguyangan) - Pemerintah Desa (Pemdes) Cipetung mengalokasikan 4% Dana Desa untuk Pendidikan. Hal ini tentu menggembirakan menggembirakan bagi warganya dalam mengatasi masalah pendidikan .

Sutrisno  (50) Kepala Desa Cipetung mengungkapkan(24/8), hal ini sesuai yang diamanatkan undang-undang yang terkait dengan layanan dasar masyarakat yaitu pendidikan , kesehatan dan administrasi kependudukan .

"Kami menganggarkan 4% untuk Pendidikan , 4% untuk kesehatan dan 3 % untuk pelayanan administrasi kependudukan," katanya.

Walau terbilang masih minim, namun komitmen pemerintah Desa Cipetung untuk mengalokasikan untuk pelayanan dasar patut diberi apresiasi.

"Untuk bidang pendidikan kita konsentrasi pada alat peraga edukasi untuk Paud dan beasiswa untuk siswa miskin," tambahnya.

Sementara itu Khaerul Abidin  Kepala Bidang Pemerintahan, Sosial dan Budaya (Pemsosbud) dari Badan Perencanaan Pembangunan , Penelitian dan Pengembangan Daerah ( Baperlitbangda) menyambut gembira apa yang sudah dilakukan pemerintah Desa Cipetung. Tinggal bagaimana peruntukan dari alokasi dana tersebut.

"Sebetulnya kita sudah menghimbau kepada pemerintah Desa  tahun lalu tetapi kurang mendapat respon. Alhamdulillah untuk tahun ini sudah ada beberapa desa yang mengalokasikan ," katanya.

Diharapkan dengan adanya alokasi anggaran untuk pendidilan yang bersumber dari dana desa, angka putus sekolah bisa di tekan. Tentu ini sejalan dengan kegiatan yang dilaksanakan di Kecamatan Paguyangan yaitu Sistem Informasi Pendataan Berbasis Masyarakat  (SIPBM).

"Dari hasil SIPBM diperoleh data angka partisipasi sekolah di masyarakat. Dimana nanti desa bisa memberikan dana pendidikan untuk warganya yang kurang mampu," pungkasnya. (Sht/Bas)

Related Posts:

Jalan Penghubung Desa Cipetung , Sudah di Bangun Kembali

Cipetung  (SuaraWargaPaguyangan.com) -  Warga Desa Cipetung Kecamatan Paguyangan kini bernafas lega, ruas jalan penghubung desa kini sudah dibangun (13/8). Perlu diketahui kejadian tanah longsor (7/12/2016) mengakibatkan jalanan putus sepanjang 5 meter dengan kedalaman 10 meter.

Menurut Sutrisno (52) Kepala Desa Cipetung pembangunan jalan yang didanai APBD Kabupaten Brebes sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.  Desa penghasil sayur mayur untuk memasok kebutuhan di wilayah Brebes , Tegal dan Banyumas, manfaat jalan tersebut untuk mendongkrak ekonomi masyarakat.

" Jalur ini sangat vital untuk kami yang wilayahnya berada di punggung bukit. Jika jalan ini putus maka aktivitas kehidupan warga akan terganggu," katanya.

Mengingat wilayahnya yang berada dikawasan pegunungan yang rawan longsor, dia berpesan agar warganya menjaga lingkungan.

"Kami selalu mengingatkan kepada warga untuk menjaga kelestarian alam , dengan menanam pohon di sekitar rumah atau di ladang mereka, sebagai upaya pencegahan longsor," tambah nya.

Akhmad Sulton  (14) pelajar kelas VIII Mts sangat merasakan manfaat perbaikan jalan ini. Kalau dulu dia harus berjalan atau diantar sampai batas desa untuk sekolah, kini dia menunggu jemputan sekolah hanya di depan rumah.

"Sekarang sekolah nggak buru-buru karena mobil jemputan langsung sampai depan rumah. Kalau dulu harus bangun pagi-pagi karena harus kedepan dulu nunggu jemputan," katanya.

Bukan hanya pelajar dan warga saja yang merasakan manfaatnya, supir angkutan pembawa sayur mayur dari luar kota pun merasakan juga. Rakhmat (35) supir asal Ajibarang, Banyumas kini tidak mengalami kendala dalam membawa hasil sayur dari Cipetung . Dia bisa masuk ke tempat pengepul sayuran.

"Akses jalan sudah bagus sangat membantu kami dalam mengangkut hasil bumi. Ini membantu kami dalam mendistribusikan produk pertanian yang dihasilkan Desa Cipetung," katanya. (Rt/BAS)

Related Posts:

Warga Cipetung Antusias Sambut Lomba Kebersihan Lingkungan

Cipetung (suarawargapaguyangan.com) – Warga Desa Cipetung, Kecamatan Paguyangan antusias sambut HUT RI ke-72 (10/8).  Mereka menghiasi rumah dengan berbagai pernik khas Kemerdekaan seperti membuat hiasan dari plastik, mengecat pagar halaman dan membuat hiasan di sepanjang jalan dan gang masuk.

Suasana semarak dan meriah sudah tampak dari mulai masuk jalan desa sampai gang yang menuju pemukiman warga.  Semua masyarakat menyambutnya dengan berbagai cara, sehingga suasana kampung indah dan sedap dipandang mata.

Soetrisno (52} Kepala Desa Cipetung menjelaskan , sudah menjadi tradisi di desanya menghias rumah dan lingkungan setiap bulan Agustus . Ini yang akhirnya mendorong pihak desa untuk membuat lomba kebersihan lingkungan.
“Lomba ini sebagai wujud apreiasi desa kepada warga yang sudah berinisiatif membersihkan lingkungan dan menghiasi dengan berbagai hiasan ala Agustusan,” katanya.

Titik berat lomba didasarkan kepada kebersihan lingkungan seperti kebersihan disekitar rumah, pengadaan tong sampah, sanitasi  dan pengelolaan sampah. Sehingga diharapkan dengan lomba ini selain keindahan yang didapat juga kebersihan dan lingkungan yang sehat.

“Ini momentum yang pas buat kami , ibarat pepatah sambil menyelam minum air. Masyarakat dengan kesadaran sendiri secara swadaya membersihkan lingkungan, pihak desa dengan mudah masuk mensosialisasikan kebersihan lingkungan dan memberi apresiasi,” tambahnya.

Dengan dukungan dari Pemerintah Desa Cipetung membuat masyarakat semakin semangat mempercantik lingkungan. Ide-ide dituangkan untuk membuat hiasan-hiasan dari bahan yang ada di sekitarnya. Dari hiasan kresek, plastik yang diisi air berwarna-warni sampai gapura dari bambu.

Suharti (38) salah seorang warga sangat antusias menyiapkan perlengkapan untuk menghiasi halaman rumahnya. Dibantu anak dan suaminya dia meyusun plastik dan kresek untuk dijadikan hiasan.  Bagi dirinya sebagai Kader Posyandu merasa terbantu dengan adanya kegiatan ini, masyarakat langsung praktek terkait kebersihan lingkungan.

“Mungkin kalau tidak ada kegiatan seperti ini akan sulit untuk memberikan pengertian tentang kebersihan lingkungan. Namun dengan adanya kegiatan ini kita lebih mudah memberikan pemahaman terkait kebersihan lingkungan karena langsung praktek,” katanya.
Lain lagi yang dikatakan Mbah Sainah (67) yang sehari-harinya bekerja di ladang , acara Agustusan tahun ini lebih semarak. Hiasan warna-warni di sekitar rumah dan lingkungannya menjadi hiburan tersendiri.

“Agustusan ini lebih meriah tak kalah hebat dengan yang di kota, walau kami tinggal di desa namun semarak kemerdekaan sangat kami rasakan,” katanya. (SHT/BAS)

Related Posts: