Abid, 4 Tahun, Ingin Bisa Berjalan dan Sekolah

Kedung Oleng (suarapaguyangan.com) – Gema Takbir berkumandang menyambut datangnya Hari Lebaran disambut suka cita umat Muslim di seluruh dunia. Namun tidak demikian dengan pasangan Agus Toni (37) dan Astuti (35) warga Dawuhan Rt02/05 Kedung Oleng, Paguyangan Brebes. Disaat umat muslim berbahagia menyambut Lebaran, memakai baju baru, saling bermaaf-maafan berkumpul bersama keluarga, aku berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan buah cinta kami yang kedua.
Berlebaran di negeri seberang jauh dari sanak keluarga apalagi ditengah kondisi hamil tua tentu sangat tidak mengenakan, sedih dan sangat menyiksa. Saat itu kami memang merantau di negeri seberang, tepatnya di Kampung Monggo Limo Serian, Serawak , Malaysia.
Hari Selasa , 6 Agustus 2013, pukul 12.05 lahir anak kami yang kedua, kami berinama Muhammad Abid Salman. Kelahirannya kami sambut dengan suka cita , sebagai hadiah Lebaran yang terindah. Namun kebahagian kami tak berlangsung lama, ketika kami mendapati anak kami lahir dengan kaki yang tidak sempurna. Rasanya kami ingin menjerit dan menangis sekencang-kencangnya­ mendapat cobaan ini. Apa yang telah kami perbuat Ya Allah, sehingga Engkau memberi kami cobaan begitu berat.
“Ibu mana yang tidak sedih mendapati anaknya yang baru lahir cacat fisiknya, tentu sedih karena setiap orang tua pasti menginginkan kesempurnaan fisik dan mental untuk anak-anaknya. Namun Allah memberi kami ujian lewat Abid, kami harus ikhlas menerima karena anak adalah amanah Allah,” katanya.
Kami sadar Allah pasti mencintai kami dengan menitipkan Abid untuk kami rawat walau dengan fisik yang tidak sempurna. Kami membawa anak kami ke rumah sakit di Kuching untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik mengingat fasilitasnya lebih lengkap. Karena kami menginginkan yang terbaik untuk Abid.
“Walau kami ikhlas menerima semua ini, namun terkadang suka sedih memikirkan masa depan dia, bagaimana dia kelak sekolah. Senyum manis selalu kami berikan kepada Abid walau hati ini menangis,” tuturnya.
Beruntung saya punya suami yang sangat sabar dan pengertian, dia selalu mensupport saya. Pengobatan rutin dilakukan seminggu sekali, namun semakin lama keuangan kami tidak mencukupi. Akhirnya kami putuskan kembali ke tanah air, berharap dapat pengobatan lebih baik baik tradisional maupun medis dengan biaya lebih murah.
Namun kenyataan yang kami hadapi tidak seperti yang kami bayangkan, Abid tidak mendapatkan pengobatan yang baik karena kondisi ekonomi yang tidak mendukung. Jangan untuk berobat ke dokter untuk makan sehari-hari saja susah.
“Pernah saya dimaki-maki waktu berobat alternatif di Cilacap, saya dibilang tidak bersyukur pada Allah hanya karena mempunyai anak yang tidak sempurna,” ujarnya sedih.
Kini dia hanya berharap ada yang membantu pengobatan anaknya, yang tidak normal pada kakinya sehingga tidak bisa berjalan. Secara fisik dan motorik dia normal, hanya ada kelainan pada telapak kakinya.
Kepala Desa Kedung Oleng, Salim Usman membenarkan banyak warganya yang mempunyai kekurangan fisik. Namun pihak desa belum mampu memberikan perhatian yang maksimal untuk warganya.
“Pihak Desa belum bisa membantu pengobatan karena keterbatasan anggaran, namun kami membantu buatkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) agar bisa dibuatkan Jamkesda. Kami kami inventarisir kaum disabilitas di desa ini, agar terdata dan mendapat penanganan dari desa dan pemerintah daerah,” katanya. (Astt/Bas)

Related Posts:

Sempitnya Lahan, Warga Pilih Buang Sampah di Sungai

Kedungoleng-  Sempitnya lahan yang dimiliki warga penduduk di Dusun Kedawung, Desa Kedungoleng pada rumah hunian, mereka memilih buang sampah di sungai, atau di pekarangan orang lain, semua jenis sampah ada dalam satu tumpukan yang sangat mengganggu penglihatan kita, baik sampah organik maupun nonorganik tercampur tidak karuan. Tidak adanya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah, ini dibarengi dengan kurangnya sosialisasi dari pihak terkait.

Pantauan langsung dilokasi, para ibu rumah tangga sudah  berinisiatif mengumpulkan sampah rumah tangga mereka dalam satu wadah, yang kemudian kalau sudah penuh dibuang ketempat tertentu. Nah disinilah yang membuat kita cengang. Ternyata sampah dibuang ke pinggiran kali, ada juga yang langsung membuangnya ke kali. Tidak hanya satu dua orang tapi hampir satu lingkungan membuang sampahnya ketempat yang sama.
Kondisi Sampah dibuang di pinggir kali

"Saya dan warga yang lain tidak punya lahan kosong untuk membuat lubang/bak sampah sendiri, ukuran rumah saya saja sudah mepet sama tembok tetangga. Mau tidak mau saya harus mengumpulkan sampah rumah tangga saya dalam plastik besar. Setelah penuh baru saya membuangnya kesana,"kata Aminah, salah warga Desa Kedawung,RT.005/003, Senin (15/5).

Akibat sampah yang dibuang sembarangan saat musim penghujan bisa menyumbat saluran air yang ada. Air yang seharusnya mengalir kesalurannya, bisa naik ke permukaan jalan dengan sangat deras. Ini dikarenakan saluran air yang tersumbat oleh sampah-sampah warga. 

Semoga ada pihak desa atau kecamatan nantinya memberikan sosialisasi dan mencarikan solusi khususnya warga yang memiliki hunian dirumahnya sempit dan tidak ada tempat pembuangan sampah dirumahnya, harus kemana mereka membuangnya. (titin)

Related Posts:

Puluhan Tahun Djuhardi Menempati Lahan Milik Warga, Ingin Gubugnya Layak Huni

Paguyangan (suarapaguyangan.com) - Dimasa modern seperti ini, kebanyakan orang sudah berlomba-lomba untuk memiliki barang mewah dari elektronik sampai kendaraan. Namun tidak bagi Djuhandi (58), bersama istrinya Asmi (48) dan seorang cucunya, warga dukuh kedawung, desa wanatirta. Yang bahkan untuk makan saja seringkali ia peroleh dari belas kasih warga setempat. "Kadang kalau buat makan dikasih sama tetangga, pernah dulu ngga makan dua hari sampai istri saya nangis pengin makan dan akhirnya dikasih sama tetangga," tutur Djuhandi, Sabtu (13/5).


Selama ini, Djuhandi dan keluarga belum pernah menerima bantuan dari pemerintah, kecuali Beras Miskin (RASKIN). Asmi menuturkan, bantuan yang mereka terima hanya dari warga setempat yang iba melihat kondisi keluarganya.


Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Djuhandi bekerja sebagai buruh bangunan dan kadang juga sebagai tukang servis elektronik, dibantu istrinya yang bekerja sebagai buruh di ladang tetangga. "Kerja ikut proyek kalau, kadang disuruh betulin televisi tetangga yang rusak, kalau ngga ada ya nganggur, paling istri yang kerja makannya suka kasihan sama dia." Lanjut Djuhandi.


Rumah yang mereka tempati sekarang jauh dari kata layak. Bangunan tersebut berdiri diatas tanah milik warga setempat, "sedih rasanya kalau hujan, air masuk pernah juga ular masuk kedalam rumah, pengin dapat bantuan buat betulin rumah," ungkapnya.


Anak semata wayangnya sudah meninggal karena sakit paru-paru. Mereka tidak pernah membawa anaknya berobat ke rumah sakit maupun puskesmas karena keterbatasan biaya dan tidak ada jaminan kesehatan dari pemerintah yang mereka miliki. Djuhandi berharap kedepan mendapat perhatian berupa bantuan dari pemerintah, baik dari pemerintah kabupaten maupun pusat. (EU/LH)

Related Posts:

Jurnalis Warga Wadah Aspirasi Masyarakat

Paguyangan (suarapaguyangan.com)- Informasi sekarang serba online, dan kita dituntut untuk belajar dan memilah dan memilih informasi yang ada, seorang warga pun tanpa batas bisa menyampaikan informasinya dimedia digital ini, sehingga sangatlah tepat hadirnya warga sebagai pewarta (jurnalis Warga) (JW), dimana bisa dijadikan wadah bagi masyarakat untuk mempublikasikan kondisi yang terjadi dilingkungannya, sekaligus untuk informasi pelayanan publik serta program-program pemerintah untuk diketahui masyarakat banyak.


Demikian disampaikan Camat Paguyangan Kabupaten Brebes, Akhmad Hermanto, S.IP. pada acara workshop jurnalis warga di aula Kecamatan Paguyangan. Kamis (11/5.


Kami sangat mengapresiasikan kegiatan semacam ini, bisa sebagai wadah warga dalam menyampaikan informasi dilingkungannya, juga sebagai tempat untuk mempublikasikan kebijakan dan program pemerintah. Dengan penyampaian yang sesuai kaidah jurnalistik," imbuhnya.


Sementara itu, salah satu narasumber workshop Bahrul Ulum, SE, MSi mengatakan seorang pewarta (jurnalis warga) sebagai kontrol sosial dari masyarakat, juga advokasi untuk menyuarakan persoalan layanan publik, kaum marginal (warga yang tidak bisa mengakses layanan publik atau tidak beruntung akan kebijakan pemerintah), termasuk persoalan kemanusiaan.


"Dengan semangat jurnalis warga bertindak lokal berdampak global, diharapkan orang-orang yang dilatih pada workshop ini, nantinya bisa menjadi penyuara bagi lingkungannya, seorang pewarta warga juga harus mengetahui teknik penulisan jurnalistik termasuk kode etik jurnalistik,"katanya­.


Selanjutnya, Koordinator Jurnalis Warga Paguyangan dan Belik Masrukhi Harun mengatakan, workshop ini adalah program dari Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) yang merupakan mitra strategis Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan (Kompak). Dengan bertujuan utama mengangkat isu-isu tentang perempuan, kaum difabel dan anak buruh migran. termasuk isu tentang pendidikan, kesehatan, sosial budaya serta apa saja yang ada dilingkungan masyarakat.


Mereka yang dilatih keterwakilan dari 3 desa, masing-masing desa terpilih mengirimkan delegasinya lima orang yakni Desa Wanatirta, Kedungoleng dan Cipetung Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes. (Her/Bass)


Related Posts:

Koordinator KPMD Gelar Konsolidasi Antar Anggota

Paguyangan (cbmnews.net) – Koordinator kader pemberdayaan masyarakat desa (KPMD) Kecamatan Paguyangan, Brebes mendorong kinerja KPMD di masing-masing desa, agar bekerja berdasarkan tupoksinya sebagai mitra Pemerintahan Desa serta memahami batasan-batasan kerja KPM. Demikian disampaikan Kasi Pemdes Kecamatan Paguyangan, saat acara konsolidasi tersebut, Rabu (1/2/2017).

Kasi Pemdes Kecamatan Paguyangan, Sutardi dalam sambutannya mengatakan, KPMD harus benar-benar difungsikan di tiap desa dan bukan hanya namanya ada tapi tidak ada kinerjanya. Juga melakukan pengawasan terhadap program kerja Pemerintah Desa.

“KPMD harus benar-benar menjadi wakil masyarakat, membantu pemerintahan desa dalam hal perencanaan dalam RPJMDes dan RKPDesa dan mengawasi jalannya program kerja desa,” ungkapnya (1/2).

Sutardi melanjutkan, ke depan para kader KPMD bekerja dengan lebih cerdas dan ikhlas serta semangat membangun desanya masing-masing dengan bekal ilmu.
“setelah mengikuti acara konsolidasi ini, yang didalamnya juga diberikan contoh dalam pengerjaan RPJMDes dan RKPDes, mohon untuk saling berlomba-lomba dalam membangun desa,” tambahnya.

Koordinator KPMD Kecamatan Paguyangan, Saryono Ardhi mengatakan, Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat (SIPBM) kepada peserta konsolidasi KPMD. Menurutnya, dengan ditunjuknya Kecamatan Paguyangan sebagai Pilot Project SIPBM maka hal tersebut membutuhkan kader yang siap.

“Kecamatan kita dijadikan Pilot Project SIPBM, maka dibutuhkan kader-kader yang siap melaksanakan program tersebut, karena program tersebut dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat,” katanya.

Dwi Elysa salah satu anggota KPMD dari desa Kedung Oleng berharap konsolidasi KPMD tersebut agar diadakannya minimal setahun sekali agar semua anggota KPMD mengetahui tupoksi atau tugas masing-masing.

“Stelah mengikuti acara ini kami jadi tahu kerja dan batasan-batasan anggota KPMD, semoga acara konsolidasi ini bisa diadakan minimal setahun sekali”. (Her)
iklan
 

Related Posts:

Curug Cipetung, Embrio Wisata Menjanjikan

Cipetung (cbmnews) – Pemerintah Desa Cipetung, Kecamatan Paguyangan sedang berencana mengelola Curug Cipetung menjadi obyek wisata. Berbagai persiapan dilakukan untuk mewujudkan keinginan tersebut.
Curug Cipetung, Desa Cipetung, Paguyangan, Elok dan Alami
Curug Cipetung yang berada di bibir tebing kawasan hutan pinus milik Perhutani sangat indah dan eksotik. Curug dengan ketinggian 40 meter dengan kucuran air yang besar dan sebuah kolam besar sebagai penampungan memang layak menjadi destinasi wisata baru di Kabupaten Brebes.
Pemdes Cipetung sedang mempersiapkan infrastruktur jalan maupun perizinan, baik dari Perhutani maupun Dinas terkait. Hal yang paling mendesak adalah pembuatan Perdes sebagai payung hukum sebagai landasan untuk melaksanakan kegiatan ini.
Sutrisno (55) tahun Kades Cipetung mengatakan animo masyarakat yang begitu kuat untuk mengelola curug ini menjadi pertimbangan untuk merealisasinya. Respon positif dari Perhutani sebagai pemilik lahan menambah semangatnya untuk mengeksplore Curug Cipetung.
“Masalah perizinan sedang kami urus, kami sedang membuat akses jalan dari jalan raya menuju lokasi untuk mempermudah pengunjung. Kami akan kelola wisata ini menjadi wisata alam alternatif di wilayah Paguyangan, dimana ada curug, menara pandang dan berkuda,” ujarnya.
Akses jalan menuju lokasi belum sampai objek perlu dipikirkan pembuatannya karena melintas tebing dan ladang warga. Untuk saat ini bila kita ingin mencapai lokasi menggunakan jalur sungai karena ini yang termudah. Tapi nanti akan dibuat jalan melingkar dari punggung bukit untuk mencapai lokasi.
“Ini masih wisata embrio, masih banyak yang kami siapkan dan penanganan. Kami masih butuh masukan dan dukungan dari semua pihak. Kami minta bantuan Jurnalis Warga CBM untuk membantu proses kelahiran embrio wisata menjadi obyek wisata kebanggaan Brebes,” tambahnya.
Tim ekspedisi CBM-Cipetung yang terdiri dari 4 orang Auky, Eko, Roni dan Supri merasakan beratnya medan yang ditempuh, tapi melihat potensi dan keindahan alam semua penat sirna.
“Di bukit ini pas di tengah ladang akan dibuat menara pandang, disini kita akan lihat pemandangan Curug Cipetung di tengah hutan pinus melambai-lambai memanggil kita. Disisi timur akan terlihat liukan sungai Keruh dan perbukitan cadas yang menantang, sangat indah,” Kata Auky salah satu anggauta tim.
Masyarakat Cipetung tak kalah antusias dengan rencana pembukaan obyek wisata ini dan berharap agar segera terealisasi. Agar masyarakat Cipetung ada lapangan kerja baru dan pemberdayaan kaum wanitanya.
“Jika Curug Cipetung dibuka akan banyak lapangan kerja baru, dari parkir, warung yang menjual makanan dan sayuran sebagai komoditi desa ini. Dan ibu-ibu ada tambahan pendapatan dengan buka usaha warung,” kata Sukar (40) warga Cipetung.
Sedangkan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Brebes menyambut baik dan sangat merespon ketika dikonfirmasi tentang rencana ini.
“Dari Dinparbudpora sangat mendukung apapun yang mendukung kemajuan wisata Brebes. Tetapi harus melalui proses dan tahapan yang sudah ditentukan. Harus dari inisiatif warganya dan Pemdes ditandai dengan adanya Perdes nya untuk payung hukum. Agar dari Dinas Pariwisata mudah melakukan pengawasan dan pembinaan. Agar jelas siapa pengelolanya, kawasan ini harus di kelola Badan Hukum bukan perorangan,” ujar Slamet Riyadi dari Dinbudpar Kabupaten Brebes.
Kebijakan Dinas Budaya dan Pariwisata tentu untuk kepentingan semua pihak baik dari Pemerintah Daerah, Masyarakat atau pengelola dan wisatawan. Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) sebagai satu elemen untuk Desa Wisata diharapkan mampu berperan dalam mengelola dan mengembangkan wisata di daerahnya. Melalui Pokdarwis Dinbudpar mensosialisasikan kebijakan dan memberikan pelatihan managemen serta promosi dan pengembangan wisata. (BAS)
iklan

Related Posts:

Di Cipetung Lahan Perhutani Mulai 2017 Boleh Beralih Tanam Kopi

Cipetung (cbmnews) – Ratusan petani sayur penggarap lahan Perhutani di Desa Cipetung, Kecamatan Paguyangan mulai tahun depan beralih tanam kopi. Hal ini dilakukan karena Pihak Perhutani mengkonversi jenis tanaman yang ditanam pada lahan miliknya. Hal itu terungkap saat Kades Cipetung , Sutrisno memberikan sosialiasi kepada warganya, di Balai Desa Senin, 19 Desember 2016.

Ada sekitar 300 hektare lahan yang digarap petani, dan itu semua yang akan dikonversi dari sayuran dengan tanaman kopi. Profit sharing dari program ini adalah 70% untuk petani dan 30$ untuk Perhutani. Walaupun sudah ditanami kopi masyarakat masih diizinkan melakukan tanaman tumpang sari.

Kawasan hutan harus tetap dijaga dan dilestarikan agar bisa memberikan kehidupan bagi warga sekitarnya. Jika masyarakat sekitar hutan meningkat taraf hidupnya maka akan memberikan kontribusi bagi kedua belah pihak, Hal ini yang mendasari pelaksanaan program ini.

“Perhutani menyediakan bibit kopi unggulan jenis Robusta, untuk mendapatkannya petani mengganti biaya transport Rp. 2.225 / batang. Untuk 1 hektare lahan dibutuhkan 1.600 bibit dengan masa panen 4 tahun,” kata Sutrisno Kades Cipetung.

Suatu kebijakan pasti menimbulkan pro dan kontra, begitupun petani Cipetung. Sebagai masyarakat yang dinamis wajar ini terjadi , karena menyangkut kehidupan mereka. Seperti halnya Ryan (25) yang merasakan gamang dengan kebijakan ini.

“Yang saya takutkan adalah pemasaran hasil panennya, kami takut produksi banyak tapi gak bisa dipasarkan. Jadi sia-sia nanti kami sekeluarga makan apa?,” katanya.

Namun semua ketakutan warga di jawab dengan penuh keyakinan, bahwa pemasaran produk kopi tidak masalah. Pihak desa yang akan jadi pengepul untuk membeli hasil kopi petani.

“Bapak-bapak tidak usah takut memasarkan hasil panen kopi, karena kami yang akan membeli. Kami sudah dapat mitra untuk menampung hasil kopi bapak dari Wonosobo dan Pengalengan,” ujar Sutrisno.

Setelah mendapat jaminan dari kepala desa, masyarakat menjadi tenang. Dalam waktu dekat Kepala Desa dan wakil dari petani akan melakukan study banding di Pengalengan. Hal itu dilakukan agar petani mengetahui betul proses pengelolaan tanaman kopi, dari mulai penanaman, perawatn sampai panen.

Jika semua sudah siap Januari 2017 konversi tanaman kopi dilaksanakan, nantinya masyarakat akan menikmati hasilnya. Untuk jangka pendeknya masyarakat masih bisa menanam dengan sistem tumpangsari , dan untuk jangka panjang petani akan menikmati hasil panen kopinya. Untuk perhutani sendiri akan terjaga dan terawat tanaman pinusnya. (BAS)

Related Posts:

PKH Paguyangan Gelar Lomba Tumpeng


Paguyangan – Pelaksana Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes menyelenggarakan lomba menata dan menghias nasi tumpeng dengan peserta lomba dari perwakilan kelompok Keluarga Penerima Manfaat PKH seluruh kecamatan di wilayah setempat, Kamis (26/1).

Tujuan lomba ini untuk melestarikan tradisi membuat Tumpeng dan sekaligus ajang silahturahim para ibu Kelompok KPM se Kecamatan.

Koordinator PKH Paguyangan Akmari mengatakan lomba menghias tumpeng ini bagian dari turut memeriahkan Peringatan HUT Kabupaten Brebes ke 339 Tahun.

“Juara pertama Lomba Menghias Tumpeng akan diberikan kepada Muspika dan disajikan langsung dalam acara tasyakuran panitia HUT Kabupaten tingkat Kecamatan,” katanya.
Selanjutnya Ketua Panitia Muamar Husni Mubarok mengatakan, kegiatan ini salah satu peran serta pelaksana PKH Kecamatan Paguyangan untuk memeriahkan hari jadi Kabupaten Brebes setiap tahunnya.

Dewan Juri Lomba Tumpeng terdiri dari Ketua Tim Penggerak PKK, petugas Gizi Puskesmas dan Dinas Sosial.
” Unsur Penilaian meliputi Kreasi, Cipta Rasa dan Cara Penyajian dengan waktu penataan selama 60 menit,” terangnya.

Untuk Juara III Lomba Menghias Tumpeng kelompok KPM Desa Paguyangan, Juara II Desa Winduaji, dan Sebagai Juara I Desa Wanatirta Jumlah 702.
Para Juara mendapatkan Thropi, Piagam Penghargaan dan Uang Pembinaan. (Akmari)

Related Posts:

Kecamatan Paguyangan Jadi Pilot Project SIPBM

Paguyangan (cbmnews.net) – Data Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat (SIPBM), dapat dijadikan bahan untuk penyusunan perencanaan pembangunan baik Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDes) ataupun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) lebih terarah dan berkeadilan.

Demikian disampaikan oleh Khaerul Abidin, MM selaku Kabid Pemerintahan Sosial Budaya (Pemsosbud) Badan Perencanaan Penelitian Pembangunan Daerah (Baperlitbangda) Kabupaten Brebes, pada acara sosialisasi SIPBM di aula Kecamatan Paguyangan, Selasa (4/4).

Khaerul Menjelaskan, SIPBM diawali pada tahun 2012 di dukung dari dana Unicef dengan mengambil 4 Kecamatan, dimana SIPBM yang awal adalah fokus pada pendidikan saja namun SIPBM sekarang adalah Pembangunan yang lebih menyeluruh, dimana setelah dianggap penting, pemkab mengalokasikan replikasi SIPBM. Adapun replikasi SIPBM dari dana APBD tahun 2017 yakni semua desa di Kecamatan Paguyangan.

“Data SIPBM ini diambil dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat yang cakupan datanya berupa pendidikan, sosial ekonomi, kesehatan, kependudukan dan capil, air dan sanitasi, perumahan dan perlindungan anak,” kata Khaerul.

Menurut Khaerul, hasil dari pendataan SIPBM nantinya akan dibuatkan buku saku sehingga mudah untuk dibawa oleh Pemerintah Desa untuk melakukan rencana aksi. Selain itu bisa untuk menentukan prioritas program pembangunan di tingkat Desa, sehingga Dana Desa yang jumlahnya sangat besar sekarang ini bisa tepat sasaran dan tepat guna.

Camat Paguyangan, Akhmad Herwanto, SIP menyambut baik SIPBM yang akan dilaksanakan di seluruh Desa se Kecamatan Paguyangan.
“SIPBM ini sangat bagus sekali outputnya untuk pembangunan di Desa, dan kami merasa senang karena Kecamatan Paguyangan menjadi pilot project SIPBM ini, kami berharap seluruh masyarakat Kecamatan Paguyangan mampu bekerjasama sehingga nanti hasilnya jufa bisa dirasakan dan tentunya agar bisa menjadi contoh untuk Kecamatan lainnya,” Tandasnya.

Related Posts: